Saturday, April 5, 2014

David Sukses Menjadi Pelopor Industri Game Lokal



David Sukses Menjadi Pelopor Industri Game Lokal



David Setiabudi termasuk salah seorang pelopor industri gim (game) lokal. Ia terjun ke usaha ini sejak tahun 2003 dengan mengusung brand Divinekids.


Sejak masih sekolah menengah atas (SMA), David sudah hobi bermain game. Hobi itu pula yang mendorongnya terjun ke usaha pembuatan game ini. Awal menajdi produsen game, ia tidak langsung berorientasi laba.

Pria 36 tahun ini mengaku, niat awalnya membuat piranti lunak game untuk alasan sosial. Makanya, di awal-awal menjadi produsen game, ia menggratiskan semua orang yang ingin mengunduh game buatannya di internet.

Game buatannya itu ditaruh di website miliknya. Lantaran banyak pengunjung, banyak orang tertarik untuk memasang iklan di website milik alumnus Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara itu. Maka, David pun mendapatkan sedikit pemasukan.

Lambat-laun ia pun mulai membisniskan permainan yang diproduksinya. Sejak dua atau tiga tahun lalu ia kerap mendapat order dari sejumlah perusahaan yang ingin menggunakan game buatannya sebagai sarana promosi dan lain-lain.

Satu proyek pembuatan game dia pasangi tarif Rp 15 juta. Dalam sebulan, ia bisa mendapat beberapa kali proyek. Sayang, David ogah menyebut omzet pasti dari usahanya. Ia mengaku, kerap mendapat order dari perusahaan asing, seperti dari Korea dan Taiwan.

Namun, seringkali, setelah sebuah proyek game selesai dikerjakan, perusahaan pemesan tidak memakai namanya sebagai pencipta game tersebut. Menurutnya, sudah menjadi rahasia umum, orang luar negeri tidak mengakui nama orang Indonesia.

Alhasil, game yang dipesan dibeli secara putus. Dengan cara itu, setelah membayar mereka tidak menggunakan nama penciptanya lagi. Selain di luar negeri, ia juga melayani pesanan di dalam negeri.

Menurut David, permintaan gim di dalam negeri terus meningkat sekarang ini. Makanya, kini ia lebih fokus melayani pesanan dari dalam negeri. "Sekarang saya banyak mengerjakan proyek pembuatan game di dalam negeri," katanya.  

Menurut David, proses pembuatan game tidaklah gampang. Membuat game harus melibatkan kreativitas dan daya pikir yang kuat. "Membuat game itu sama seperti kita menjual pikiran, bagaimana agar sebuah game bisa menarik," ujarnya.

Bagi David, ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah game: yakni membuat program dan membuat grafik. Dua hal ini tidak mudah dikerjakan. (*kontan.co.id)

Dulu Karyawan, Endang Kini Juragan Batik



Dulu Karyawan, Endang Kini Juragan Batik



Berawal dari menjadi karyawan di sebuah pabrik batik di Jakarta, Hajah Endang Indriyanti kini sukses menjadi pengusaha batik beromzet ratusan juta per bulan. Ia merintis bisnis batiknya dari nol.

Selama belasan tahun, Endang menjadi karyawan di sebuah perusahaan batik. Bahkan, ia juga sempat menjadi pedagang batik keliling yang menjajakan dagangan ke saudara-saudaranya.

Lantaran lama bergelut dengan bisnis batik, ia pun menjadi jatuh cinta dengan batik. Namun, Endang tidak puas jika hanya sekedar menjadi karyawan atau pedagang batik.

Ia juga ingin memiliki usaha batik sendiri. Apalagi, ia sudah memahami betul seluk beluk usaha ini. Makanya, ia bertekad suatu saat bisa memiliki usaha sendiri. Untuk mewujudkan keinginannya itu, hasil dari berjualan batik ditabungnya sedikit demi sedikit.

Setelah uangnya cukup, tahun 2004, ia memutuskan membuka usaha sendiri bernama Batik Harta Murti di Bekasi, Jawa Barat. "Bengkel produksi saya berada di daerah Pekalongan, Jawa Tengah," kata Endang.

Saat ini, dalam sebulan, ia mampu memproduksi  600 potong kain batik berbahan katun. Batik itu diproduksi dalam bentuk kain lembaran dengan panjang rata-rata dua meter sampai dua setengah meter.

Selain itu, ada juga yang sudah dalam bentuk sarung dan pakaian pria maupun wanita. Bahkan, ada juga mukena bercorak batik. Harga per potongnya bervariasi mulai Rp 60.000 hingga Rp 300.000. "Sampai saat ini permintaan terhadap batik masih tinggi," ujarnya.

Khusus pakaian, diproduksi berdasarkan pesanan. Ia selama ini banyak menerima pesanan seragam batik dari perkantoran dan sekolah. Endang juga membuat kain batik berbahan sutra, tapi dengan jumlah kecil.

Pasalnya, bahan sutra masih sulit didapat dan proses pembuatannya juga membutuhkan waktu lama. "Untuk sutra berbahan halus membutuhkan waktu selama empat bulan agar bisa menjadi kain," katanya.

Harga batik sutra ini dibanderol mulai Rp 500.000 hingga Rp 3 juta per potong. Dari usahanya ini, Endang mengaku bisa meraup omzet di atas Rp 100 juta per bulan. (*kontan.co.id)

Mencium Harumnya Peluang Bisnis Parfum



Mencium Harumnya Peluang Bisnis Parfum



Parfum tak pernah sepi peminat. Lantaran permintaannya tinggi, kini semakin banyak toko parfum. Salah satunya adalah toko Arrashi Parfums milik Panji Arrashi di Kedoya, Jakarta Barat.

Sejak awal mendirikan usaha tahun 2011, Panji langsung menawarkan kemitraan. Ia mengaku jumlah mitra usahanya saat ini sudah ada empat. "Sementara total gerai kami ada tujuh," katanya.

Panji menjual aneka parfum, mulai untuk anak-anak, pria, dan wanita. Selain itu, ada juga parfum Arab. Sebagian besar produk parfum itu diimpor langsung dari Prancis. Sebagian lagi ada yang diproduksi sendiri.

Ia menjamin, produk parfumnya lebih orisinal karena tidak melalui banyak tangan. Produk parfumnya ini terdiri dari pelbagai macam merek. Untuk anak-anak, misalnya, ada apple savor, grape savor, melon savor, orange savor, stawberry savor.

Sementara untuk pria ada merek aigner, bulgari, dan charlie white. Khusus wanita terdiri dari angel heart, anna sui, esscada, guess, dan nina ricci.
Panji mengklaim, 99% aroma parfum yang dijualnya orisinal. "Jika dibandingkan parfum yang sudah beredar di pasaran, parfum saya lebih baik," klaimnya.

Bagi yang berminat menjadi mitra, harus menyediakan biaya investasi sebesar Rp 50 juta. Mitra akan mendapatkan bahan baku parfum seharga Rp 35 juta, pelatihan, promosi, dan survei lokasi.

Ditargetkan, dalam satu bulan mitra bisa meraup omzet Rp 35 juta. Kerjasama ini tidak memungut royalti fee dengan masa kerjasama selama dua tahun. "Kami targetkan mitra balik modal kurang dari setahun sejak beroperasi," kata Panji.  (*kontan.co.id)

Musim Nikah, Pengusaha Katering Mendapat Berkah



Musim Nikah, Pengusaha Katering Mendapat Berkah


Selain musim hujan, bulan November merupakan musim nikah bagi kebanyakan orang Indonesia. Tingginya angka pernikahan ini sudah terlihat sejak bulan Oktober. Biasanya siklus musim nikah ini akan berlangsung hingga akhir tahun.

Memasuki musim nikah  ini, pesanan kebutuhan perlengkapan pernikahan, seperti katering, dekorasi, pelaminan, dan penyewaan tenda mengalami peningkatan dibanding bulan biasa.

Hendy Dwi Gunawan, pemilik Adelia Catering & Wedding Solution di Bogor, Jawa Barat mengatakan, selama musim nikah ini, pesanan meningkat hingga 30% dari hari biasa.

Selain katering, ia juga menyediakan perlengkapan pernikahan, seperti dekorasi pelaminan, sewa pelaminan, video shooting, hingga rias pengantin. Untuk pelaminannya tersedia pilihan adat Jawa, Sunda, dan dekorasi nasional.

Biasanya, semua jasa itu ditawarkan dalam satu paket dengan katering. Tersedia tiga pilihan paket layanan yang dibanderol mulai Rp 40 juta, Rp 45 juta, dan Rp 50 juta. Masing-masing paket menyediakan menu katering untuk 400 tamu undangan.  "Jadi, pengantin sudah terima beres," ujar Hendy.

Namun, ia tetap melayani bila ada konsumen yang hanya memesan katering atau dekorasi pelaminan. Untuk katering saja dibanderol mulai Rp 40.000, Rp 45.000, dan Rp 50.000 per porsi. Pilihan menunya ada aneka sup, olahan daging, dan olahan ikan.

Untuk snack dibanderol mulai Rp 7.500-Rp 10.000. "Sementara tarif dekorasi pelaminan, kami starting Rp 15 juta," kata Hendy. Selama musim nikah ini, ia bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 200 juta per bulan. Sementara di bulan biasa, omzetnya hanya sekitar Rp 200 juta. Ada pun laba bersihnya sekitar 20%-30% dari omzet.

Selain di Bogor, ia juga banyak melayani pesanan konsumen di wilayah Jakarta dan Tangerang. Peningkatan omzet selama musim nikah juga dirasakan Cut Isniar, pemilik Cherry Catering di Ciledug, Tangerang Selatan.

Ia mengaku, peningkatan permintaan selama musim nikah ini naik hingga 50% dari hari biasa. "Biasanya, puncaknya tanggal 10 November," kata Isniar.

Di musim nikah seperti sekarang, ia bisa melayani dua sampai tiga pesanan dalam sehari. Sementara di hari biasa paling hanya satu sampai dua pesanan.

Untuk melayani pesanan itu, ia pun terpaksa merekrut tenaga kerja freelance. "Omzet saya di musim nikah ini lebih dari Rp 100 juta," kata Isniar. Adapun laba bersihnya 50% dari omzet.

Untuk tarif katering tersedia pilihan paket murah mulai Rp 28 juta hingga Rp 38 juta. Sementara paket reguler mulai Rp 35 juta hingga Rp 50 juta. "Itu bisa untuk 1.000 tamu," ucapnya.

Sama dengan Hendy, ia juga menyediakan jasa lainnya, seperti jasa foto dan video serta pelaminan. (*kontan.co.id)

Memulai Bisnis Tanpa Modal



Memulai Bisnis Tanpa Modal



Di tengah persaingan berebut lapangan pekerjaan, semakin banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki modal untuk memulai sebuah bisnis. Jika seseorang dengan kondisi tersebut jangan dulu mengeluh, masih banyak memulai usaha yang dilakukan tanpa modal.

Kekurangan modal atau tidak ada modal memang sering terjadi dalam memulai bisnis. Perlu Anda ketahui, bahwa sebenarnya masalah modal bukanlah kendala utama seseorang dalam meraih sukses. Masalah modal sebenarnya lebih mudah diatasi.

Kendala utama lain yang lebih sering menghalangi orang untuk memulai bisnis adalah ketidaksiapan mental. Karena itu, sebaiknya sebelum memulai bisnis Anda harus mempersiapkan mental sebagai seorang pengusaha.

Lalu, bagaimana dengan masalah modal? memang semua bisnis selalu membutuhkan modal, baik sedikit atau banyak. Namun, sebenarnya modal itu hanya masalah dari mana Anda mendapatkan modal tersebut. Modal bisnis tidak harus dari kantong Anda sendiri. Ada banyak cara untuk mendapatkan modal, antara lain melalui pinjaman, kerjasama, penawaran saham kepimilikan dan sebagainya.

Ketika seseorang mengeluh tidak memiliki modal dan berhenti berusaha, maka ia tidak akan beranjak kemanapun. Teliti melihat peluang dan berani berusaha dan bekerja dapat menjadi sebuah titik balik menuju kesuksesan anda dalam berbisnis.

Telah banyak orang yang sukses secara finansial dan memulai usaha tanpa modal. Modal yang dimiliki hanya kemampuan melihat peluang serta keberanian dan kemampuan bekerja keras memanfaatkan peluang yang ada.

Adapun hal termudah yang dapat dilakukan sebagai sebuah usaha tanpa modal adalah menjadi marketer atau pemasar. Sebagai contoh, bekerja sama dengan industri kecil atau rumah tangga yang telah berproduksi secara rutin dapat menjadi pilihan. Dengan kemudahan teknologi, setiap orang dapat menjalankan bisnis pemasaran tanpa harus memproduksi sesuatu barang.

Dengan memaksimalkan internet sebagai mendia pemasaran dapat menjadi strategi sederhana dan sekaligus murah namun dapat menjadi sangat efektif karena jangkauan internet yang luas. Menjadi seorang marketer online dapat dimulai dengan meriset dan memilih produk yang dipasarkan serta memetakan pasar. Setelah kedua hal tersebut dilakukan, langkah yang efektif hanya memaksimalkan paparan informasi mengenai produk ke target pasar Anda. (*usahakecilmodalkecil.com)

Tips Memulai Usaha di Rumah



Tips Memulai Usaha di Rumah



Mencari pekerjaan memang sulit didapat, karena persaingan dan tuntutan tingkat pendidikan yang tinggi di dunia kerja, memulai bisnislah solusi cerdas untuk tetap mempunyai penghasilan.

Mencoba usaha di rumah adalah sebuah langkah nyata untuk menjalankan bisnis sendiri. Ada beberapa macam bisnis sederhana yang bisa dilakukan dirumah, seperti bisnis kuliner, garmen dan fashion.

Dengan adanya keterampilan yang sederhana hingga mengelola sumber daya manusia lepas dapat menjadi dasar untuk memulai bisnis makanan kecil ataupun pakaian.

Untuk wanita yang mempunyai keterampilan memasak, maka memulai bisnis makanan dapat menjadi awal memulai bisnis atau usaha dirumah. Dalam memperhitungkan modal, bahan yang yang dibutuhkan, peralatan, pengemasan, ketahanan dalam kemasan, persaingan hingga strategi pemasaran yang akan dipilih.

Perhitungan modal untuk mulai membeli bahan, berproduksi dan mengemas merupakan bagian hal yang terpenting, namun ada bagian yang tidak kalah penting sesudahnya yaitu memasarkan produk. Sudah banyak yang berhasil memasarkan produk makanannya sendiri tanpa harus memiliki outlet penjualan.

Strategi sederhana untuk memasarkan produk tanpa memiliki outlet adalah dengan menitipkan hasil produksi ke outlet-outlet yang telah ada perjanjian konsinyasi (titip jual).

Ada satu faktor yang terpenting dalam menjalankan strategi konsinyasinya adalah kecermatan memilih outlet yang akan diajak bekerja sama, keberanian menawarkan produk dan mengelola jaringan pemasaran.

Maka dari itu jika Anda memulai kegiatan produksi untuk memulai usaha dirumah, Anda tinggal meluangkan waktu beberapa hari sekali untuk berkeliling mengecek produk yang dititipkan. (*usahakecilmodalkecil.com)

Bisnis yang Bermartabat



Bisnis yang Bermartabat


Nomor satu pelanggan, nomor dua distributor, dan nomor tiga industri. Urutan ini dicanangkan para pendiri industri otomotif Toyota. Ini dimaknakan, raksasa industri otomotif dunia itu menempatkan pelanggan atau konsumen di urutan pertama prioritas. Pelanggan harus dinomorsatukan. Tanpa pelanggan, tidak ada distributor dan industri.

Di Indonesia, pelbagi perusahaan mempunyai strategi khas untuk memenangi pertarungan keras di pasar. Grup-grup usaha, seperti Astra, Salim, Djarum, Bakrie, Medco, Agung Podomoro, dan PT Haji Kalla—sekadar menyebut beberapa contoh—mempunyai strategi penuh warna dan kaya. Di antara grup tadi, yang kali ini menarik diungkapkan ialah PT Hadji Kalla. Grup usaha yang didirikan Haji Kalla, ayah dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, itu berdiri tahun 1952. Peringatan usia panjang itu diselenggarakan di Makassar, Sabtu (20/10/2012).

Haji Kalla mengawali bisnis pada era 1930-an dengan menjadi semacam patteke, pedagang keliling/eceran tempo dulu. Ia berdagang dari kampung ke kampung, dari desa ke desa. Yang diperdagangkan, mulai dari kain, sarung, hingga beberapa jenis kebutuhan sehari-hari. Karena situasi saat itu, perusahaannya kerap cemerlang, tetapi acap pula terseok-seok. Setelah Indonesia merdeka, usahanya makin maju hingga ”diformalkan” pada 1952. Perusahaan tumbuh ketika Jusuf Kalla, atas permintaan ayahnya, menjadi pemimpin perusahaan itu. Namun, Jusuf Kalla kemudian menyerahkan seluruh kendali kepada adik-adiknya ketika menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan merangkap Kepala Bulog tahun 1999.

Jusuf Kalla bertutur, pada ulang tahun ke-60 perusahaan ini ia setuju dibuat perayaan. Ia hendak menyapa pelanggan dan publik, sekaligus menyatakan bahwa perusahaan bisa bertahan lama kalau ditangani sepenuh hati dan menggenggam nilai-nilai luhur.

Perusahaan, lanjut Jusuf Kalla, harus selalu bersyukur atas apa yang diraih. Rasa syukur ini mendorong untuk terus maju dan maju. Perusahaan pun harus memiliki nilai budaya siri (martabat, harga diri). Kalau perusahaan tidak dikelola dengan baik, kinerjanya menurun. Hal itu akan membuat siri, martabat dan kehormatan, turun. Maka, segenap usaha konstruktif mesti dilakukan agar perusahaan maju dan martabat tegak.

Hal yang menarik adalah nama perusahaan menggunakan nama keluarga. Kalau kinerja turun, nama keluarga itu ikut terbawa-bawa. Maka, suka tidak suka, segenap energi dan elan harus dikerahkan. Reputasi bagus, nama semerbak.

Ke depan, kata Jusuf Kalla, adik-adiknya akan mengembangkan perusahaan ke aspek lebih strategis. Misalnya, bermain di wilayah ramah lingkungan, yakni energi terbarukan, green energy (membangun listrik 1.200 megawatt), industri, mesin-mesin presisi, dan sejumlah komoditas strategis.

Jusuf Kalla bangga, PT Haji Kalla berkibar. Selama lebih dari 20 tahun perusahaan (hampir) selalu nomor satu sebagai pembayar pajak terbesar di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. ”Bayar pajak yang benar menjadi komitmen kami, demikian juga menyetor zakat,” ujar Jusuf Kalla. (*kompas.com)

Lianna Sukses Memproduksi Sepatu Kain Batik



Lianna Sukses Memproduksi Sepatu Kain Batik



Indonesia sangat kaya dengan keragaman kain khas nusantara. Hampir setiap daerah memiliki kain tradisional yang cantik dan menarik, seperti kain batik songket, dan lurik.

Dengan sentuhan tangan kreatif Lianna Gunawan, beragam kain tradisional ini bisa disulap menjadi aneka produk sepatu nan unik. Hasilnya, sepatu bikinan Lianna laris manis di pasaran.

Di bawah bendera usaha La Spina, ia memproduksi sebanyak 500 pasang sepatu wanita setiap bulan. Sepatu tersebut dibanderol mulai Rp 300.000 hingga jutaan rupiah per pasang.

Di dalam negeri, produk sepatu Lianna sudah dipasarkan ke sejumlah wilayah, seperti Jakarta, Timika, Samarinda, Medan, dan Bali. Sementara di luar negeri, sudah ekspor ke Jepang, Australia, Belanda, dan Afrika. Dari usaha ini, ia bisa meraup omzet ratusan juta rupiah per bulan.

Liana baru memulai usaha ini di tahun 2009. Awalnya,  ia membuat sepatu pesanan (customized). Sementara produksi sepatu kain khas nusantara baru ditekuninya tahun 2011 di Jakarta.

Tepatnya pada April 2011 yang ditandai dengan peluncuran brand La Spina. Kendati baru, produk sepatunya ini cepat dikenal luas karena mengaplikasikan aneka kain nusantara, seperti batik, lurik, dan songket.

Motifnya juga melambangkan pelbagai kepulauan di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. "Saya ingin memajukan unsur warisan budaya Indonesia dengan memasukkan unsur tradisional namun dipadu dengan desain modern," tutur Lianna.

Berkat kreativitasnya ini, ia pun telah diganjar sejumlah penghargaan. Awal November ini, misalnya, ia keluar sebagai pemenang dari Asia dalam Cartier Women’s Innitiative Awards 2012.

Selain itu, Lianna juga pernah memenangkan penghargaan Asian Development Citra Award tahun 2012. Produknya juga pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Perindustrian untuk desain sepatu wanita terbaik tahun 2011 dan 2012.

Tahun lalu, ia juga pernah menyabet Inacraft Award 2011 dan terpilih mewakili Indonesia dalam berbagai pameran di Jepang, Korea Selatan, dan Bangkok.

Berkat pelbagai penghargaan itu, produk sepatunya semakin dikenal. Maskapai penerbangan Garuda Indonesia kini termasuk salah satu konsumennya. "Kami telah dikontrak untuk membuat sepatu bagi awak kabin Garuda," ujar Lianna.

Produk sepatu La Spina mencakup banuyak model, seperti sepatu datar (flat shoes), wedges hingga sepatu hak tinggi (high heels). Selain itu, ada juga produk sandal.

Di setiap produk sepatu terdapat aplikasi kain khas nusantara. Ada yang ditempatkan di bagian ujung, bagian atas, maupun bagian belakang sepatu. (*kontan.co.id)

Kreativitas: Keharusan dalam Kewirausahaan



Kreativitas: Keharusan dalam Kewirausahaan



Jangan terpaku saja melihat gemerlap perubahan! Anda, satu di antara sekian orang yang sanggup menghadirkan hal baru! Pikirkanlah hal ini sebagai kebiasaan. Karena Anda hidup dalam abad kreativitas. Kreatif adalah, kunci memenangkan kompetisi. Ada banyak konsep kreativitas. Salah satunya, mengambil inspirasi dari dunia musik, tepatnya, musik jazz. Dalam musik jazz, ada istilah jam session, saat pemusik tidak memainkan lagu tertentu, tapi alat musiknya mengalunkan paduan nada tanpa terikat lagu, bebas-mengalir saja. Jamming,  menjadi inspirasi John Kao menuangkan teorinya dalam buku yang sudah beredar dalam bahasa Indonesia, “Jamming: Seni dan Disiplin Kreativitas Bisnis”.

Kalau jamming bisa menggelitik telinga dengan  alunan musik indah, bisnis pun, amat mungkin mengambil langkah alternatif di luar yang biasa berlaku. Hasilnya, seperti jamming dalam jazz, tetap “berirama dan enak didengar”. Begitulah analogi teori Kao dalam dunia bisnis.

Jamming dalam bisnis, adalah ikhtiar kreatif. Ada imajinasi, totalitas berkreativitas, menyerap pendar-pendar inspirasi dari mana-mana.  Dari sana tercipta ide-ide kreatif dalam pengembangan bisnis­. Siapa “sparing partner” seorang wirausahawan dalam mengeksplotasi gagasan kreatifnya? Ia bisa sesama wirausahawan, meskipun tak ada salahnya dengan orang lain yang sangat berbeda dunia kerja  (bukan wirausahawan).

Bekerja “serba rutin”, “manut pakem”, di level pengambilan keputusan tertinggi, terutama sebagai pusat penyikapan terhadap realitas bisnis, diyakini merupakan sebuah sikap berbahaya bagi keberlangsungan usaha. Rutinitas, pakem-pakem itu, menjadi belenggu bagi kemajuan. Namun begitu, jangan salah memaknainya. Manajemen kreativitas, bukan “anti aturan”. Aturan tertentu, harus tetap ada, tetapi keberadaannya tidak memasung kreativitas. Ada yang “ekstrim” dalam kasus pembaharuan ini. Misalnya, produsen piranti keras komputer yang mendunia, Intell. Intell, secara berkala selalu menghancurkan produk lama mereka setelah memproduksi produk baru hasil kreativitas timnya. Langkah yang serupa, meskipun “tak sengaja”  dialami perusahaan Unilever. Begitu produk barunya muncul, produk lama Unilever “otomatis” dikalahkan produk barunya sendiri.

Kalau ada contoh Intell dan Unilever di bagian ini, dua dari sekian big corporate dunia, sejatinya kreativitas tidak menjadi monopoli korporat besar. Dalam sektor usaha kecil pun, ide kreatif muncul dari perenungan dan perbincangan akan hal-hal yang tak pernah terpikirkan. Justru dalam usaha kecillah, kreativitas seharusnya lebih berkembang, karena biasanya usaha kecil, punya sumber daya insani tak banyak. Ini poin lebih sehingga usaha kecil relatif lebih kompak orang-orangnya, sehingga transfer kreativitas baru bisa lekas merata. Dalam usaha berskala kecil transfer kreativitas lebih pendek jalurnya. Seorang inovator dalam tempo pendek ia bisa langsung mentransfer temuan barunya kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Bukan mustahil, proses mentransfer temuan baru itu, sekaligus bisa memicu tumbuhnya kreativitas.

Pencurian Hak Kekayaan Intelektual Bisa Hancurkan UMKM



Pencurian Hak Kekayaan Intelektual Bisa Hancurkan UMKM


Sebuah kasus pencurian hak cipta yang menimpa perusahaan berikut ini membuat kita, para entrepreneur dan pebisnis UMKM, harus makin meningkatkan kesadaran atas pentingnya hak kekayaan intelektual (HAKI) yang di Indonesia masih dipandang remeh.

Sebuah perusahaan bernama Midwest Rubber Service and Supply di kota Plymouth, AS, menderita kerugian besar akibat produk alat pembersih dari bahan karet khusus untuk mesin pembersih lantai. Bahan karet ini unik dan berkualitas tinggi serta tahan lama. Malangnya, satu pabrikan Malaysia telah mendaftarkannya sebagai merek dagang.

Namun, karena perusahaan-perusahaan itu tidak mengambil langkah hukum untuk melindungi merek dagang karet yang unik itu, para pemalsu barang akhirnya memproduksi dan mendistribusikan karet yang terlihat serupa namun dengan kualitas rendah. Mereka menggunakan karet murahan dan hanya mencelupkannya ke cat dan mengklaimnya sebagai Linatex yang mahal.

Perusahaan kecil seperti Midwest makin rawan menjadi target pencurian HAKI dari hari ke hari. Kondisi ini berbeda dari  perusahaan-perusahaan besar  yang sudah memiliki kekuatan keuangan yang solid untuk melawan pihak penjiplak teknologi mereka. UMKM sering mengalami keterbatasan sumber daya finansial untuk merebut kembali apa yang menjadi hak mereka dengan menyeret penjiplak ke muka hukum.

Tidak hanya di Indonesia, masalah pencurian HAKI juga masih menjadi isu utama di wilayah hukum AS tempat kesadaran dalam mempertahankan HAKI sudah relatif baik, demikian pernyataan International Trade Administration (ITA) mengenai masalah yang dihadapi eksportir AS di pasar dunia.

Para pencuri HAKI makin merajalela di pasar dan menggerus pangsa pasar produk asli  dan pendapatan perusahaan yang memegang hak paten, merek dagang dan hak cipta.

FBI bahkan menyatakan pemalsuan merugikan perusahaan-perusahaan AS hingga angka miliaran dollar AS akibat lenyapnya pemasukan setiap tahun. Dan ternyata makin keil skala bisnis perusahaan yang bersangkutan, semakin rawan ia terhadap isu HAKI ini.

Kyle Loven sebagai jubir FBI mengatakan ini menjadi masalah besar bagi UMKM yang belum terbiasa dengan iklim perdagangan dunia yang sangat ketat. “Saat mereka merambah belahan dunia lain, kami sering menemukan aturan yang tidak ada di wilayah AS. Dan sering aturan itu memberikan pengalaman buruk yang akhirnya menjadikan mereka lebih waspada dan cerdas,” tukas Loven.

Banyak perusahaan AS  yang mendaftarkan hak paten produk dan jasanya di setiap negara yang akan dituju sebagai tempat berbisnis, inilah yang menjadi kelemahan UMKM yang masih terbatas dananya dalam mengurus HAKI yang memang cukup menguras dana. Dibutuhkan nasihat dan konsultasi hukum dari pengacara profesional yang bersedia tutup mulut tentang komponen produk, proses pembuatan, distribusi dan pemasok yang sebisa mungkin tidak diketahui pihak luar terutama pesaing yang bisa saja berniat buruk menjiplak.

Midwest Rubber mendapatkan pelajaran berharga saat produk peniru dijual bebas di toko-toko. Mereka mengaku masih naif tentang HAKI dan tidak banyak menapatkan informasi tentang itu. Midwest kemudian mengatasinya dengan merangkul sejumlah pengacara di Cina dan Minneapolis tempat bisnis mereka dan dengan para pengacara pihak pemasok di seluruh dunia.

“Kami tidak ingin menuntut pihak lain secara hukum. Kami hanya ingin pelanggaran ini berhenti,” kata Anderson dari Midwest Rubber. (*AP)

Trik Tekan Ongkos Bagasi Saat Perjalanan Bisnis



Trik Tekan Ongkos Bagasi Saat Perjalanan Bisnis


Saat Anda melakukan perjalanan bisnis, mungkin hal yang terakhir terlintas dalam pikiran adalah bagaimana Anda bisa menghemat biaya bagasi. Barang-barang bawaan Anda bisa jadi sedikit saat berangkat tetapi menjelang kepulangan, Anda merasa kewalahan karena ternyata banyak yang harus dibawa pulang. Dan bagasi Anda beratnya melebihi ambang batas yang ditetapkan dari pihak penyelenggara jasa transportasi. Akhirnya, Anda harus membayar lebih mahal dan itu membebani anggaran perjalanan bisnis Anda. Lalu bagaimana jadinya jika Anda harus bepergian tidak cuma sekali dua kali tetapi berpuluh-puluh kali dalam setahun?

Tahukah Anda bahwa dengan trik khusus, Anda bisa menghindari kejadian semacam ini menimpa Anda terus menerus? Menurut Smarter Travel Media LLC di Airfarewatchdog.com, mengirimkan barang-barang bawaan dengan menggunakan jasa pengiriman barang bisa menghemat banyak biaya. Hampir 260 dollar bisa dihemat dengan menggunakan trik itu.

Sebagai gambaran, pada satu maskapai penerbangan, sebuah tas berat yang melampaui batas berat bagasi bisa menyedot biaya hampir 300 dollar dalam penerbangan domestik, tetapi mengirimkannya melalui perusahaan jasa pengiriman barang hanya akan menghabiskan biaya 40 dollar, tergantung pada carrier dan rute yang diambil.

Uniknya tidak hanya hemat, Anda juga bisa menikmati manfaat lain. Anda bisa melacak barang dengan lebih baik dengan jasa ini dan keterlambatan pengiriman yang bagi banyak orang sangat menjengkelkan. (*Akhlis)

Kue Non-Terigu ala Sri Murtiningsih



Kue Non-Terigu ala Sri Murtiningsih


Dalam berbisnis harus berinovasi. Tanpa inovasi, bisnis bak sayur tanpa garam. Bisnis dengan cara yang beda dari yang biasa itulah yang dilakukan seorang Sri Murtiningsih. Ia adalah pemilik usaha Hanah Cake and Cookies. Usaha kue telah digeluti Sri sejak ia kuliah.

Sekitar tahun 1992-1994, ia menjajakan kue untuk acara pernikahan. Pernah ia menjual kue sebanyak 1.500 potong untuk satu pesanan saja. "Tapi terputus karena selesaikan kuliah," ujar Sri.

Usaha kuliner ini pun dilanjutkannya pada tahun 2003. Sri yang pekerjaannya ibu rumah tangga ini melanjutkan usaha karena untuk kebutuhan mendesak di keluarganya. "Waktu itu jujur karena kepepet. Suami nggak punya ongkos," cerita dia.

Kala itu, ia menjual cake biasa dengan bahan dasar tepung terigu. Ia pun menjualnya dengan cara menitip di empat toko sekitar Depok. Ia juga menitip kue di lima fakultas di Universitas Indonesia hingga ke Sucofindo dan Bidakara. Dalam satu hari, ia membuat satu loyang kue yang kemudian dibagi jadi 36 potong. "Sempat sisa, ditaruh di bawah etalase. Bukan terjual justru dimakan anaknya (yang punya toko)," tuturnya.

Lalu, Sri pun mengambil langkah untuk ikut pelatihan di bidang kuliner tahun 2006-2007. Penggunaan tepung singkong menjadi bagian dalam pelatihan tersebut. Lantas ia pun mencoba menggunakan tepung singkong ini untuk usahanya. Ia mulai pakai tepung ini sebagai bahan dasar membuat kue tahun 2008. Sejak itu, ia tidak lagi memakai tepung terigu sebagai bahan dasar kuenya, kecuali untuk kue jenis black forest.

Sri menuturkan, dari 20 orang yang ikut pelatihan, hanya dirinya yang masih terus bertahan menggunakan tepung singkong. Awalnya, ia mengaku susah menggunakan tepung yang berasal dari umbi-umbian tersebut. Dikatakannya, kualitas singkong bisa jelek jika musim hujan. "Cuaca bagus, singkong bagus," tuturnya.

Kesulitan lainnya adalah mengenai volume pembelian tepung yang harus dalam jumlah besar dari pabriknya. Setiap pembelian, Sri harus beli minimal 50 kilogram. Satu kilogram tepung singkong seharga Rp 6.000. Karena harus beli banyak, ia pun tidak memakai semua tepung. Sebagian ia jual kembali. "Kan belum banyak di pasaran," ungkapnya.

Kondisi yang demikian tak membuat semangat Sri padam untuk mengembangkan usaha yang sebenarnya membantu program diversifikasi pangan pemerintah. Ia pun menyebutkan banyak hal positif dari tepung singkong ini. Ketimbang tepung terigu, tepung singkong ternyata lebih banyak kandungan serat, protein, zat besi, hingga kalsium. Singkong pun punya kandungan garam yang rendah. "Lebih padat teksturnya daripada tepung terigu," kata Sri menjelaskan perbedaannya ketika diolah menjadi kue.

Karena keunggulan tepung singkong ini, ia pun menyasar anak-anak autis sebagai konsumennya. Karena anak autis harus makan makanan yang gluten free. Jadi tepung dari umbi-umbian menjadi salah satu yang masuk kriteria. Modal yang harus disiapkannya untuk melayani konsumen khusus ini pun terbilang besar. Lantaran kue tidak bisa sembarang membuat. Ada bahan-bahan tertentu yang tidak bisa dikonsumsi. Modalnya, kata Sri, bisa di atas Rp 500.00 untuk sekali pesanan. Untungnya, pesanan lancar-lancar saja. Produk Sri bisa pesan lewat pesan teks (SMS) dan pembayarannya melalui transfer.

Usaha kue browniesnya pun sekarang tidak hanya memakai tepung singkong. Ia juga memakai sagu ganyong yang juga jenis umbi-umbian. Jika tepung singkong didapatkan dari pabrik, sagu ganyong diperolehnya langsung dari petani di daerah Ciamis.

Keanekaragaman bahan pangan yang ditunjukkan dalam usahanya membawa Sri mendapatkan penghargaan dari Kementerian Perdagangan tahun 2009. Sri berhasil menang UKM Award untuk program diversifikasi pangan. Selanjutnya, ia pun menjadi UKM binaan Kemendag. Manfaatnya, ia diikutsertakan dalam sejumlah kegiatan seperti Food Security Summit.

Perlu diketahui, usaha Sri bukanlah tanpa hambatan. Ia bercerita, usahanya ini masih punya masalah permodalan. Pasalnya, ia berkeinginan mempunyai pabrik kue sendiri dan toko kue kecil. Pemasaran juga masih menjadi masalah usahanya. Karena itu, ia pun masih menjajakan produknya dengan cara pesanan. "Masih pesanan misalnya untuk komunitas ibu-ibu (yang anaknya penyandang autis)," tambahnya.

Sekalipun demikian, Sri berharap pendirian pabrik dan toko kue segera terwujud. Sekarang ini dia masih membuat kue brownies dan cookies di dapur rumahnya. "Usaha sih pingin buat mini factory, tapi mahal biaya peralatannya. Ya mudah-mudahan tahun depan," pungkas Sri. (*/Kompas.com)

7 Tokoh Inovasi Masa Kini



7 Tokoh Inovasi Masa Kini


Dalam dunia entrepreneurship yang dinamis ini, Anda sebagai entreperneur perlu mengikuti dinamikanya dari waktu ke waktu dengan mengikuti pemikiran tokoh-tokoh kunci terutama yang memiliki keahlian dalam inovasi, karena salah satu inti entrepreneurship ialah inovasi yang kontinu.

Berikut adalah 7 tokoh sekaligus penulis dan pemikir yang paling terkemuka menurut versi Harvard Business Review:
1. Horace Dediu. Ikuti pemikirannya di blognya Asymco. Ia lebih banyak membahas tentang ponsel dan industri yang relevan.
2. Jeffrey Dyer dan Hal Gregersen. Keduanya menulis "The Innovator's DNA" yang berisi tentang 5 perilaku yang membantu sukses inovasi (associational thinking, questioning, observing, networking, dan experimenting), dan berikan kiat praktis untuk lebih kuat dalam berinovasi.
3. Braden Kelley. Kelley menulis "Stoking Your Innovation Bonfire". Ia merupakan salah satu penuis utama di situs Innovation Excellence.
4. Stefan Lindegaard. Lindegaard berpengalaman dalam "inovasi terbuka" dan menulis "making Innovation Work". Kunjungi situsnya di 15inno.com.
5. Alexander Osterwalder. Ia menulis "Business Model Generation" dan menyajikan pendekatan yang berorientasi pada alat dan bersumber terbuka.
6. Eric Ries. Eric amat terkenal dengan bukunya "The Lean Startup". Ia menekankan pentingnya "membuang yang tak penting" dalam manajemen startup yang baik.
7. Peter Sims. Sims menulis "Little Bets" yang mudah dipraktikkan dan memberikan banyak contoh nyata mengenai pentingnya eksperimen saat berinovasi. (Selengkapnya di blog.hbr.com/*AP)

Social Media, Sektor Industri Paling Menjanjikan di AS



Social Media, Sektor Industri Paling Menjanjikan di AS



Sebuah laporan khusus yang dirilis di bulan Januari 2011 berdasarkan penelitian yang dilaksanakan IBIS World menerangkan bahwa ada 11 sektor industri yang dianggap paling menjanjikan di masa depan untuk perusahaan-perusahaan baru (startup). Ini didasarkan pada kontribusi pada ekonomi AS, kendala untuk memasuki pasar, perubahan teknologi, skala usaha rata-rata dan proyeksi pertumbuhan  bisnis.

Dari 11 sektor tersebut, yang terpilih ialah social media atau jejaring sosial. Penggunaan jejaring sosial untuk bisnis sangat pesat mengubah opsi teknologi tinggi menjadi setara dengan ekspektasi konsumen. Hampir semua pemilik UKM di sana menyadari keberadaan beberapa situs layanan jejaring sosial besar - 97% dari mereka pernah mendengar Facebook dan 94% juga sudah familiar dengan Twitter, demikian menurut "State of Small Business Report" pada bulan Januari 2011 yang dilaksanakan oleh Rockbridge Associates. Namun, hanya 7% yang menggunakan Twitter untuk perusahaan mereka , sementara layanan jejaring sosial yang paling banyak digunakan ialah Facebook (27%), diikuti LinkedIn (18%).

Studi ini menyimpulkan bahwa jejarin sosial membantu UKM untuk tetap berhubungan secara interaktif dengan para pelanggan (63%), mengembangkan keasadaran yang lebih tinggi akan keberadaan perusahaan di pasar yang dibidik (61%), dan mengidentifikasi serta menarik pelanggan baru (59%). Sejumlah pemilik UKM merasa kecewa dengan hasil itu. Sebanyak 36% yakin bahwa social media tidak memenuhi ekspektasi mereka. Sebagai koneskuensi pengguna jejaring sosial, sebanyak 27% pemilik UKM berencana untuk menambah investasi mereka di situs-situs perusahaan yang sudah dibuat. (Entrepreneur/*AP)

5 Kiat Manajemen Jejaring Sosial bagi Pelaku Bisnis Real Estate



5 Kiat Manajemen Jejaring Sosial bagi Pelaku Bisnis Real Estate



Mereka yang berkecimpung dalam dunia  pemasaran  real estate juga perlu memanfaatkan  jejaring sosial dalam memenjual produk-produk mereka. Kini juga makin banyak dijumpai perusahaan-perusahaan properti tidak hanya mengandalkan iklan di media massa cetak tetapi juga mencoba pemasaran digital yang terbukti lebih luas jangkauannya.

Menurut Katie Lance, seorang praktisi di bidang bisnis properti sekaligus CEO dan pemilik Katie Lance Consulting dan Kepala Strategi Inman News (jaringan online untuk berita real estate dan teknologi), terdapat 5 poin yang bisa diterapkan oleh para pebisnis dan pelaku industri real estate saat berada di jejaring sosial.  Berikut adalah strateginya dalam bidang jejaring sosial  terutama untuk  industri real estate.

Konsistensi
Kunci utama dalam keberhasil di jejaring sosial ialah konten yang diunggah secara konsisten. Anda tidak bisa mempublikasikan tweet atau mengunggah status ke Facebook sekali sebulan dan kemudian bersantai-santai mengharapkan penjualan akan naik. Anda harus menyisihkan waktu di jejaring sosial setiap hari, seperti halnya Anda harus menyisihkan waktu untuk berkomunikasi via surat elektronik, telepon, dan lain-lain. Anda perlu menggunakan layanan pengelola jejaring sosial seperti Tweetdeck, dan Hootsuite untuk lebih  efisien dalam manajemen akun sosial media.

Susun strategi konten
Anda harus menyusun sebuah strategi konten yang akan sukses dalam jangka pendek dan panjang. Tanyakan pada diri Anda sendiri, jenis konten apakah yang paling relevan dengan brand real estate Anda untuk audiens Anda dan ke mana saya akan mendapatkan konten itu? Berikutnyam buatlah rencana konten atau kalender editorial tempat Anda bisa memetakan topik-topik yang akan diunggah selama 30-60 hari mendatang. Kumpulkan dan sortir konten yang masuk menggunakan Google Alerts atau dengan menggunakan daftar spesifik di Twitter untuk jenis konten tertentu yang ingin Anda retweet dan publikasikan kembali ke pengikut/ fans brand real estate Anda.

Jangan lupa unsur lokal
Saat Anda merencanakan strategi konten, pastikan memasukkan hal-hal yang hanya diketahui penduduk setempat seperti tempat terbaik untuk mendapatkan makanan enak di kota lokasi brand Anda. Menjual atau membeli real estate kadang sangat merepotkan karena rumah sangat terkait dengan lingkungan sekitarnya. Anda mungkin akan menolak jika ditawari rumah murah dan bagus di lingkungan yang tingkat kriminalitasnya tinggi atau ketersediaan airnya kurang memadai. Pahamilah bahwa audiens dan klien potensial Anda menyukai informasi dengan unsur lokal tersebut. Dan sebagai profesional, Lance menyarankan Anda agar memiliki perbedaan dari para pesaing karena itulah yang membuat Anda berbeda dan dicari orang lebih banyak.

Bereksperimen dengan berani
Pahamilah bahwa percakapan tidak terjadi begitu saja di laman Facebook dan stream Twitter. Percakapan mengenai real estate terjadi di kelompok Facebook, dalam percakapan pribadi di jejaring sosial dan di jejaring sosial Twitter.com. Mengunggah status dan tweet ke kanal sosial Anda juga harus diiringi kesadaran penuh bahwa sebelum Anda terjun, banyak sekali percakapan mengenai real estate sudah terjadi sebelum Anda. Masukilah lingkaran itu. Bicaralah dalam lingkungan yang akrab dengan isu real estate. Percakapan tersebut sudah dan masih akan tetap terjadi meski Anda sudah pergi. Anda jangan sampai mengabaikan peluang untuk bergabung di sana. Berinteraksilah dengan mereka yang sudah ada di jejaring sosial. Gunakan pencarian dengan tema tertentu untuk menemukan tweet-tweet dengan tema real estate di seluruh dunia dan berikan tanggapan Anda jika memungkinkan atau retweet.

Temukan cara untuk mengukur keberhasilan kampanye jejaring sosial
Tahukah Anda status Facebook atau tweet mana yang mendapatkan jumlah klik atau pelibatan aktif  tertinggi? Apakah Anda tahu berapa traffic situs Anda dari berbagai jejaring sosial yang digunakan? Apakah Anda tahu lokasi audiens Anda? Pastikan Anda memeriksa Google Analytics dan Facebook Insights seminggu sekali untuk meningkatkan keberhasilan kampanye marketing di jejaring sosial. (*AP)

Menghadapi Pekerjaan yang Kurang Menyenangkan



Menghadapi Pekerjaan yang Kurang Menyenangkan



Jika Anda kurang bahagia di tempat bekerja sekarang, etntah sebagai entrepreneur, pemilik bisnis atau pekerja, Anda tak perlu menganggapnya sebagai beban berat yang akhirnya malah akan membuat Anda sakit atau tidak produktif. Dan yang penting Anda tidak perlu berhenti di tengah jalan hanya karena ini.

Berikut adalah trik bagaimana menghadapi pekerjaan yang kurang sempurna di mata Anda:

1. Berterus terang mengenai apa yang kurang Anda sukai: Anda mungkin tidak bisa mengubah keadaan dan kondisi kerja Anda atau deskripsi pekerjaan Anda, tetapi Anda mungkin bisa meminimalkan waktu yang Anda habiskan untuk melakukan bagian pekerjaan yang kurang Anda sukai.
2. Eratkan hubungan sosial: Hubungan yang erat antarindividu di sebuah lingkungan kerja terbukti ampuh dalam menggenjot semangat kerja terutama sikap dan pemikiran Anda mengenai pekerjaan yang Anda jalani. Habiskan waktu dengan teman-teman kerja yang Anda sukai dan hindari mereka yang kurang Anda sukai.
3. Berpandangan terbuka: Anda mungkin terjebak dalam pekerjaan ini karena tidak ada tawaran pekerjaan lain atau karena keadaan ekonomi yang kurang menguntungkan sehingga Anda harus tetap bisa mencari nafkah. Namun, kondisi bisa berubah, cepat atau lambat. Yakinlah bahwa resume kerja dan profil LinkedIn Anda terus diperbarui dan Anda terus menjalin hubungan profesional dengan orang-orang yang berkompeten dalam bidang industri yang Anda tekuni. Tak mustahil suatu saat nanti Anda akan mendapatkan peluang yang selama in Anda idamkan dari koneksi dan kolega baru itu.

Chairul Tanjung Tentang Kunci Suksesnya



Chairul Tanjung Tentang Kunci Suksesnya



Ciputraentrepreneurship News, Jakarta - Dengan makin makmurnya masyarakat Indonesia yang ditandai dengan naiknya pendapatan per kapita, perubahan gaya hidup juga terjadi dalam segala lini kehidupan mereka. Dari gaya hidup yang lebih sederhana, mereka kini tidak sungkan membelanjakan lebih banyak uang untuk hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh generasi pendahulunya. Contohnya saja dulu orang menggunakan satu jenis sabun untuk membersihkan badan, rambut, barang-barang rumah tangga. Namun, kini trennya sudah sama sekali lain. Orang menggunakan berbagai macam produk untuk satu kegunaan: membersihkan.

Kemampuan membaca tren masa depan itulah yang menurut entrepreneur pendiri CT Group, Chairul Tanjung, menjadi kunci sukses para entrepreneur. "Sebentar lagi bangsa ini kian masuk kisaran pendapatan per kapita di atas 10 ribu dollar AS. Naiknya pendapatan per kapita ini juga berpengaruh pada karakteristik lifestyle yang berbeda," papar Chairul di acara talkshow pembukaan Global Entrepreneurship Week 2012 yang mengangkat tema "Indonesia Berwirausaha dengan Inovasi".

Ia mencontohkan tren penurunan konsumsi beras. Saat seseorang makin makmur, jumlah konsumsi beras juga menurun. "Orang yang makan beras makin lama makin sedikit,"  ujarnya. Banyak orang yang saat menjadi makin sejahtera menghindari beras karena takut menjadi gemuk dan menderita penyakit karena terlalu banyak makan karbohidrat.

Kunci sukses seorang entrepreneur, lanjutnya, ialah kemampuannya membeli masa depan dengan harga sekarang. Chairul mencontohkan bagaimana Ir. Ciputra menerapkan konsep itu dalam bisnisnya. (*AP)

Cara Memilih Bidang Usaha yang Tepat



Cara Memilih Bidang Usaha yang Tepat



Dinamisnya perkembangan dunia bisnis dewasa ini membuat banyaknya bermunculan bidang-bidang usaha baru. Hal tersebut tak pelak bisa membuat kita bingung saat akan memulai berwirausaha, mana dan bidang usaha apa yang cocok dan prospek untuk kita tekuni? Sebenarnya ada beberapa prinsip dasar yang bisa membantu kita dalam memilih bidang usaha untuk ditekuni.

Untuk itu kita bisa menggolongkannya kedalam 2 kelompok. Pertama, prinsip dasar inside dan outside. Prinsip dasar inside berhubungan langsung dengan kita sebagai pelaku usaha, diantaranya :

a. Passion atau minat. Wirausaha adalah sebuah kegiatan yang berkelanjutan. Kita tidak bisa berwirausaha hanya sesaat kemudian berhenti. Keberhasilan selalu berdampingan dengan ketekunan, tidak ada usaha yang tiba-tiba menjadi besar. Oleh sebab itu hendaknya kita memilih bidang usaha yang berhubungan dengan passion atau minat kita.

Dalam mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan minat kita tidak akan membuat kita merasa jenuh, dan ini sangat baik ketika kita berwirausaha. Disamping itu menjalankan usaha yang sesuai dengan minat akan lebih memperbesar prosentase keberhasilan usaha yang kita tekuni, sebab kita akan sangat bergairah dan bahagia saat harus menjalani kegiatan usaha seperti melayani konsumen, memanage karyawan dan sebagainya.

b. Kapabilitas atau kemampuan. Baik dan tidaknya perjalanan usaha kita akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjalankan bidang usaha yang kita pilih. Oleh karena itu hendaknya pilih bidang usaha yang kita memang ada kemampuan untuk menjalankannya. Meski kemampuan ini bisa kita upgrade atau tingkatkan dengan belajar, namun alangkah lebih baik jika kita memulai usaha dengan sesuatu yang kita memang sudah memiliki kemampuan untuk bidang tersebut.

Sedangkan prinsip dasar outside berkenaan dengan kondisi pasar. Adakah pasar yang sesuai dengan bidang usaha yang kita pilih? Sekarang dengan bantuan teknologi internet kita bisa memasarkan produk apa saja dari tempat manapun. Sebab internet memiliki fleksibilitas tinggi untuk menghubungkan kita dengan orang-orang yang tepat dan sesuai dengan produk yang kita tawarkan. (*artikelwirausaha.com)

Social Entrepreneurship, Sayap Pengubah Kesejahteraan



Social Entrepreneurship, Sayap Pengubah Kesejahteraan



Social entrepreneurship alias kewirausahaan sosial diyakini banyak kalangan sebagai salah satu solusi terhadap masalah sosial dan ekonomi. Malah tidak sedikit yang beranggapan bahwa kewirausahaan sosial salah satu solusi mengatasi kemiskinan.


Anggapan tersebut yang diyakini Bill Drayton, pendiri sekaligus CEO Ashoka, asosiasi global para wirausahawan sosial yang bermarkas di Washington DC, Amerika Serikat. Kewirausahaan sosial, kata Drayton, adalah wadah di mana sektor bisnis dan masyarakat bekerja secara bersamaan. Dengan makna yang lebih dalam, setiap orang bisa menjadi agen perubahan yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kewirausahaan sosial adalah profesi pertama yang terorganisasi secara global,” ungkapnya sebagaimana dikutip Ashoka.org.

Kendati begitu,tanggung jawab seorang wirausahawan sosial amat berat. Sebab, bukan hanya perubahan sosial yang harus diciptakan, tetapi juga harus mampu mengubah sistem yang berlaku di masyarakat. Wajar jika muncul asumsi yang menyebutkan kewirausahaan sosial adalah pertemuan antara pola kapitalisme dan sosialisme.

Terlepas dari asumsi apa pun yang muncul, kewirausahaan sosial mampu menciptakan inovasi sosial yang diukur dari seberapa besar unsur kebaruan yang dikreasikan dalam memberikan dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Awalnya kewirausahaan sosial ditujukan sebagai kegiatan nirlaba. Di mana praktik-praktik yang dilaksanakan hanya bertujuan untuk perubahan sosial di masyarakat. Tetapi, inovasi yang muncul dari kewirausahaan sosial justru menumbuhkan hasil ekonomi sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perilaku manusia selalu di dorong motif ekonomi. Dengan mendapat hasil ekonomi,manusia akan terpacu dan terus memelihara usahanya. Peran sosial tercapai, kemiskinan bisa diatasi, dan keberlanjutan kegiatan lebih terjamin. Meski begitu, kewirausahaan sosial masih tetap mempertimbangkan untung rugi layaknya bisnis pada umumnya. Prinsip-prinsip ekonomi seperti efisiensi pendanaan juga diterapkan.

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah orientasi keuntungan yang diraih dinikmati secara pribadi, atau bersama- sama masyarakat sekitar? Sebab, belakangan muncul asumsi bahwa kewirausahaan sosial mengalami pergeseran. Kini tidak semata-mata bicara soal sosial tetapi lebih kepada unsur bisnis. Dengan kata lain, kewirausahaan sosial berkembang menjadi salah satu private entrepreneurship. Tetapi anggapan itu disanggah keras Drayton dalam Jurnal Innovation 2006 dengan menyebutkan apa yang dilakukan wirausahawan sosial semata-mata untuk menciptakan perubahan di bidang ekonomi dengan kegiatan-kegiatan sosial. “Apa yang mereka lakukan bukanlah pekerjaan, tetapi itu adalah hidupnya,” tegas Drayton.

Contoh sukses aksi kewirausahaan sosial ditunjukkan pria Bangladesh, Muhammad Yunus, dengan sistem Grameen Bank. Peraih Nobel Perdamaian 2006 ini tidak hanya menetapkan pola baru untuk kredit mikro bagi masyarakat kecil, tetapi juga menghilangkan jarak antara perbankan dengan masyarakat kecil yang selama ini selalu dianggap tidak layak bank (bankable). Sejak nama Yunus muncul, banyak orang bertanya, usaha yang ditekuninya ini bisnis atau sosial?

Di satu pihak, Yunus membebaskan masyarakat dari kemiskinan, namun di lain pihak, lembaga yang ditanganinya dikelola secara profesional bisnis. Tetapi, Yunus menjawabnya dengan tetap mempertahankan prinsip awal Grameen Bank sebagai bentuk kewirausahaan sosial, didasarkan kepada tanggung jawab sosial pada masyarakat. Terbukti, Yunus sukses memerangi kemiskinan di negaranya. Menurut Yunus, masyarakat menjadi miskin bukan karena mereka malas atau bodoh. Orang menjadi miskin karena mereka tidak memiliki struktur finansial yang bisa membantunya. Kemiskinan, kata Yunus, adalah masalah struktural, bukan persoalan personal.

“Supaya bisa terbang, Anda harus punya sayap. Bagi orang-orang miskin, modal yang murah adalah sayap. Kalau tidak punya sayap, mereka tidak akan bisa keluar dari kemiskinan,” tandas Yunus.

Karena itu, Yunus memberi masyarakat di sekitarnya akses untuk mendapatkan sayap-sayapnya sendiri.Sebab,ada orang yang terperangkap kemiskinan karena ulah mereka sendiri, karena cara berpikir yang keliru. Ada yang dibentuk nilai-nilai sosial yang dianut, ada yang mengalami kesulitan tertentu. Namun ada pula yang miskin karena “tak punya sayap” seperti kesehatan, pendidikan, akses permodalan dan pasar, teknologi, infrastruktur, dan lain sebagainya.

Melalui Grameen Bank, Yunus berhasil menyelamatkan jutaan warga Bangladesh dari kemiskinan. Bahkan, sistem yang dia gunakan di Grameen Bank kini diadopsi di berbagai negara dunia ketiga untuk memerangi kemiskinan, termasuk Indonesia. (*/Harian Seputar Indonesia)

3 Cara Tangani Gangguan Mendadak dalam Bisnis



3 Cara Tangani Gangguan Mendadak dalam Bisnis


Dalam dunia masa kini yang akrab dengan krisis, perubahan nilai tukar mata uang dan ancaman teroris serat bencana alam, penting sekali bagi entrepreneur untuk memiliki ketrampilan menghadapi keadaan yang mengganggu jalannya roda bisnis mereka secara parsial atau keseluruhan, dalam waktu sementara atau permanen.


Ketrampilan menghadapi yang tak terduga merupakan bagian inti menjadi entrepreneur sukses dan berikut ini merupakan 3 cara yang Anda bisa lakukan untuk meningkatkan memberikan tanggapan dan antisipasi terhadap berbagai jenis gangguan pada bisnis dan meminimalkan dampak buruknya menurut Rosabeth Moss Kanter dalam tulisannya "Surprise! Four Strategies for Coping with Disruptions":

Cara 1: Susun rencana cadangan

Anda mungkin tidak selalu mampu melaksanakan rencana B tetapi Anda seharusnya memiliki pendekatan alternatif lainnya yang dapat membantu Anda  keluar dari krisis secepatnya. Tanpa adanya sebuah rencana cadangan, fleksibilitas mental dapat membantu Anda merespon dengan lebih cepat dan efektif.

Cara 2: Percepat komunikasi

Informasi perlu sekali untuk disampaikan ke sepanjang jajaran perusahaan secara cepat dan efektif. Temukan cara untuk mengumpulkan dan membedah dan menganalisis serta menginterpretasi data dalam siklus pendek.

Cara 3: Terapkan prinsip-prinsip berbisnis yang mencerminkan kultur perusahaan

Prinsip dan nilai yang ada dalam perusahaan membantu menemukan solusi dari krisis tanpa harus memberitahukannya pada seluruh staf dan jajaran direksi yang ada atau menunggu perintah atasan. Prinsip dan nilai budaya perusahaan bisa mempersatukan orang-orang yang bernaung di dalamnya dan membantu pemulihan agar terjadi lebih cepat dan efektif. (*AP)

Sumber gambar:
Edudemic.com.

5 Tips Merintis Bisnis Pribadi



5 Tips Merintis Bisnis Pribadi


Tidak puas dengan pekerjaan yang sekarang? Mungkin sudah saatnya Anda mencoba untuk memulai bisnis sendiri. Jika benar demikian, simak tips bagaimana cara merintis bisnis pribadi selengkapnya seperti yang dilansir dari US News, berikut ini.

Tabungan
Sebelum merintis bisnis, ada baiknya Anda menyiapkan tabungan yang cukup. Simpan gaji bulanan mulai dari sekarang dan buat catatan keuangan untuk mengelola pemasukan dan pengeluaran.

Waktu luang
Apa yang biasanya Anda lakukan untuk menikmati waktu luang? Jika selama ini Anda kerap menghabiskan uang, ubah kebiasaan tersebut menjadi mengumpulkan lebih banyak pemasukan. Tentu saja tabungan akan semakin cepat bertambah dan Anda bisa segera memulai bisnis pribadi.

Jenis bisnis
Jangan latah memulai bisnis yang sepertinya sukses jika dijalankan. Sebaliknya, lakukan hal yang Anda sukai agar Anda menikmatinya. Sebab jika Anda bisa menikmatinya, Anda pasti akan mampu mengembangkan bisnis dan lebih sukses dari orang lain.

Kemampuan diri
Anda harus paham betul dengan kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Pasalnya Anda pasti akan dituntut untuk terus mengasah kelebihan dan mengatasi kekurangan demi mengembangkan bisnis.

Mempelajari konsumen
Jenis bisnis yang dijalani berhubungan dengan minat konsumen. Anda pun harus lebih banyak belajar tentang tren dan hal yang dibutuhkan konsumen. Dengan demikian, Anda akan bisa bertahan dalam persaingan bisnis yang lain.

Satu lagi yang harus Anda perhatikan, pantau aktivitas saingan bisnis sebagai patokan dalam meningkatkan bisnis Anda. Semoga sukses. (*/merdeka.com)

Friday, April 4, 2014

Melirik Tawaran Kemitraan Martabak Mini Afrika Waka-Waka



Melirik Tawaran Kemitraan Martabak Mini Afrika Waka-Waka


Martabak merupakan salah satu jenis makanan yang digemari masyarakat. Tak ayal, pedagang martabak mudah ditemui. Poma Indrajaya, merupakan salah satu pebisnis yang sukses terjun di bisnis ini. Dengan mengusung "Martabak Mini Afrika Waka-Waka" Poma mampu menjaring banyak pelanggan.

Poma mengatakan, dirinya berbisnis martabak sejak tahun 2008. Menjawab banyaknya pelanggan, Poma menawarkan kemitraan sejak 2011. Hingga kini, Poma mempunyai sekitar 14 mitra.

Poma menawarkan kemitraan sebesar Rp 9,7 juta. Dari paket investasi tersebut, mitra akan mendapatkan booth dan sarana peralatan kerja. "Sudah banyak yang mau bergabung menjadi mitra karena kami memberikan pendidikan dan strategi pasar," ujar Poma saat dihubungi Ciputraentrepreneurship.com.

Dengan paket kemitraan tersebut, Poma menargetkan penjualan 45 kotak per hari. Dengan penjualan sebanyak itu, mitra diproyeksikan bisa balik modal dalam jangka waktu 2 bulan lamanya. Setiap kotak martabak dibanderol Rp 10.000 dengan isi 3 martabak mini.

"Nah, kalau tempat penjualannya strategis, banyak yang mengunjungi. Maka kami yakin penjualannya akan bagus dan pastinya akan cepat balik modal," katanya.

Menurut Poma, strategi pemasaran yang bagus dengan melakukan promosi yang gencar serta melakukan inovasi secara terus menerus. "Agar pelanggan tidak bosan dengan sajian yang diberikan," katanya.

Dengan strategi itu, Poma menargetkan memiliki banyak mitra. "Setidaknya 100 mitra bergabung dengan kami," tutupnya. (*DI)

5 Saat Tepat Menjual Usaha Anda



5 Saat Tepat Menjual Usaha Anda




Sebagai entrepreneur, pikiran untuk menjual bisnis Anda bukanlah sebuah ide yang tidak mungkin terlintas. Sebagian entrepreneur bahkan mendirikan bisnis agar bisa dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi kelak. Meski begitu, ada juga yang lebih suka untuk tetap bekerja dalam bisnis yang ia dirikan, tak peduli ada yang ingin membeli bisnisnya atau tidak.

Bila Anda adalah seorang entrepreneur yang memiliki bisnis, mungkin Anda pernah juga bertanya, “Adakah saat yang tepat untuk menjual bisnis saya?” Jawabannya memang ada. Berikut adalah 5 skenario yang memungkinkan Anda bisa menjual bisnis Anda sekarang.


Tawaran yang diberikan terlalu menggiurkan untuk ditolak
Anda mungkin bahkan tidak bertujuan untuk menjual saat seorang investor yang tertarik memberikan tawaran pembelian bisnis. Namun, itulah yang terjadi. Biasanya, inilah indikator bahwa Anda sedang di atas puncak. Kini saatnya Anda harus menimbang kemungkinan penjualan bisnis. Jika tawaran tunai cukup tinggi dan Anda mungkin masih ingin terlibat dalam bisnis yang sudah Anda dirikan susah payah, Anda bisa mengajukan kesepakatan untuk bisa tetap bekerja di dalamnya meski akan ada pengurangan otoritas. Di sisi lain, Anda mungkin sudah siap menjual bisnis. Bila tawaran bagus atau masih dalam kisaran yang wajar, mungkin waktunya bagi Anda untuk menimbang lebih masak faktor-faktor lain di bawah ini.

Misi tercapai
Anda mungkin awalnya memasuki dunia bisnis dengan satu misi di benak. Dan saat Anda kini sudah merasa bahwa tujuan tersebut tercapai, mungkin sudah saatnya Anda menjual bisnis yang sekarang dan berlanjut untuk mendirikan usaha baru yang lain. Itulah rasa haus akan tantangan yang dirasakan entrepreneur sejati. Anda tak begitu menyukai kemapanan dan status quo dan ingin mencetak prestasi terus menerus dengan menaklukkan berbagai tantangan.

Misalnya tujuan Anda ialah membuka 5 restoran sukses atau membangun basis klien atau pelanggan dalam tingkatan yang representatif yang akan menarik lebih banyak pembeli. Jika ini adalah apa yang Anda alami, tak ada salahnya untuk mempertimbangkan opsi menjual dan berpindah ke usaha selanjutnya sebelum Anda bosan.

Merasa muak
Anda merasa sudah bekerja di sana terlalu lama dan Anda merasa bosan waktu demi waktu bekerja di usaha yang sama. Mungkin sudah waktunya Anda menjual  usaha tersebut atau bisa jadi ada opsi-opsi lain dalam kasus ini.

Mungkin menjualnya bukan satu-satunya opsi di sini. Mungkin Anda akan lebih bahagia saat memasuki peran yang berbeda dan merekrut pengganti atau menggunakan jasa outsource untuk menangani aspek-aspek pekerjaan yang tak terlalu Anda sukai. Sebenarnya Anda menemukan manfaat yang demikian besar dalam mengambil langkah mundur sejenak, bahkan liburan 1 minggu bis amembantu Anda untuk menjernihkan pikiran. Mungkin itu jawabannya untuk menggairahkan kembali semangat Anda dalam bekerja. Mungkin juga Anda semakin mantap dengan keputusan untuk berpindah ke usaha lain.


Merasa lebih baik mencurahkan potensi di tempat lain
Berbagai hal berubah seiring berjalannya waktu. Bahkan perusahaan yang sudah mapan dan berusia tua seperti sebuah firma hukum harus mengubah cara mereka melakukan kegiatan bisnisnya. Berbagai pembaruan harus dilakukan seperti dalam aspek teknologi, software dan pemasaran. Seorang pemilik firma hukum mungkin akan sangat muak untuk menjalankan bisnisnya dan merasa bahwa ia menikmati atau mencetak prestasi lebih baik dalam pengembangan software inovatif untuk firma hukum, sehingga saatnya ia mengubah lansekap bidang industri yang ia tekuni. Tentunya ini bisa berarti akan ada lebih banyak jenis industri yang lebih transitif  pula. Katakanlah berpindah dari restoran elegan nan mewah menuju restoran yang lebih santai namun tetap bergaya. Semua tergantung pada selera pemilik dan perubahan pasar. Tak ada yang patut dihindari dalam perubahan!

Masa depan suram
Memulai, menjalankan dan memiliki bisnis sendiri berarti Anda memiliki lebih banyak pengetahuan mengenai industri tertentu dari kebanyakan orang.  Anda mungkin melihat tantangan besar bagi bisnis Anda yang membuat Anda begitu kewalahan sehingga Anda bisa mendapatkan keuntungan untuk mengubah arah bisnis.

Jika Anda menemui suatu ‘bahaya’ dalam perjalanan bisnis Anda, mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk menjualnya atau melikuidasinya sebelum benar-benar terlambat. Menjual bisnis Anda bukan keputusan yang mudah dan harus dipertimbangkan dari segala aspek dengan matang.

Apa yang akan Anda lakukan dalam kondisi di mana Anda diharuskan menjual usaha Anda? Akankah Anda akan beralih ke usaha lain yang lebih menjanjikan, kembali menimba ilmu di bangku kuliah atau mungkin memulai bekerja untuk perusahaan lain karena Anda sekarang paham betapa sulitnya beban kerja seorang entrepreneur? (*AP)

Pebisnis Mampu Merubah Keadaan yang Lebih Baik



Pebisnis Mampu Merubah Keadaan yang Lebih Baik


Banyak definisi pebisnis atau wirausaha dalam kamus besar Bahasa Indonesia orang yang pandai atau berbakat mengenai produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.”

Menurut Paulus Winarto dalam bukunya First Step to be an Entrepreneur, lima ciri untuk disebut entrepreneur atau pebisnis unggulan adalah sebagai berikut :

1. Berani mengambil resiko
Artinya berani memulai sesuatu yang serba tidak pasti dan penuh resiko. Seperti pendapat Billi P.S.Lim, Anda harus berani gagal, oleh karena memiliki usaha tidak selalu mendapatkan keuntungan, bahkan mungkin kerugian dan kebangkrutan. Selain itu Anda juga tidak memperoleh hasil yang fixed atau gaji seperti saat bekerja. Namun jika Anda tidak mencobanya dengan berani gagal, bagaimana Anda akan tahu bahwa hasilnya akan gagal. Di sinilah Anda harus bermimpi dan punya keyakinan untuk sukses dan niscaya akan sukses.

2. Menyukai tantangan
Melihat segala hal sebagai tantangan bukanlah suatu masalah. Akibat kondisi perekonomian yang tidak stabil, para entrepreneur sejati tidak melihat hal ini sebagai suatu ancaman, tetapi peluang untuk mendapatkan kesuksesan. Mereka malah lebih giat dan memacu usaha dengan ide – ide dan kreativitasnya.

3. Punya daya tahan tinggi
Seorang entrepreneur harus memiliki banyak akal dan tidak mudah putus asa karena ia harus segera bangkit dari kegagalan. Banyak cerita tentang wirausaha sukses yang telah melakukan banyak kegagalan.

Anda tentu mengetahui perusahaan otomotif Honda. Pemilikinya Soichiro Honda, mengatakan: “Sukses hanya dapat diraih dengan kesalahan beberapa kali. Kesuksesan saya mewakili 1% kerja yang dihasilkan dari 99% kesalahan”. Contoh lainnya, semua orang pasti mengenal Thomas Alva Edison, sang penemu lampu. Tahukah Anda, pada usia tujuh tahun, ia pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap murid terbelakang. Untungnya ibunya pernah mengajar sehingga selama tiga tahun Edison kecil sekolah, diajar, dibimbing oleh ibunya di rumah. Percobaan – percobaan yang dilakukan Edison sejak usia 10 tahun hingga menjelang akhir hayatnya di usia 80 tahun merupakan hasil dari pendidikan yang diajarkan okeh ibunya di rumah.

Edison yang lahir tahun 1987 ini benar – benar orang yang ulet dan pantang menyerah. Kesunyian yang ia rasakan akibat kurangnya pendengaran justru dinikmati dengan caranya sendiri. Ia pernah dipandang rendah dan diremehkan tapi tetap memiliki daya tahan yang tinggi saat berusaha menghasilkan lampu yang sangart bermanfaat untuk kehidupan manusia sekarang ini.

Apakah pernah Anda bayangkan, jika Edison tidak memiliki daya tahan yang tinggi dan membuktikan bahwa pandangan enteng orang terhadap dirinya tidak benar, mungkin sampai sekarang kita masih hidup tanpa lampu.

4. Punya visi jauh ke depan
Bagi seorang entrepreneur, setiap yang dilakukannya harus punya tujuan jangka panjang meski dimulai dengan langkah yang amat kecil. Ia harus memiliki target usaha dalam satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, dan seterusnya.

5. Selalu berusaha memberikan yang terbaik
Entrepreneur akan mengerahkan semua potensi yang dimilikinya. Jika dirasakan kurang, ia akan merekrut orang – orang yang berkompeten untuk memberi yang terbaik bagi pelanggannya. Entrepreneur yang sukses akan selalu memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggannya. Ia selalu mencari networking untuk mendapatkan informasi bermanfaat demi kepuasan pelanggan.

Menurut saya, “Entrepreneur adalah orang yang memiliki keberanian untuk mempertimbangkan resiko-resiko dalam memulai suatu usaha atau bisnis apapun dengan suatu komitmen yang tinggi untuk membahagiakan diri sendiri, keluarga, maupun orang banyak.” Itulah wirausaha atau entrepreneur. Memang kalau melihat syarat – sayarat yang diajukan di atas, sangatlah sulit menjadi seorang entrepreneur. Namun, masih banyak orang yang ingin menjadi entrepreneur dengan alasan mengubah nasib atau mengangkat derajat hidup seperti pernyatan “Tuhan tidak akan mengubah nasib Anda kalau Anda sendiri tidak mau mengubahnya.”

Seperti dijelaskan di atas, ada 3 golongan manusia yang dapat meraih sukses dan tentunya kaya, antara lain menjadi derektur di perusahaaan besar dgn gaji dan fasilitas yang sangat besar. Akan tetapi, biasanya seseorang akan di angkat menjadi direktur setelah bekerja di atas 10 tahun atau memiliki pengalaman atau keahlian yang luar biasa. Bagi Anda yang masih berstatus mahasiswa atau baru mulai bekerja, bisa Anda bayangkan bahwa untuk menjadi seorang direktur si sebuah perusahaan besar sangatlah tak mudah.

Golongan lainnya, salesman. Mereka juga bisa sukses dengan mendapatkan banyak uang karena biasanya komisi dari penjualan barang yang dijualnya sangat besar. Tapi jika penjualan tidak memenuhi target, ia pasti akan stres karena tekanan dari atasan.

Sedangkan menjadi entrepreneur, Anda dapat mengangkat diri langsung menjadi direktur walau di perusahaan kecil sekalipun, tapi tetap ada kebanggaan di hati dan jiwa bahwa Anda adalah direktur sebuah perusahaan. Secara otomatis Anda akan mengangkat derajat diri sendiri.

Lihatlah kartu nama yang mencantumkan posisi sebagai direktur. Apakah Anda tidak bangga pada diri sendiri?? Seperti kata pepatah “Janganlah menjadi ekor gajah selamanya, jadilah kepala, walaupun kepala semut sekalipun.” Teman – teman dari sebuah ‘kepala’ adalah ‘kepala’, sedangkan teman – teman dari sebuah ‘ekor’ adalah ‘ekor’ juga. Kalau memiliki teman ‘kepala’, maka nasib dan hidup kita secara perlahan akan berubah. Lebih banyak peluang usaha, bisnis atau ide yang kita peroleh dibandingkan.

Produsen Dodol Garut Gencar Memproduksi Dodol Buah



Produsen Dodol Garut Gencar Memproduksi Dodol Buah


Selama ini, Kabupaten Garut, Jawa Barat sangat identik dengan camilan dodol. Daerah ini sudah dikenal luas sebagai penghasil dodol sejak tahun 1962.

Sebagian besar produsen dodol garut melanjutkan usaha yang sudah dirintis orangtuanya sejak lama. Selain itu, banyak juga pemain baru yang berkecimpung di bisnis ini.

Alhasil, persaingan bisnis dodol garut kini semakin ketat. Di tengah ketatnya persaingan, kini mereka berlomba menawarkan dodol dengan pelbagai pilihan rasa.

Seperti yang dilakukan Haji Mimin, salah seorang produsen dodol asal Desa Bojong Salam, Garut. Di tengah persaingan yang ketat ia kini rajin melakukan inovasi.

Belakangan, ia fokus memproduksi dodol yang terbuat dari buah-buahan, seperti, nanas, tomat, durian, dan sirsak. Selain itu, ada juga dodol rasa rujak. "Aga bisa bersaing, sekarang saya fokus memproduksi dodol yang terbuat dari buah," ujar Haji Mimin yang sudah terjun ke bisnis dodol sejak tahun 2000 lalu.

Di wilayah Garut dan sekitarnya, dodol buatan Mimin dibanderol mulai Rp 12.500 - Rp 13.000 per kilogram (kg). Sementara di luar Garut, dijual mulai
Rp 14.000 per kg.

Harga luar kota sedikit mahal karena ada ongkos kirim ke tempat pemesanan. "Harga ini sudah tergolong murah," ujar Mimin. Menurutnya, harga dodol di Garut rata-rata mulai Rp 16.000 - Rp 20.000 per kg.

Kendati demikian, Mimin mengakui, ada produsen yang menjual lebih murah darinya, yakni Rp 10.000 - Rp 11.000 per kg. Menurutnya, itu merupakan salah satu dampak negatif dari ketatnya persaingan bisnis ini. Namun, ia mengaku tidak akan ikut banting harga hingga serendah itu.

Menurutnya, dodol buah produksinya lumayan diminati pasar. Tidak semua produk dodolnya berasa manis. "Ada yang pedas, sedang dan tidak pedas," ujarnya.

Dibantu sekitar 20 orang karyawan, Mimin bisa memproduksi 400 kg-500 kg dodol per hari. Ia mengaku bisa meraup omzet Rp 200 juta per bulan.
Selain Mimin, juga ada beberapa produsen lain yang memproduksi dodol buah.

Ambil contoh Japar. Ia memproduksi dodol  rasa mangga, arbei, stroberi, sirsak, dan nanas. Dodol bikinan Japar ini dibanderol mulai Rp 10.000 hingga Rp 28.000 per kg. "Biasanya dodol rasa rujak lebih mahal dari dodol rasa buah lain," ujar Japar yang menekuni usaha ini sejak tahun 2005.

Ia sendiri bisa memproduksi 5 kuintal dodol per hari dengan omzet Rp 400 juta per bulan. (*kontan.co.id)

Batik Cetak Naik, Bisnis Batik Tulis Garut Lesu



Batik Cetak Naik, Bisnis Batik Tulis Garut Lesu


Sebagai produk warisan nenek moyang, batik tulis garut pernah mengalami masa jaya antara tahun 1967 sampai 1985. Saat itu, tercatat tidak kurang dari 126 unit usaha yang memproduksi batik tulis garut.

Namun, dalam perjalanan waktu, pamor batik yang populer dengan sebutan batik tulis garutan itu turun cukup tajam. Ada banyak faktor yang memicu penurunan bisnis ini.

Di antaranya, semakin maraknya produksi batik cap, kurangnya minat generasi penerus pada usaha batik tulis, ketidaktersediaan bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran.

Salah seorang perajin batik tulis garut adalah Aang Melani. Ia meneruskan usaha batik tulis yang sudah dirintis orang tuanya sejak tahun 1979.

Aang bilang, permintaan terhadap batik tulis produksinya kini mulai turun. Hal itu mulai terasa sejak marak beredar produk batik cap.

Permintaan yang turun itu harus diperebutkan oleh puluhan perajin batik saat ini masih bertahan. "Jadi, harga harus kompetitif jika usahanya tetap mau dipertahankan," ujar Aang.
Saat ini, Aang memproduksi batik kain katun dan kain sutra. Kain batik katun dibanderol seharga

Rp 800.000 - Rp 1 juta per potong. Sementara, batik dari kain sutra dibanderol seharga Rp 1,5 juta hingga Rp 3,5 juta per potong. Dalam sebulan, Aang bisa memproduksi lima potong batik dari kain sutra.

Sementara, dari bahan katun, kemampuan produksinya sebanyak 15 potong. Omzetnya mencapai Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan.
Aang bercerita, jumlah produksi itu lebih rendah dibanding tahun 1990-an.

Saat itu, ia bisa memproduksi 10 potong kain batik sutra, dan 30 potong kain batik katun dalam sebulan.

Produsen batik tulis garut lainnya, Agus Suhada, mengakui, persaingan bisnis batik saat ini semakin ketat, terutama dengan kehadiran batik cetak. Repotnya, batik tulis yang dibuat secara manual membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Hal ini berbeda dengan batik cetak yang bisa diproduksi dalam waktu cepat dengan biaya murah. Di sisi lain, jumlah perajin batik yang masih bertahan membuat harga batik turun lantaran konsumen masih punya banyak pilihan.

Dalam sebulan, Agus memproduksi lima potong kain batik sutra dan 10 potong kain batik katun. Omzetnya sekitar Rp 15 juta - Rp 25 juta per bulan. (*kontan.co.id)