Showing posts with label Fakta. Show all posts
Showing posts with label Fakta. Show all posts

Saturday, February 13, 2016

Protestan dan Katholik Sama-Sama Nyembah Yesus, Tapi Ibadahnya Kenapa Terpisah Ya?



Protestan dan Katholik Sama-Sama Nyembah Yesus, Tapi Ibadahnya Kenapa Terpisah Ya?

Kita semua pasti sudah tahu jika orang protestan dan Khatolik memiliki perbedaan mendasar ttg kepercayaan mereka, meski tuhannya sama sama Yesus tetapi tempat ibadahnya terpisah. Lalu dasar apa yang membedakan keduanya? Ada yang mengatakan jika umat protestan ini sudah tidak lagi mengikuti perilaku-perilaku rasul terdahulu dan masih banyak perdebatan hingga kini. mari kita simak apa saja perbedaannya:

Pertama-tama harus kita luruskan kesalah-pahaman banyak umat terhadap istilah “Kristen”.

Walaupun sebenarnya nama Kristen itu sendiri adalah buah dari segala hasil rekayasa Paulus, namun umat Kristen mendefinisikannya sebagai ajaran yang dibawa oleh Yesus Kristus (menurut mereka; Nabi Isa dalam Islam).

Karena perbedaan pendapat para pengikutnya, Kristen akhirnya terpecah menjadi tiga aliran (gereja) besar, yaitu Kristen Ortodoks (Kristen Koptik di Mesir, Ortodoks Yunani dan Rusia), Kristen Katolik, dan Kristen Protestan. Jadi menurut umat kristen, adalah salah bila kita menganggap bahwa Kristen identik dengan Protestan saja.

Misalnya ada yang bertanya, “Kamu Kristen apa Katolik?” Menurut mereka ini adalah pertanyaan yang salah, sebab dari pengertiannya, maka Katolik pun sebenarnya termasuk Kristen juga.

Tapi benarkah demikian? Coba perhatikan yang berikut ini:

Ajaran Katolik dan Protestan berpisah karena perbedaan-perbedaan mereka yang sudah tidak mungkin disatukan lagi. Berikut adalah PERBEDAAN antara kedua ajaran tersebut.

1. Katolik mengakui Paus, Protestan tidak
Ini adalah perbedaan paling utama antara Kristen Protestan dan Katolik. Paus adalah pemimpin tertinggi umat Katolik. Paus bertahta di Vatikan, Roma. Paus pertama adalah St. Petrus, pemimpin dari ke-12 murid Yesus. Dari kemunculan ajaran Kristen sejak abad pertama hingga sekarang sudah ada sekitar 300-an Paus yang menduduki tahta vatican. Paus sekarang adalah Paus Fransiskus I yang menggantikan Paus Benedictus XVI. Namun ajaran Protestan tidak mengakui Paus dan tidak memiliki pemimpin tertinggi. Alasannya dapat ditelusuri dari sejarah perkembangan Kristen abad pertengahan di Eropa.

Pada zaman itu, Paus Leo X ingin membangun gereja terbesar dan terindah di dunia yang disebut Basilika St. Petrus di Vatikan (hingga saat ini gereja tsb masih ada). Paus Leo X kemudian melakukan hal-hal yang di belakang hari mereka akui sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Katolik sendiri. Yang dimaksud adalah mengumpulkan uang guna mencukupi dana pembangunan gereja tersebut,.salahsatunya dengan cara menjual surat penghapusan dosa. Hal ini diprotes oleh seorang pendeta bernama Martin Luther yang akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dari gereja Katolik. Karena memprotes gereja Katolik inilah kemudian Martin Luther dan pengikutnyaka disebut sebagai umat “Protestan”.

2. Umat Katolik membuat tanda salib, umat Protestan tidak
Cara termudah membedakan umat Katolik dan umat Protestan adalah dengan memperhatikan saat mereka makan. Sebelum makan, biasanya umat Katolik membuat tanda salib, sedangkan umat Protestan tidak (cuma berdoa biasa). Tanda salib ini digunakan sebelum dan sesudah berdoa. Tanda salib dibuat dengan tangan telunjuk kanan menyentuh dahi – dada – bahu kiri – bahu kanansecara urut.

3. Perbedaan kitab suci
Apakah nama kitab suci umat Kristen? Kita sering latah ikut “keseleo lidah” bila mendenger ada yang menjawab kitab suci ajaran Kristen adalah Injil. Sebenarnya nama kitab suci umat Katolik dan Protestan itu sama, yaitu Alkitab. Injil adalah bagian dari Alkitab yang khusus menceritakan kehidupan Yesus. Alkitab umat Katolik dan Protestan ternyata berbeda. Alkitab Katolik lebih tebal daripada Alkitab Protestan sebab di dalam Alkitab Katolik ada tambahan 12 kitab yang dinamakan Deutero-Kanonika. Kitab-kitab tersebut tidak diakui kebenarannya dalam ajaran Protestan. Implikasi dari tidak diakuinya kitab-kitab ini, umat Protestan tidak mempercayai adanya “Api Penyucian” atau “Purgatory” (wilayah di antara surga dan neraka) yang dipercayai oleh umat Katolik, sebab doktrin ini cuma ada di kitab Deutero-Kanonika.

4. Masalah penafsiran kitab suci
Jika kitab sucinya saja sudah berbeda, apalagi penafsirannya! Dalam Katolik, umat biasa tidak boleh menafsirkan kitab suci. Satu-satunya yang boleh menafsirkan kitab suci hanyalah Magisterium, yaitu para ahli agama yang berpusat di Roma. umat-umat Katolik di seluruh dunia tinggal mengikuti saja penafsiran Magisterium tersebut dan tidak boleh menafsirkan kitab suci menurut pengertian mereka sendiri. Sedangkan menurut ajaran Protestan, semua umat punya hak yang sama dalam menafsirkan kitab suci. Hal itu bukan monopoli pemuka-pemuka agama saja.

Sekilas kelihatannya lebih "enak" ajaran Protestan, sebab lebih bebas. Namun ternyata ada dampak signifikannya. Umat Katolik di seluruh dunia lebih bersatu karena memiliki satu pendapat yang sama tentang kitab suci. Jadi, menurut mereka di dunia ini ajaran Katolik cuma ada satu dan tidak terbagi-bagi menjadi aliran-aliran lain seperti dalam protestan.

Sebaliknya kaum Protestan yang jika dihitung-hitung sebenarnya jumlah pengikutnya lebih banyak dari Katolik, terpecah-pecah menjadi aliran-aliran yang lebih kecil yang disebut “denominasi”. Aliran-aliran ini muncul karena perbedaan penafsiran antara satu kelompok dengan kelompok lain, misalnya ada GPIB, Kharismatik, Pentakosta, Metodis, Baptis (GBI), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Batak (HKBP), Adven, Mormon,dan lain-lain. Dewasa ini, perbedaan antar kristen di seluruh dunia sudah mencapai lebih dari 34.000 sekte (denominasi).

Implikasi praktisnya, umat Katolik dapat bebas beribadat di gereja Katolik manapun. Mau di Jakarta, Bandung, Malang, Manado, New York, terserah saja, sebab ajarannya sama. Tapi umat Protestan biasanya hanya pergi ke satu gereja yang sama seumur hidupnya. Misalnya penganut Baptis harus pergi ke gereja GBI yang mungkin jaraknya 15 kilometer dari rumah, dan tidak dapat pergi ke gereja GPIB yang letaknya cuma di jalan dari depan rumah, dikarenakan ajarannya gerejanya berbeda (walaupun sebenarya keduanya sama-sama gereja protestan). Bahkan tidak jarang, antara denominasi Protestan yang satu dengan yang lain berselisih paham gara-gara perbedaan pandangan itu.

5. Pemuka ajaran Katolik memiliki hierarki (tingkatan), sedangkan Protestan tidak
Para pemuka ajaran Katolik memiliki hierarki sebagai berikut: Pastur (romo) – Uskup – Kardinal – Paus. Dengan adanya tangga hierarki itu, para pemuka ajaran Katolik dapat naik jabatan, bahkan dapat menjadi Paus. Semua Paus juga dulunya berawal dari Romo biasa. Akan tetapi, pemuka ajaran Protestan (pendeta) tidak memiliki hierarki semacam itu.

Karena pemuka ajaran Katolik ada hierarkinya, maka gereja Katolik juga punya hierarki, yaitu kapel (gereja kecil)– gereja paroki (tempat kedudukan pastur)– katedral (tempat kedudukan uskup/kardinal)– basilika (tempat kedudukan paus). Semakin tinggi tingkatannya biasanya ukurannya juga semakin besar. Sedangkan gereja Protestan tidak punya hierarki. Jadi, biasanya yang namanya katedral itu adalah gereja Katolik (walaupun ada juga beberapa gereja Protestan yang menggunakan nama atau istilah katedral).

6. Pemuka ajaran Katolik tidak boleh menikah, Protestan boleh
Para pemuka ajaran Katolik mulai dari Pastur hingga Paus tidak boleh menikah, alias harus hidup membujang selamanya. Ini dalam Katolik disebut “hidup selibat”. Hal ini agar mereka dapat berkonsentrasi penuh dalam mengajarkan ajaran Katolik. Tapi dalam gereja Protestan, pendeta diperbolehkan menikah.

7. Protestan membolehkan perempuan menjadi pemuka ajaran, Katolik melarang
Dalam Katolik hanya laki-laki yang boleh menjadi Pastur, sedangkan perempuan tidak boleh. Adapun dalam Protestan, baik laki-laki maupun perempuan diberikan hak yang sama untuk menjadi pendeta (tapi lebih sering kita melihat pendeta adalah laki-laki). Sedangkan dalam Katolik, wanita yang ingin mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan hanya boleh menjadi suster (biarawati). Syarat menjadi suster sama dengan syarat menjadi pastur, yaitu tidak boleh menikah. Seorang suster juga harus memakai kerudung seumur hidupnya. Bahkan di negara-negara Barat, pakaian suster yang serba tertutup ini sekilas sangat mirip dengan jilbab dalam Islam. Di dalam peperangan, para suster ini dulunya biasa bekerja sebagai perawat, karena itulah ada kebiasaan di negara kita untuk memanggil perawat dengan sebutan “suster”

8. Perbedaan peribadatan
Peribadatan umat Katolik disebut misa, sedangkan peribadatan umat Protestan disebut kebaktian. Keduanya berbeda dalam hal isi maupun tata cara pelaksanaannya, walaupun sama-sama dilaksanakan pada hari Minggu.

9. Katolik mengkultuskan Bunda Maria, sedangkan Protestan melarangnya
Umat Katolik sangat mengkultuskan Bunda Maria, yaitu ibunda dari Yesus Kristus. Umumnya yang namanya umat Katolik memang sangat mencintai dan menghormati Bunda Maria. Sebagai penghormatan kepada Bunda Maria, dalam ajaran Katolik ada kebiasaan berdoa rosario (semacam tasbih dengan liontin salib) dan berziarah ke Goa Maria setiap bulan Mei dan Oktober. Tapi di dalam Protestan tidak ada kebiasaan semacam itu, karena ajarannya memang melarang pengkultusan pada Bunda Maria. Jadi, jika ada yang membawa-bawa rosario ataupun pergi ke Goa Maria, sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah umat Katolik.

Menurut mereka, Protestan, Katolik, Ortodoks, Koptik, dan Pentakosta adalah lima jenis Kristen yg terpecah-pecah. Mereka di sebut sebagai Kristiani. Sedangkan Protestan, Katholik, Orthodoks, dan Koptik adalah jenis-jenis Nasrani. Mereka mengaku semuanya adalah umat Isa/Yesus

10. Katolik mengakui para umat kudus (santo-santa), Protestan tidak
Para orang kudus ('saint' dalam bahasa Inggris, disingkat 'St' dan ditaruh di depan nama) merupakan orang-orang yang memiliki iman yang sangat kuat sehingga dipercaya sudah masuk surga. Orang kudus laki-laki disebut santo, sementara yang perempuan disebut santa.

Nama-nama para saint ini biasanya digunakan sebagai nama gereja, misalnya gereja Santa Maria, gereja Santo Petrus, dan lain-lain. Para saint ini punya hari perayaannya sendiri-seniri (misalnya hari raya St Valentine dirayakan tiap 14 Februari). Nama-nama para saint ini juga digunakan sebagai nama baptis dengan harapan ketika dewasa kelak, sang anak dapat meneladani para umat kudus yang namanya dipakai tersebut. Nama-nama para santo dalam ajaran Katolik biasanya diakhiri –us, misalnya Petrus, Paulus, Fransiskus, dan lain-lain.

Dalam ajaran Protestan, pemujaan pada para santo/santa dilarang keras. Bahkan umat Protestan umumnya menggunakan nama-nama nabi, bukannya nama-nama santo/santa sebagai nama baptisnya, seperti Abraham, Samuel, Daniel, dan lain-lain.

11. Katolik menggunakan patung sebagai media ibadah, Protestan tidak
Gereja Katolik biasanya dihias dengan patung-patung, entah itu patung Yesus, Bunda Maria, atau para santo/santa, hingga patung malaikat. Maksudnya agar ada visualisasi seperti apa sosok-sosok mereka itu (tidak abstrak). Akan tetapi Protestan mengharamkan penggunaan patung dalam gereja, sebab ini dianggap sebagai berhala. Implikasi dari pelarangan patung ini, salib Katolik memiliki patung Yesus di tengahnya, sedangkan salib Protestan hanya salib biasa tanpa patung di tengahnya. Jadi mudah membedakan apakah seseorang itu Katolik atau Protestan dengan memperhatikan bentuk salib di rumahnya.

12. Katolik mengakui 7 sakramen, sementara Protestan hanya 2 saja
Sakramen adalah bentuk upacara suci yang wajib dilakukan penganut Kristiani sepanjang hidup mereka. Gereja Katolik mengakui ada 7 sakramen, yaitu:
Baptis (masuk ajaran Kristen),
Krisma (diberikan ketika menginjak remaja),
Ekaristi (yang biasa dilakukan oleh umat Katolik di gereja tiap hari Minggu),
Imamat (pentahdapan menjadi pastur/romo),
Pernikahan,
Pengakuan Dosa, dan
Pengurapan umat Sakit (diberikan saat sakit parah dan menjelang mati).
Namun dalam gereja Protestan, hanya diakui dua sakramen saja, yaitu Baptis dan Ekaristi. Sakramen Ekaristi dalam ajaran Protestan juga tidak dilakukan setiap hari Minggu, namun hanya pada perayaan hari-hari besar saja.

13. Katolik melarang perceraian, sedangkan Protestan memperbolehkannya

Dalam ajaran Katolik tidak ada yang namanya perceraian. Pernikahan hanya boleh terjadi sekali seumur hidup (kecuali jika ditinggal mati pasangannya). Sedangkan dalam ajaran Protestan, pasangan yang sudah menikah namun sudah merasa tidak lagi cocok diperbolehkan bercerai.

Tuesday, February 2, 2016

Ingat tembang Sluku-Sluku Bathok? Ternyata itu gubahan syair Arab lho



Ingat tembang Sluku-Sluku Bathok? Ternyata itu gubahan syair Arab lho


Syair tersebut bukan sekedar syair, tetapi mempunyai makna yang tersirat dalam versi bahasa Arabnya.

Sluku-sluku bathok

Bathoke ela-elo

Si Rama menyang Solo

Oleh-olehe payung montho

Tak jenthit lolo lobah

Wong mati ora obah

Yen obah medeni bocah

Yen urip goleka dhuwit


Kamu yang masa kecilnya bahagia pasti pernah mendengar lagu ini. Ya, tembang Jawa ini dulu populer sekali di kalangan anak-anak era 90-an dan sebelumnya. Bahkan lagu ini juga pernah menjadi lagu yang dinyanyikan oleh Suzan dan Ria Enes.

Nah, jika ditelisik lebih jauh, ternyata lagu itu merupakan buatan Wali Sanga yang digunakan sebagai metode dakwah. Dahulu mereka membuat syiar yang mudah ditangkap masyarakat awam saat itu. Disarikan dari pengajian kyai kondang asal Bojonegoro, KH Anwar Zahid, Syair Sluku-Sluku Bathok merupakan salah satu gendhing Jawa yang digunakan oleh Wali Sanga untuk syiar agama Islam.

Syair tersebut bukan sekedar syair, tetapi mempunyai makna yang tersirat dalam versi bahasa Arabnya. Syair dan makna yang terkandung dalam tembang tersebut, yakni:

1. Sluku-sluku bathok/Usluku suluka bathnaka
Ikutilah jalan perutmu. Manusia disuruh untuk mengambil jalan seperti jalan perut yang telah terisi makanan. Jalan itu adalah jalan lurus.

2. Bathoke ela-elo/Bathnaka La ilaha illallahu
Isilah batinmu (perut) dengan La ilaha illallahu. Manusia disuruh untuk mengisi batin dengan La ilaha illallahu, karena dalam perut (bathnaka) segala sesuatu ada.

3. Si Rama menyang Solo/Siiruu ma'aa man sholla
Berjalanlah kalian semua mengikuti orang yang shalat. Hal itu agar kita juga selalu bisa menjaga shalat kita.

4. Oleh-olehe payung motha/Allahu faizun 'ala man taaba
Allah menyukai orang-orang yang taubat. Taubat di sini juga diartikan dengan orang yang kembali ke jalan yang benar, yakni Islam.

5. Tak jenthit lolo lobah/Ittakhidzillaha Robba
Jadikanlah Allah sebagai Tuhan kalian semua.

6. Wong mati ora obah/Man maata roaa dzunuubah
Barang siapa yang mati akan ditunjukkan dosanya.

7. Yen obah medeni bocah/Dzunuuba dainin yaghillu yadah
Dosa utang akan membelenggu kedua tangan. Utang itu baik berupa ibadah kepada Allah maupun utang sesama manusia.

8. Yen urip goleka dhuwit/Rottibil kolbi bil qouluts tsabit

Jagalah hatimu dengan ucapan yang telah disebutkan sebelumnya, yakni La ilaha illallahu.

Friday, January 8, 2016

Tahukah Anda, Siapa itu Dracula? Sang Pembantai



Tahukah Anda, Siapa itu Dracula? Sang Pembantai

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk manipulasi sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian dihasilkan  seolah-olah menjadi tokoh yang nyata oleh Barat, tetapi Dracula merupakan keterbalikannya, tokoh fakta dijadikan fiksi.


Diawali dari novel  karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, kemudian tokoh ini mulai difilmkan seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoor of of Dracula (1958), Nosferatu (1922) yang dibuat ulang pada tahun 1979 dan film-film dracula yang lain yang dikemas dalam bentuk yang lebih moden seperti Twilight.

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna , kisah Dracula   sebenarnya merupakan pembesar Wallachia , berketurunan Vlad Dracul.

Dalam uraian Hyphatia tersebut, kisah Dracula tidak boleh diceritakan  paska Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ustmaniyah sebagai wakil Islam, dan Kerajaan Hungary sebagai wakil Kristen.

Keduanya tersebut berusaha menguasai dan merebutkan wilayah-wilayah baik  Eropa maupun di Asia . Puncak  peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel, yaitu ketika benteng Kristian ada di  tangan kekuasaan khilafah Ustmaniyah.

Dalam peristiwa Perang Salib,  Dracula merupakan salah seorang panglima tentera Salib. Dalam perang inilah Dracula banyak melakukan pembunuhan terhadap umat Islam. Hyphatia memaparkan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 jiwa umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara yang  sangat biadab dan kejam, yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula.

Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang itu ditusuk dubur dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya ditajamkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dimasukan sehingga kayu sula tersebut menembus hingga perut, kerongkongan hingga menembus kepala melalui mulut.

Hyphatia mengatakan dalam bukunya :

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulakan. Para prajurit melakukan perintah tersebut  seolah seperti robot yang telah dipogram. Penyulaan disulami dengan teriakan kesakitan dan jeritan penderitaan yang segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam pada saat itu sedang dijemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban kekejaman penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis  kerana mereka   kesakitan yang amat apabila hujung kayu menembus perut kecilnya. Tubuh-tubuh korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajalnya.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi kerana dua sebab. Pertama, pembunuhan beramai – ramai yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak boleh dihapuskan dari Perang Salib.

Negara – negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi tunggak utama tentera Salib, tidak mau tercoreng wajahnya. Mereka termasuk yang mengutuk dan menentang pembunuhan beramai – ramai oleh Hilter dan Pol Pot, tidak ingin membuka aib mereka sendiri. Dan ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin tampil seperti pahlawan.

Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Walau bagaimana pun kejamnya Dracula, nama baiknya akan selalu dilindungi. Sehingga di Rumania saat ini, Dracula masih dianggap pahlawan. Sebagaimana sebahagian besar sejarah pahlawan – pahlawan pasti akan diambil sebagai superhero dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Untuk menutup kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula.  Mereka berusaha agar sejarah  jati diri  Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui bahwa usaha Barat untuk mengubah sejarah Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil.

Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dengan banyaknya masyarakat, khususnya umat Islam sendiri yang tidak mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula.  Masyarakat umum hanya mengetahui bahwa Dracula adalah merupakan lagenda vampire yang kehausan darah, tanpa mengetahui kisah sebenarnya.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah diketahui umum  bahawa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak boleh dilepaskan dari dua benda, yaitu bawang putih dan salib.

Konon hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan  dikalahkan. Menurut Hyphatia penggunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus jejak sejarah pahlawan mujahid-mujahid Islam dalam perang salib,  sekaligus untuk menunjukkan kehebatan mereka.

Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II) dan juga dikenali sebagai Al- Fateh dalam sejarah Islam.  Sultan ini merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula, ia adalah seorang yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun barat berusaha memutarbalikkan fakta ini.

Mereka berusaha menciptakan cerita sejarah agar merekalah yang terlihat mengalahkan Dracula. Maka diciptakan sebuah fiksi bahwa Dracula hanya boleh dikalahkan oleh salib. Tujuannya adalah ingin menghilangkan peranan Sultan Mahmud II sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling hebat, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah.



4 Kebenaran Tentang Barbarossa Bajak Laut Muslim yang Ceritanya Diplintir oleh Barat

Zombie adalah Pahlawan Islam

Zombie adalah Pahlawan Islam



Apa yang terlintas dalam pikiran Anda jika disebutkan “Zombie”? Jika yang muncul adalah sosok mayat hidup yang berlumuran darah dan mengejar manusia untuk digigit dan dijadikan mayat hidup berikutnya, berarti ghazwul fikri yang dilancarkan Barat telah berhasil 100%.

Barat melahirkan istilah “zombie” untuk menggambarkan mayat hidup yang tidak memiliki pikiran dan bernafsu memangsa manusia normal. Melalui serangkaian cara mulai dari novel, film hingga game, zombie digambarkan sebagai makhluk jahat yang harus dilawan. Ia mayat hidup yang tidak memiliki kebaikan sama sekali.

Namun, benarkah Zombie dalam dunia nyata seperti itu? Ternyata Zombie adalah nama salah seorang pahlawan Islam di Brazil.

Pada abad ke-XVI, tepatnya sekitar tahun 1550 Masehi, Islam mulai masuk ke Brazil. Saat itu, orang-orang Portugis memasukkan budak-budak Afrika ke Brazil sebagai tenaga pekerja di kebun tebu. Mayoritas budak-budak Afrika ini beragama Islam sehingga sejak saat itu ada banyak muslim di Brazil.

Tahun demi tahun, jumlah muslim di Brazil semakin banyak. Selain para pendatang, penduduk asli juga mulai ada yang masuk Islam, menjadi mualaf. Posisi kaum muslimin pun semakin kuat, bukan hanya para pekerja tebu.

Ketika posisi Islam di Brazil menguat, Pasukan Salibis menghabisi mereka. Pasukan Salibis berusaha menghancurkan Islam hingga ke akar-akarnya. Dan mereka menganggap program mereka berhasil. Islam telah dilumatkan.

Di saat seperti itu, pada tahun 1643, tiba-tiba muncul seorang pahlawan Islam. Dengan gagah berani ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil setelah sebelumnya bergerak mendakwahkan Islam ke berbagai penjuru Brazil dan mengajak para tokoh dan pimpinan di wilayah itu untuk masuk Islam. Nama pahlawan itu adalah Zombie.

Salibis yang mengira Islam di Brazil telah mati tersentak. Rupanya Islam belum mati. Zombie telah menghidupkan Islam kembali di bumi Brazil. Dan karenanya, pasukan Salibis pun segera menjadikan Zombie sebagai target. Dan rupanya, Zombie tidak hanya dimusuhi di waktu itu. Namanya pun dihancurkan di abad modern ini.


4 Kebenaran Tentang Barbarossa Bajak Laut Muslim yang Ceritanya Diplintir oleh Barat

Tahukah Anda, Siapa itu Dracula? Sang Pembantai

4 Kebenaran Tentang Barbarossa Bajak Laut Muslim yang Ceritanya Diplintir oleh Barat



Menyebut nama Barbarossa, mungkin yang ada dalam pikiran kita adalah karakter bajak laut jahat yang namanya sudah melegenda itu. Kejam, bengis, tidak berperasaan, begitulah karakter sang perompak ini dikenal dunia. Penggambaran sosok Barbarossa yang kejam makin diperjelas dengan film hits Pirates of Carribean. Alhasil, doktrin Barbarossa yang keji pun makin melekat di ingatan semua orang.

Barbarossa memang sejatinya ada dan bukanlah tokoh fiktif yang sering dipercaya banyak orang. Namun, ia bukanlah sosok yang bengis dan kejam, namun justru sangat heroik dan jauh dari sifat-sifat tercela. Eksistensi Barbarossa sendiri sangatlah penting bagi perkembangan dunia Islam. Ya, karena ia adalah seorang Muslim. Soal kejam dan tidak berperasaan, hal ini hanya tuduhan saja. Namun, tentang pamornya yang mendunia dan bikin bangsa barat ketakutan itu memang benar.

Sejarah yang ada menceritakan kisah Barbarossa yang berkebalikan dengan apa yang kita baca atau lihat di film sekarang ini. Entah apa alasannya, namun ada indikasi kalau barat seperti ingin mengubah cerita sejarah dengan memelintir kisah sang pelaut jenius ini.

1. Awal Mula Kemunculan Barbarossa
Barbarossa yang kita kenal sekarang adalah nama untuk seorang saja, padahal aslinya Barbarossa adalah nama dua orang bersaudara, Aruj dan Khairuddin. Nama Barbarossa yang berarti Jenggot Merah, adalah julukan yang diberikan oleh bangsa Eropa karena penampilan Aruj dan Khairuddin yang memang punya jenggot lebat berwarna merah.

Awal mulanya, dua bersaudara ini hanyalah pemuda biasa yang hidup sederhana. Namun, ada satu momen di mana hal tersebut mengubah jalan hidup mereka selamanya. Suatu ketika, Aruj dan Khairudin serta adiknya melakukan sebuah perjalanan dagang. Namun, di tengah jalan kapal mereka dirusak parah oleh kapal militer Spanyol. Adik Aruj dan Khairudin meninggal saat tragedi itu. Hal ini membuat keduanya marah besar dan akhirnya dendam.
Keduanya bersaudara ini memutuskan untuk menjadi perompak dengan menghancurkan setiap kapal orang Spanyol, baik untuk dagang maupun militer. Aksi ini berlangsung cukup lama, dan akhirnya tersebarlah nama Barbarossa Brother seantero Eropa yang begitu ditakuti dan disegani.

2. Balas Dendam Menjadi Perjuangan Jihad
Di momen yang sama saat nama Barbarossa bersaudara menghantui kapal-kapal Eropa, Islam di Andalusia, Spanyol mengalami keterpurukan. Jutaan Muslim dibantai sedangkan sisanya mengalami penyiksaan berat. Keadaan begitu genting saat itu dan kemudian terdengar oleh Sultan dari Dinasti Turki Ustmani, jika di lautan tengah ada dua bersaudara Muslim yang namanya sangat menakutkan bagi bangsa Eropa.

Singkat cerita, Barbarossa bersaudara mendapatkan kepercayaan Sultan untuk menjalankan misi penyelamatan para Muslim di Andalusia. Dua bersaudara Barbarossa pun menerima perintah ini dan mereka sukses besar. Dengan berbekal pengalaman kelautan dan tempur handal, keduanya bolak balik berhasil menyelamatkan sedikit demi sedikit para Muslim. Hingga pada akhirnya Barbarossa bersaudara diserahi tampuk kepemimpinan pasukan Elit Janissary.

3. Kejayaan Militer Laut Turki Ustmani dan Kematian Aruj

Di tangan Barbarossa bersaudara kesultanan Turki menjadi salah satu bangsa dengan kekuatan militer laut paling menakutkan. Banyak misi-misi yang berhasil dilakukan. Misalnya penguasaan beberapa daerah yang dikuasai oleh orang-orang Eropa dan Pasukan Salib. Salah satunya daerah-daerah di utara Afrika yang strategis itu.

Sudah puluhan bahkan ratusan kali pertempuran laut terjadi antara Turki Ustmani dan Eropa, namun mayoritas dimenangkan oleh Barbarossa bersaudara. Namun, ada satu momen di mana ini jadi pulukan terberat bagi Khairudin Barbarossa. Hal ini tak lain adalah kematian saudara sejiwanya Aruj dalam sebuah pertempuran melawan bangsa Eropa.

Kejadian ini menjadi pembakar semangat Khairudin untuk bisa berjuang lebih maksimal lagi. Hasilnya pun luar biasa. Sepenuhnya laut tengah dan Afrika utara dikuasainya. Tak ada satu pun kapal bangsa Eropa yang berani melewati wilayah Khairudin, kecuali mereka bersedia membayar jizyah atau pajak. Makin jumawa kekuatan kelautan pasukan elit ini di tangan Barbarossa, yang kali ini telah sendiri.

4. Pertempuran Melawan Andrea Doria, Pelaut Kebanggaan Eropa
Perjuangan paling Heroik dari Barbarossa atau Khairudin, adalah ketika ia dihadapkan dengan Andrea Doria. Pria ini dikenal sebagai pentolannya militer bangsa Eropa yang namanya begitu mashyur karena pengalamannya yang sudah sangat banyak. Andrea Doria dipilih karena sudah tidak ada yang sanggup melawan Barbarossa.

Pertempuran menegangkan ini terjadi di sekitar tahun 1538 di mana kondisi kedua pihak sangatlah timpang. Doria memimpin ratusan kapal perang Galleon yang melegenda itu, ditambah dengan pasukan tempur yang jumlahnya ratusan ribu. Barbarossa, ia hanya memiliki sepertiga dari kekuatan musuh baik kapal maupun pasukan. Meskipun demikian, hal tersebut tak membuat Barbarossa merasa takut atau pun mundur.

Pertempuran berjalan alot namun aura kemenangan sudah bisa dirasakan pihak Barbarossa. Hanya sekitar 5 jam pertarungan, Khairudin dan pasukan Janissary-nya berhasil menggempur Andrea Doria untuk mundur. Sekali lagi, nama Barbarossa makin jumawa di lautan. Sedangkan Doria sudah tidak berani mengangkat muka lagi karena si kebanggaan Eropa ini sudah kalah.

Begitulah kisah yang tertulis dalam sejarah tentang Barbarossa, sang kapten Muslim yang namanya sangat ditakuti oleh Eropa. Bangsa-bangsa barat kemudian hari memelintir cerita aslinya sehingga menunjukkan sifat Barbarossa yang berkebalikan dengan aslinya. Barbarossa sendiri tak tewas seperti yang diceritakan oleh mereka, ia menghembuskan nafas terakhirnya di usia 68 tahun dengan sangat tenang di kamar pribadinya.


Tahukah Anda, Siapa itu Dracula? Sang Pembantai

Zombie adalah Pahlawan Islam