Monday, December 30, 2013

Barbel, Gadis Pelayan Yang Miskin



Barbel, Gadis Pelayan Yang Miskin 



Barbel bekerja sebagai pembantu suami isteri petani kay. Ia bekerja di situ sejak orang tuanya meninggal.

Walaupun setiap hari Barbel bekerja keras, ia sering dimarahi suami isteri itu. Mereka selalu mencari-cari kesalahan Barbel.

Dan kini, seraya mengupas kentang di dapur, hatinya bergolak. ah, harus ada suatu jalan keluar, agar aku terlepas dari semua ini, pikirnya. Namun bagaimana? Kaum kerabat ataupun kenalan satu pun ia tak punya.

Sementara melamun itu, diraihnya sebuah kentang yang besar untuk dikupas. Tatkala mata pisau mau menyentuh kentang itu, terdengarlah rintihan.

"Ah, ah, biarkanlah aku! Aku belum bersedia dijadikan makanan. Aku masih harus pergi. Jangan, jangan!" Kentang itu terlepas dari tangannya lalu jatuh.

Kesempatan inilah yang rupanya sedang diharapkan kentang ajaib itu. Begitu mencapai tanah, ia menggelinding dan terus menuju ke pintu. Gerendelnya tergeser, daun pintu terkuak sejenak untuk kemudian tertutup dengan sendirinya.

Barbel yang kehilangan akal terkejut dan heran itu tiba-tiba tersentak sadar kembali.

Segera ia melompat ke pintu, menggeser gerendel dan sekilas melihat buah kentang itu menghilang di sudut belakang rumah. Kentang terus meluncur. Dari jauh tampaknya ia seperti berkaki. Anak perempuan itu terus membuntutinya. Rasa-rasanya tak akan bisa dikejarnya.

Dalam pada itu mereka melampaui lapangan dan tegalan, melintasi jalur-jalur tanah bekas dibajak yang menghitam dan menuju ke hutan.

Sinar matahari menyorot dari langit biru cerah di bulan Oktober itu. Dan Barbel merasa perjalanannya tidak juga berakhir.

Ketika memasuki hutan, cahaya merah keemasan menyambut mereka. Barbel berpendapat bahwa daun-daunan di situ terbuat dari tembaga. Namun untuk meyakinkannya, tak ada waktu untuk menyelidiki. Karena, sedikit lengah berarti kehilangan jejak. Apalagi karena kentang ajaibi itu sudah memiliki tangan-tangan. Bentuk badannya pun menjadi lebih besar.

Seperti biasa warnanya masih coklat, tapi mengkilat seperti beludru halus. Dan dari bawah ujung topinya menjulur rambutnya yang pirang.

Ingin sekali Barbel melihatnya dari depan. Tapi yang dikejarnya tak mau berhenti. Tibalah keduanya di ujung hutan. Di depan mereka terbentang sebuah padang rumput.

Seekor kuda tunggang yang tertambat lengkap dengan pelana sedang asyik merumput. Kentang yang aneh itu mendatanginya, lalu meraih tali penambatnya. Kemudian berpaling kepada Barbel.

Nampaklah wajahnya yang cantik dan ramah. Kedua bola matanya yang coklat memantulkan suasana bersahabat.

"Mari!" kedua mata ramah itu seolah-olah mengajak.

Barbel segera menangkap maknanya dan memahami isyarat kentang aneh itu. Dengan sekali loncat ia sudah berada di atas pelana. Buah kentang yang belum diketahui siapa namanya itu dianggap Barbel bernama si Kentang. Segera setelah itu, ia melompat pula ke atas pelana. Si Kentang duduk di belakang Barbel.

Dengan menunggang kuda itu, mereka mendaki dan menuruni gunung yang terjal. Lalu melintasi sebuah paya yang sempit, kemudian sebuah danau yang luas.

Tak seorang pun yang nampak sepanjang perjalanan itu. Walaupun begitu Barbel tidak takut.

Hanya sekali dia bertanya, "Kemana tujuan kita?"

"Ke pesta," jawab si Kentang.

Dan Barbel merasa puas.

Pemandangan alam yang indah cemerlang itu sangat mempesonakannya, sehingga ia tidak ingin perjalanan ini berakhir.

Namun saat itu pun tiba juga. Sebuah tembok batu utuh yang tinggi dan panjang melintang di depan. Sebuah gerbang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, lalu mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang besar. Si Kentang membantu Barbel turun dari atas pelana.

Setelah di bawah, anak perempuan ini terheran-heran melihat pemandangan sekitarnya. Di depannya banyak orang berpakaian indah sekali. Pakaian mereka pun aneka warna pula. Tapi Barbel tidak dapat memastikan apakah mereka manusia.

Dalam benaknya ia menilai mereka satu demi satu. Ada di antaranya yang layak dijuluki Kembang Mawar, ada lagi yang pantas dianggap Kembang Bulan. Dan pria gemuk yang peramah sepatutnya disamakan dengan Buah Apel.

Di ujung depan sekali terdapat sebuah kursi tinggi. Di atasnya duduk seorang tua dengan jubah keemas-emasan.

"Itu baginda raja!" bisik si Kentang memberitahukan.

Mendengar itu Barbel membungkukkan badan dengan hikmat meskipun baginda tak dapat melihatnya karena pengunjung yang berlapis-lapis itu.

Si Kentang menggenggam tangannya serta menuntunnya ke dekat singgasana. Di situ sedang berdiri sosok-sosok pengunjung dalam barisan yang panjang. Pawai yang aneh ini bergerak lamban sekali.

Secara bergilir satu demi satu melewati depan singgasana. Tiba tepat di hadapan baginda, mereka memberi hormat kemudian berlalu.

Bagi mereka yang mempunyai persoalan berhenti sejenak dan mengadu kesulitannya.

Salah satu pengadu bertubuh tinggi semampai berbaju kuning, datang menyembah, "Baginda raja, tahun ini kami kaum Gandum diperlakukan sewenang-wenang. Kami telah dituai sebelum tiba saat panen!"

"Tentu!" sahut baginda raja.

"Manusia-manusia membutuhkan makanan."

Kemudian tampillah seekor lembu perahan dengan langkah berat.

"Tuanku! Manusia mengambil anakku!" keluhnya.

"Jangan khawatir!" kata raja.

"Tahun depan ada lagi anakmu yang lebih bagus!"

Seorang laki-laki tua maju dan meletakkan tangkai besar penuh dengan buah anggur di depan singgasana.

"Duli tuanku, tahun ini adalah tahun yang makmur dan kami memperoleh panen yang baik," katanya bangga.

"Banyak terimakasih, sahabatku!" ucap baginda.

Lalu datanglah giliran seekor keledai berwarna kelabu.

"Oh, baginda!" keluhnya seraya memperlihatkan luka-luka di punggungnya.

Dengan sedih raja meletakkan tangannya ke goresan luka yang berderet-deret itu.

"Bersabarlah terhadap segala perlakuan manusia itu," pinta baginda.

"Juga kau, hai kuda sahabatku, dan kau yang di sana, hai anjing sobatku!" Sambil berkata itu, raja berpaling kepada seekor kuda bajak yang letih dan seekor anjing yang kesakitan karena dipukul.

Melihat semua itu, Barbel merasa malu terhadap perlakuan manusia sesamanya atas hewan yang tak berdaya itu. Kalau bisa, ia ingin sekali bersembunyi.

Tiba-tiba raja berseru nyaring, "Tapi hai... di manakah Kentang si pemberaniku itu?"

"Hamba ada di sini, baginda!" jawab teman Barbel itu seraya maju ke depan.

"Bagus!" ucap baginda amat gembira.

"Kau pantas kuberi penghargaan setiap tahun atas ketekunan dan keuletanmu. Dengan kesabaran yang tak terhingga, kau dan saudara-saudaramu bertahan di hati bumi. Kalian tak menghiraukan apakah tanah subur atau tidak, tak mempedulikan hujan ataupun panas. Kalian melipatgandakan diri dan bertumbuh dengan rajin. Kalian dengan rendah hati mengabdi manusia sebagai santapan penting mereka. Namun kalian tak pernah dihargai mereka seperti si Roti, yang tinggi hati itu. Kau patut mendapat penghargaan."

"Ampun sebelumnya, baginda!" kata Kentang dengan rendah hati.

"Sebenarnya dalam diri hamba dan saudara-saudara hamba tak ada yang luar biasa, baginda!"

"Di manakah kau selama ini?" raja memotong kata-kata si Kentang.

Disertai tawa manis, si Kentang menjawab, "Hampir-hampir saja hamba masuk kuali, baginda. Saat itu kami sedang bertumpuk-tumpuk dalam keranjang, sedang menunggu waktu untuk dikupas. Kemudian tiba giliran hamba dan dengan tiba-tiba hamba dapat meloloskan diri. Dan ampun tuanku, hamba mempunyai suatu permohonan!"

"Permohonanmu akan terkabul bila ada dalam batas-batas kekuasaan kerajaan," jawab raja.

"Hamba sekarang ini membawa serta seorang gadis, baginda," si Kentang melanjutkan.

"Seorang gadis pelayan yang miskin. Dia pemberani dan baik hati. Ia sering dipukuli oleh petani kaya majikannya. Tapi ia tidak suka memukul hewan-hewan, seperti yang biasa dilakukan pembantu-pembantu lainnya. Kuda, lembu, anjing dan babi menyenanginya. Hanya manusialah yang membencinya. Dapatkah kita menolongnya baginda?"

"Karena kau yang mengusulkan demikian, kita akan membantunya. Kita akan mengurusnya," sahut baginda.

"Banyak terimakasih, baginda!" ucap si Kentang.

Kemudian baginda memandang berkeliling seraya menitahkan, "Sekarang, marilah kita mulai menari."

Maka terdengarlah suara, mirip musik, dari bermacam-macam jenis burung dari pohon-pohon. Dibuai oleh musik alam yang merdu itu, pasangan-pasangan itu pun menarilah dengan sukacitanya.

Dalam pada itu, buah-buahan ranum yang memerah dan menguning berjejer dan bertumpuk di atas daun-daun hijau, siap untuk dinikmati.

Laki-laki tua tadi, berdiri di samping sebuah bejana. Ia memegang sebuah mangkuk minum. Diciduknya air anggur segar dari bejana dan diberikannya kepada penari-penari yang sudah kehausan.

Kemudian si Kentang membungkuk, menghormati Barbel seraya berkata, "Mari kita berdansa!"

Barbel terkejut dan malu. Dia asyik sekali melihat-lihat sehingga ia tidak teringat akan dirinya. Baru sekarang ia sadar, bahwa ia masih memakai rok kumal dan celemek yang sudah kotor.

Tapi ketika dengan perasaan malu ia perhatikan dirinya, matanya terbelalak. Pakaian kumal yang dikenakannya selama ini sudah lenyap. Dan kini berganti dengan pakaian yang indah. Sepasang sepatu di kaki-kakinya, baru dan berkilat-kilat.

Terasalah sebuah kalung batu manikam menghias lehernya. Bagian-bagian yang mengikat permata intan, memantulkan sinar. Seuntai karangan bunga berbentuk mahkota berjuntai di ujung kalung. Kelap-kelip gemerlapan memantul-mantul di sekitar dadanya. Begitu pula telinganya, kepalanya dan pergelangan tangannya.

Amboi! Alangkah indahnya bila dapat melihat dalam cermin.

"Pandang saja ke mataku," kata si Kentang seolah-olah mengerti pikiran Barbel.

"Kau bisa melihat wajahmu di mataku. Tapi sekarang, ayolah mari kita berdansa!"

Lagu-lagu merdu silih berganti. Dan Barbel merasa setiap kali muncul lagu-lagu baru, semakin senang hatinya.

Pasangan-pasangan itu sedikit pun tak merasa lelah. Mereka terus berlenggang dan berayun gemulai.

Namun sekonyong-konyong gelaplah suasana. Kehangatan pun lenyap. Burung-burung berhenti bernyanyi. Pasangan-pasangan pun menghentikan tariannya. Semuanya memandang ke langit dengan sangat terkejut.

Sebuah awan hitam yang besar menutupi matahari dan menelah habis semua warna. Langit yang biru indah, aneka corak dari pakaian warna warni mereka, begitu pula buah-buahan, semuanya menjadi kelam.

Sebuah suara bernada tinggi membelah kesunyian, kemudian sepi seakan mati.

Sementara semua mata menyorot ke atas, dari tengah-tengah gumpalan awan yang hitam itu merosot turun perlahan-lahan segumpal benda putih. Di saat mencapai tanah, tertegunlah sosok-sosok yang berpesta pora itu disertai keluhan-keluhan panjang.

Barbel melirik ke singgasana raja, namun yang nampak hanya sebatang kayu tua penuh bergantungan lumut yang kelabu lusuh. Anak perempuan ini menjadi sangat letih dan matanya terasa berat. Tapi bagaimanapun ia berusahaa supaya jangan tertidur. Tiba-tiba ia menjadi takut.

Dengan sekuat tenaga ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Memutar badannya lalu segera meninggalkan tempat itu. Ia melangkah terus tanpa menoleh sekalipun.

Ketika telah sangat lelah, berhentilah ia dan memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Semuanya sangat asing baginya. Ia tak tahu jalan pulang.

Waktu mengamat-amati dirinya, barulah disadarinya, bahwa semua pakaiannya yang indah tadi sudah lenyap. Kini pakaiannya yang kumal kembali melekat di badannya. Biarpun begitu hatinya tak sedih.

Dia tak merasa dingin, tak merasa lapar ataupun haus, ia hanya merasa hatinya lega dan riang.

Ia mulai berjalan lagi. Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kudah. Malang bahwa salah sebuah roda kereta itu lepas.

Dan seorang laki-laki tua sedang payah memperbaikinya. Usahanya yang sia-sia itu dapat berhasil setelah Barbel datang membantunya.

Orang tua itu bangkit dan berdiri dan memandang Barbel dengan ramah.

Setelah mengangguk dan mengucapkan terima kasih, ia berkata, "Kami berdua, aku dan isteriku telah tua. Kami tak dikaruniai seorang anak pun. Dan pembantu-pembantu kami tak setia. Tinggallah dengan kami! Bantuanmu dalam bentuk apapun, sangat kami butuhkan!"

Barbel naik, lalu duduk di sebelah orang tua itu. Kereta pun berangkat. Beberapa saat kemudian, mereka menerobos padang dan hutan. Akhirnya sampailah ke rumah orang tua itu. Suatu tempat tinggal yang bagus dan menarik.

Barbel memasuki suatu kehidupan yang baru. Seperti dulu ia bekerja keras setiap hari. Tapi ia diperlakukan seperti anak kandung.

Petani tua suami isteri itu sangat sayang padanya. Sering kali keduanya berkata, "Bersama Barbel, datanglah kebahagiaan dalam rumah kita ini!"

Dan ini bukan kata-kata hampa. Dengan perawatan Barbel, ternak-ternak bertambah gemuk dan berkembang biak jauh berlipat ganda dari sebelumnya.

Pohon-pohon pada merunduk, diberati oleh buah yang sangat banyak. Puncak-puncak gandum terkulai oleh bulir-bulir yang penuh berisi. Panen buah kentang berlimpah-limpah.

Ketika suami isteri itu meninggal, mereka mewariskan rumahnya kepada Barbel.

Sekarang Barbel menjadi seorang petani wanita muda yang kaya. Tiap tahun bila tiba musim panen, terkenanglah ia akan buah kentang yang ajaib itu.

No comments:

Post a Comment