Tuesday, June 30, 2015

Kisah Gay Yang Tobat



sharia.co.id – Dari balik jendela lantai dua gedung kayu, kami, segerombol penghuni sekre Aksara Salman ITB berebut mengintip ke bawah. Wow, ustad “g” itu menuju ke sini! Ke tempat dimana kami berada! Betapa kami dibanjiri kepenasaranan yang geli!
Selintas, hitamnya peci yang ia pakai, berbarengan dengan rambut gondrong terkucir rasa-rasanya tak terlalu bikin merinding. Namun, embel-embel “g” yang telah diwara-wirikan sebelumnya itulah yang membuat diri ini lumayan bergidik sekaligus antusias.
Bincang Kamis Aksara, kali ini (15/3) menghadirkan seorang gay yang uniknya kini dikenal sebagai seorang ustad. Zemarei Bakhin. Dengan nama itu ia dikenal luas. Sudah satu buku yang ia terlurkan. Buku tersebut didasari murni dari pengalaman pribadinya, Tuhan Tak Pernah Iseng.
“Mulai kelas 5 SD, saya baru menyadari kalau ada yang lain dari saya sebagai seorang lelaki. Waktu kecil, sewaktu beli kertas HVS, saya dikatakan centil karena suara saya. Padahal suara saya ya biasa saja, tidak dimanipulasi” ujar Rei, panggilan akrabnya, memulai sharing BiKa sore itu.
Walau tidak bersuara nge-bass a la pria macho, bagi saya, Rei tak kemayu-kemayu amat. Kala bertutur, ia tidak menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama. Tangannya pun tak melambai-lambai. Namun, ia tetap mengaku sebagai seorang yang kemayu jika dibandingkan dengan pria normal.
Lain di kini, lain di lampau. Semasa SD periode akhir, dirinya tak pernah berontak biar dikatai sangat mirip perempuan dari berbagai sisi. Namun, semenjak SMP, Rei mulai risih menghadapi dua himpitan yang menerjang dirinya. Satu: olok-olokan teman-teman sebayanya, dua: gejolak batin dalam dirinya.
“Teman-teman dan keluarga tak mendukung. Saya tidak merasa diperhatikan.”
Lantaran merasa tidak dimengerti, letupan emosi akhirnya mengalahkan kesadaran Rei remaja. Rei paham betul, homoseksual merupakan perbuatan yang dilarang oleh agamanya, Islam. Namun apa daya, bujuk rayu pria gagah tersebut tak mampu ia elakkan.
“Tiba-tiba muncul seorang pria yang mencurahkan perhatian lebih pada saya,” kenang Rei.
Walau tidak kemayu seperti Rei, pria tersebut berani mengaku kalau ia ada hati dengannya sejak lama. Mereka pun berpacaran.
“Masih remaja, masih sebatas first kiss, pegangan tangan…namun jika dipikir-pikir sekarang…saya merasa bingung, bagaimana cara menghapus dosa tersebut?” keluh Rei.
Rei kemudian bilang, mungkin Tuhan masih sayang padanya. Tuhan memisahkan Rei dan pasangannya lewat malapetaka tragis. Ketika keduanya sedang asyik berjalan-jalan mengendarai sepeda motor, kecelakaan lalu lintas terjadi. Rei selamat. Namun, tidak demikian dengan sang kekasih. Nyawanya terenggut dalam peristiwa naas tersebut.
“Di film-film India, ketika tokohnya kehilangan kekasihnya, biasanya kan suka marah-marah ke dewa. Nah, kalau saya dulu datengin Masjid lalu marah-marah ke Allah,” aku Rei.
Walaupun masih memiliki ketertarikan pada sesama jenis, sejak kecelakaan tersebut Rei mengklaim tidak pernah punya hubungan istimewa dengan lelaki. Surat-surat bernada cinta dari sejumlah pria tak pernah ia gubris. Namun, itu bukan karena Rei insyaf. Ia masih marah dengan Tuhan. Hanya saja, entah mengapa sisi yang menganggap perbuatan homoseksual merupakan sebuah kehinaan, selalu mendominasinya.
“Sewaktu saya kerja di pelayaran dan perhotelan selepas SMA, godaan untuk terjerumus dalam dunia gay makin banyak. Saya pernah diajak ikut pesta gay di kapal pesiar, saya pernah diajak main sama oom-oom hotel… entah kenapa diri ini tidak meladeni godaan tersebut…”
Puncak kegundahan Rei tiba pada usia di sekitar dua puluh satu. Bak disambar gledek Rei tiba-tiba sholat tahajud. Dalam doa sehabis shalatnya, Rei tidak ingin kesembuhan. Ia minta diberi petunjuk, bagaimana ia harus bertindak.

Sedari itu, ia berupaya memanajemen hasrat seksualnya kepada sesama jenis. Pada perempuan, ia berusaha untuk menumbuhkan rasa suka. Usaha itu berbuah manis ketika dirinya naksir pertama kali pada seorang perempuan.
“Selama dua puluh lima tahun, baru pertama kali saya naksir perempuan. Pulang ke rumah kok ingat terus,” kenangnya.
Akhirnya, ia memantapkan diri untuk melamar sang perempuan. Pernikahan pun jadi dilangsungkan. Walaupun begitu, hasratnya pada pria tak bisa hilang. Setahun pernikahan berjalan, subuh-subuh adalah tibanya bagi Rei untuk melakukan pengakuan pada sang istri. Bahwa dirinya adalah seorang gay.

“Istri kaget luar biasa. Tiga hari ia merenung. Akhirnya ia menerima saya dan bilang ‘Saya terima Akang apa adanya, kalau memang Akang memang seperti itu, yuk saya bantu untuk tidak seperti itu. Toh saya nikah sama Akang bukan mencari kepuasan duniawai saja. Saya ingin ada yang bareng-bareng menemani saya ke surga.’” cerita Rei mantap.
Sang istri walau tak dilayani secara normal oleh sang suami, begitu Rei mengaku, namun tak pernah mengeluhlah ia. Dihina-dina oleh orang pun, istri anteng-anteng saja. Kasih sayang sang istri yang mematri dalam jiwanya pun perlahan merubah apa yang sering ada pikiran Rei.
“Dahulu, waktu masih muda, ketika sendiri di kamar saya selalu berpikir, mengapa saya harus seperti ini? Sekarang saya berpikir, bagaimana cara nyari duit buat anak-anak saya ya… bagaimana caranya memuaskan istri nanti malam ya…” tutur Rei.
Bagaimana kelanjutan pergumulan batin Rei setelahnya? Jadi sembuhkah ia? Tidak. Pada hadirin BiKa, Rei mengaku bahwa dirinya masih gay. Persis seperti yang dikutip dalam MajalahPercikan Iman edisi Maret 2012, ia berujar.
“Ketika ditanya apakah saya suka sama laki-laki yang ganteng atau apakah saya mau bercinta dengan laki-laki, saya akan jawab ya. Tapi, saya nggak berani dan saya tidak boleh melakukan itu. Itu saja. Hidup ini kan belajar. Makanya, saya belajar untuk taat walaupun berat.
“Malah, sampai saat ini saya makin tahu dan sadar bahwa tidak ada cinta sejati dan sehidup semati dalam hubungan asmara sesama jenis. Sifat kaum gay itu mudah bosan. Kalau ada gay yang bilang mencintai sampai mati, itu sebenarnya bohong. Semua itu cuman dorongan sesaat,” tuturnya.
Rei mewanti-wanti, bahwa ibadah shalat, mengaji Alquran, tak kuasa menghapus homoseksualitasnya. Menurutnya, yang terpenting adalah persoalan bagaimana kecenderungan itu bisa dikontrol agar tidak diwujudkan dalam bentuk perilaku yang menyimpang.
Satu hal lagi yang disayangkan Rei adalah para ahli agama yang secara serampangan mengata-ngatai gay yang berkonsultasi agama. Oleh ustad lain, biasanya gay langsung dituduh dosa, masuk neraka, laknat, dan lain-lain.
“Sedangkan saya, karena mengalami apa yang dirasakan mereka, bisa lebih mudah berkomunikasi dengan mereka. Saya tidak menawarkan obat penyembuh. Saya bilang, kalau kamu mau sembuh, ya harus mau mengontrol hasrat,” pungkas Rei.
Menanggapi pernyataan Rei, seorang hadirin kemudian berujar, “Desire cannot be heal, but it can be controlled.”
“Nggak ngerti, saya mah urang Sunda. Hahaha” celetuk Rei. Buru-buru hadirin menimpali, “Hasrat memang tidak bisa disembuhkan, tetapi hasrat bisa dikontrol, Kang…”
Rei pun mengamini, kemudian minta doa agar dirinya senantiasa diberi kekuatan untuk bertahan dalam kondisi ini. Aamiin. Semoga, Kang. *Trista Irawati/SalmanITB.

No comments:

Post a Comment