Tuesday, December 31, 2013

Tiga Putera Feridun



Tiga Putera Feridun


Setelah berhasil menyingkirkan Zohak, Feridun menjadi Raja Agung Persia. Dia mempunyai putera tiga orang. Dua orang putera pertama lahir dari isterinya Shahrinaz. Putera ketiga lahir dari isterinya Arnevaz. Ketiga putera Feridun tumbuh menjadi pemuda.-pemuda yang gagah perkasa, kuat serta berani.

Feridun menyuruh menterinya yang paling terpercaya berkeliling dunia untuk mencarikan isteri bagi putera-puteranya.

Akhirnya sang menteri menemukan tiga orang puteri yang paling cocok dijadikan isteri ketiga pangeran. Mereka adalah puteri Raja Sarv dari Arabia Barat Daya. Feridun menyetujui pilihan menterinya. Maka ketiga pangeran segera berangkat ke Arabia untuk mengawini ketiga puteri, dan membawa mereka pulang.

Waktu itu Feridun berusia lima puluh tahun. Dia sudah memegang tampuk pemerintahan selama beberapa tahun. Dia sadar, bahwa saat mengundurkan diri baginya sudah dekat. Dia ingin beristirahat dari tugas-tugas kenegaraan, dan menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang yang lebih muda.

Feridun bermaksud memilih penggantinya semasa dia masih hidup. Dia ingin memberi kesempatan kepada raja-raja muda untuk mencari pengalaman. Dia berpendapat bahwa pengalaman akan memberikan kebijaksanaan.

Dia mencintai ketiga puteranya dengan kasih sayang yang sama besarnya. Maka dia bermaksud membagi negara kekuasaannya di antara mereka bertiga.

Ternyata keputusannya di kemudian hari banyak menimbulkan kesulitan bagi orang-orang yang hidup di masa-masa yang akan datang. Memang, sejak semuia Feridun mendapatkan ke­sulitan bagaimana cara membagi kerajaannya menjadi tiga bagian. Sebab, ketiga bagian kerajaan yang sudah ada luas mau pun keadaannya tidak sama.

Maka Feridun ingin menguji putera-puteranya satu-persatu. Hasil ujian akan dipakainya dasar menentukan pembagian wilayah kerajaan kepada ke­tiga puteranya. Putera yang paling berani dan paling bijaksana akan diberinya bagian kerajaan yang di tengah. Bagian ini paling besar dan paling baik ke­adaannya.

Suatu ketika Feridun mendengar kabar. Kini ketiga puteranya sedang dalam perjalanan pulang dari Arabia. Feridun cepat-cepat berangkat dari Ecbatana, ibu kota kerajaan, untuk menunggu mereka di tengah jalan.

Dengan bantuan Ormuzd, Dewa Kebaikan, Feri­dun mengubah dirinya menjadi seekor naga. Rupa naga sangat mengerikan. Napas yang keluar dari hidung dan mulutnya mengeluarkan asap dan api. Dia menunggu di jalan sunyi yang akan mereka lalui.

Mula-mula datanglah iring-iringan Salm, puteranya yang tertua. Salm sendiri naik kuda paling di depan, agak jauh mendahului iring-iringan. Salm menjalankan kudanya makin mendekati persembunyian naga. Setelah dia cukup dekat, Feridun dengan bentuk naga keluar dari persembunyian. Dia mengeluarkan bunyi menggeledek, menyemburkan api dan menghentak-hentakkan kaki. Suaranya berdebum-debum, dan bumi serasa bergoyang. Setelah melihat naga, Salm menarik kekang kuda­nya.

“Orang yang pikirannya waras takkan mungkin melawan makhluk yang mustahil bisa dikalahkan. Hanya orang tolol yang akan menyerang atau mengusik seekor naga,” kata Salm.

Kemudian dia membelokkan kudanya, terus dipacu ke arah para pengiringnya. Dia memimpin iring-iringan meneruskan perjalanan melalui jalan lain. Feridun sangat gembira menyaksikan kebijaksanaan yang ditunjukkan Salm. Dia kembali lagi masuk persembunyian, menunggu anaknya yang kedua lewat.

Waktu Tur, anaknya yang kedua mulai kelihatan, Feridun kembali lagi menghadang di tengah jalan. Dia melakukan perbuatan yang sama seperti waktu menghadapi Salm.

Setelah melihat naga di tengah jalan, Tur memasang anak panah pada busumya.

Dia, memacu kudanya ke arah makhluk yang mengerikan sambil berseru, “Kalau jiwa seorang manusia terancam, apa bedanya ditantang oleh seorang prajurit dengan ditantang binatang sebesar bukit ? Seorang pemberani pantang mundur dari setiap tantangan!”

Feridun cepat-cepat menyembunyikan diri kembali. Tur menoleh ke kiri ke kanan, mencari-cari makhluk yang tiba-tiba menghilang. Kemudian dengan anak panah tetap terpasang pada busurnya, dia memimpin iring-iringan meneruskan perjalanan.

Feridun merasa puas akan keberanian Tur. Kini dia menunggu kedatangan Iraj, puteranya yang ketiga Waktu dia mulai kelihatan, Feridun segera keluar dari persembunyian. Masih berbentuk naga, Feridun menghadang puteranya di tengah jalan.

Melihat ada naga menghadangnya, Iraj segera menghentikan kudanya. Dia tidak lari menghindar maupun menyerang.

Sebaliknya dia menegakkan kepala dan berseru sekuat-kuat suaranya, “Pergilah kau, hai makhluk! Bagaimana kau berani menghadangku? Besar badanmu tidak lebih daripada seekor anak kucing, dan kau berani meng­hadang jalan singa? Aku putera seorang raja per­kasa, dan kedua kakakku tidak jauh dari sini. Kami bertiga bukan tandingan musuh mana pun di dunia! Kami bertiga putera Feridun yang perkasa! Kalau kau sudah pernah mendengar namanya, kau takkan be­rani menghadang putera-puteranya. Kau tidak lebih daripada seekor makhluk buruk! Sekarang pergilah, sebelum kuremukkan kepalamu!”

Feridun sangat bangga akan tindakan Iraj. Dia bukan saja menunjukkan keberanian dan kebijaksanaan. Dia juga menunjukkan penghargaan kepada ayahandanya, cinta kepada kedua kakaknya serta kepercayaan kepada mereka. Cepat-cepat Feridun menghindar.

Dia cepat-cepat kembali ke istana dalam bentuknya seperti semula. Kemudian dia menyambut ketiga puteranya di pintu gerbang. Dia mengucapkan selamat datang satu-persatu kepada putera-puteranya. Dia juga menceritakan bahwa dia baru saja mengubah dirinya menjadi naga untuk menguji mereka. Sebagai seorang ayah dia menyatakan bangga akan tindakan ketiga puteranya.

Kemudian, berdasarkan nilai masing-masing waktu diuji, Feridun membagi kerajaannya kepada ketiga puteranya. Kepada Salm, putera sulungnya, Feridun memberikan bagian kerajaan sebelah barat. Diberikannya kepada Salm daerah-daerah Yunani, Romawi dan semua wilayah bagian barat.

Tur, puteranya yang kedua, diberinya wilayah sebelah timur. Turki, Cina dan daerah sekitar sungai Oxus diberikan kepadanya. Kerajaan milik Tur kemudian diberi nama Turan.

Kepada Iraj, putera bungsunya, Feridun memberikan daerah yang terletak di tengah-tengah. Daerah di sekitar sungai Tigris dan Eufrat diberikan kepada Iraj. Juga diberikan kepadanya Mesir dan Arab. Dari namanya, di kemudian hari kerajaannya diberinya nama Iran, atau kemudian dikenal dengan nama Per­sia.

Kepada Iraj, Feridun juga memberikan cap ke­rajaan serta cincin pusaka. Di atas kepalanya Feridun memasangkan mahkota miliknya, mahkota Raja Segala Raja.

Feridun menuntun Iraj untuk didudukkan di atas singgasana emas. Dia memberikan kehorrhatan tertinggi kepada Iraj, sebab terbukti Iraj yang paling berani dan bijaksana di antara ketiga puteranya.

Dari cintanya kepada ketiga puteranya, Feridun telah membagi daerah kekuasaannya kepada mereka bertiga. Tapi sejak itu mulailah timbul kekacauan di mana-mana.

Dalam beberapa waktu, mula-mula di mana-mana keadaan aman tenteram. Kerajaan Persia makmur dan aman sejahtera. Iraj memerintah dengan adil dan bijaksana, dituntun oleh ayahnya. Tapi di balik semua ketenangan, sebenarnya rasa iri hati sedikit demi sedikit mulai berkobar di dada kedua saudara tertua.

Salm yang memerintah bagian dunia sebelah barat makin lama makin merasa tidak puas.

“Aku putera sulung,” pikirnya.

“Akulah yang seharusnya menjadi Raja Agung, menjadi Raja Segala Raja!”

Dia menulis surat kepada Tur untuk mengetuk hati saudaranya. Surat dikirimkan dengan seorang utusan naik onta yang larinya cepat. Tur membaca surat kakaknya. Kini kecemburuan dan iri hatinya semakin berkobar.

Dia juga berpikir, “Iraj adalah yang termuda di antara kami bertiga. Mengapa dia yang diberi warisan mahkota? Seharusnya ayah membagi daerah yang di tengah antara aku dengan Salm.”

Tur menulis surat balasan kepada kakaknya. Dalam surat dia mengundang kakaknya, diajak membuat pertemuan. Dalam pertemuan mereka akan
membicarakan kesedihan dan ketidakadilan kepada mereka.

Kemudian mereka pun bertemu. Pembicaraan mereka semakin mengobarkan dan membesar-besarkan rasa dengki dan iri mereka kepada Iraj.

“Ayah telah berlaku tidak adil,” kata mereka dengan marah.

“Kita, putera-putera tertua, diberi daerah kerajaan di ujung-ujung dunia, jauh dari kasih sayang ayah.”

“Ya, kita sama saja seperti dibuang. Iraj, adik kita yang termuda menjadi Raja Agung dan mendapat semua kasih sayang ayah serta segala kehormatan, yang seharusnya milik kita. Iraj seharusnya yang dibuang, diberi kerajaan kecil di ujung dunia. Kita yang seharusnya yang memiliki kerajaan Persia.”

Akhimya mereka mencapai satu persetujuan. Mereka mengirimkan surat kepada ayah mereka. Dalam surat mereka menyalahkan tindakan ayah mereka, serta mengajukan tuntutan-tuntutan.

Feridun sangat sedih memikirkan keserakahan putera-puteranya. Dia juga marah karena mereka tidak menghargainya. Feridun membalas surat Salm dan Tur. Dia mengingatkan mereka akan kedengkian mereka.

Dia juga memperingatkan Iraj, menyuruhnya berhati-hati. Disuruhnya dia berhati-hati kepada kedua saudara yang cemburu kepadanya. Namun Iraj tidak percaya bahwa kedua saudaranya akan mencelakakan dirinya. Dia berterimajkasih kepada ayahnya atas peringatannya sebagaimana seorang anak yang baik. Tapi dalam hati Iraj yakin bahwa pendapat ayahnya keliru.

Tatkala Salm dan Tur menerima surat balasan Feridun, mereka berkata dengan nada getir, “Baiklah, kalau kita tidak boleh memerintah Persia, maka Iraj juga tidak boleh. Kalau ayah tidak mau menarik kembali kasih sayang yang diberikannya kepada Iraj, maka dia harus mati!”

Kemudian mereka berunding, bagaimana cara paling baik untuk membunuh Iraj. Temyata kemu­dian Iraj sendiri membuat mereka lebih mudah melaksanakan rencana mereka.

Makin lama memikirkan peringatan ayahnya, hati Iraj semakin sedih. Dia tetap berpendapat bahwa pendapat ayahnya salah.

“Sebenarnya tidak semestinya ada rasa saling memusuhi di antara saudara-saudara sekandung,” kata Iraj kepada Feridun.

“Aku akan pergi menemui ke­dua kakakku. Kami bertiga akan berkumpul, dan tentu akan teringat kembali kerukunan kami di masa kanak-kanak. Kami akan membicarakan perselisihan kecil yang sekarang memisahkan kami. Aku juga akan mengakhiri keragu-raguan ayah mengenai kebaikan mereka. Aku akan membuktikan bahwa kecurigaan ayah kepada mereka sama sekali tanpa dasar.”

Feridun mengulangi peringatannya kepada Iraj, namun sia-sia. Dia tidak pernah mencurigai siapa pun di dunia, lebih-lebih saudaranya sendiri. Iraj mengirimkan surat kepada Salm dan Tur. Dia meminta mereka menentukan waktu untuk mengadakan pertemuan. Salm dan Tur hampir-hampir tidak mempercayai nasib baik mereka. Dianggapnya kedatangan Iraj seperti anjing mendekati tongkat.

Mereka menerima Iraj dengan pura-pura ramah dan penuh cinta kasih seorang saudara. Tapi waktu melihat Iraj datang, para prajurit Daerah Barat dan Turan bersorak-sorai menyambutnya.

“Dia sangat dicintai setiap orang,” pikir Salm dan Tur.

“Dia sangat berbahaya bagi kita, dan dia harus mati.”

Ketiga bersaudara memasuki tenda yang sangat mewah untuk berunding. Mereka duduk dan mulai membicarakan persoalan yang mengganggu pikiran mereka.

Waktu Salm dan Tur mengemukakan keluhan mereka, Iraj berkata, “Dengan senang hati aku akan menyerahkan mahkota dan singgasana Raja Segala Raja, saudara-saudaraku! Aku lebih suka memilih kasih sayangmu berdua kepadaku, daripada semua harta Persia dan semua bala tentara kerajaan. Aku bahkan tidak minta bagian kerajaan sebelah barat mau pun Turan. Aku sudah puas kalau kau berdua merasa senang dan mencintaiku. Aku pun tidak keberatan kau buang ke sudut dunia yang paling jauh.

Tapi tawaran Iraj tidak membuat mereka puas. Sorak-sorai semua bala tentara waktu menyambut Iraj, membuat mereka merasa khawatir. Hati mereka yang jahat, merasa iri dan takut akan mendapatkar pengkhianatan.

Tur bangkit dan berkata dengar marah, “Mengapa Salm dan aku harus mempercayai kata-katamu? Kau akan berkhianat dan memimpin rakyat untuk melawan kami. Lagi pula, ayah terlalu cinta kepadamu. Dia takkan mengijinkan kau menyerahkan kepada kami kerajaan Persia. Tidak, takkan ada keadilan selama kau masih hidup.”

Tur mengangkat tinggi-tinggi kursi yang sedang didudukinya. Kursi terus dihantamkan ke kepala Iraj. Seketika Iraj roboh ke tanah.

“Kakak-kakakku yang baik, jangan bunuh aku,” pinta Iraj.

“Aku bersumpah, semua milikku kuberikan kepadamu. Jangan bunuh aku. Aku akan menyingkir supaya dilupakan orang. Takkan ada seorang pun yang akan menyebut-nyebut namaku, atau membicarakanku. Aku bersumpah.”

Tapi hati kedua kakaknya sudah kemasukan setan. Kata-kata Iraj sama sekali tidak menggerakkan hati mereka. Tur mencabut pisau. Ditusuknya Iraj berkali-kali sampai menghembuskan napas penghabisan.

Mendengar apa yang telah terjadi, hati Feridun sedih dan sangat marah. Dia sedih memikirkan kematian Iraj, dan marah memikirkan tindakan kedua kakaknya. Dengan kematian Iraj, Feridun bukan saja kehilangan seorang putera. Dia telah kehilangan tiga orang putera sekaligus. Feridun tidak lagi mengakui Salm dan Tur sebagai putefa-puteranya. Selama hidupnya dia takkan memaafkan mereka atas perbuatan mereka membunuh Iraj.

Dia juga merasa sedih, sebab belum ada seorang pun di antara isteri-isteri Iraj yang sudah melahirkan anak. Dengan demikian tidak ada yang bisa menggantikan mau pun membela kematian Iraj.

Dengan sedih Feridun mengenakan kembali mahkota Raja Segala Raja. Kemudian dia duduk kembali di atas singgasana emas. Sekali lagi didukungnya di atas pundaknya yang tua pemerintahan kerajaan Persia.

Suatu hari Feridun mendengar desas-desus, bahwa seorang dayang-dayang istana mengandung anak Iraj. Dia memang dayang-dayang yang paling disayangi Iraj.

Feridun memanggilnya. Dia berjanji kepadanya, “Anakmu akan mewarisi kerajaan ayahnya, dan rnemerintah seluruh kerajaan Persia.”

Tapi waktu anaknya lahir, temyata seorang anak perempuan. Feridun menangis dengan sedihnya.

Kemudian dia berpikir , “Aku belum begitu tua. Aku akan tetap hidup sampai cucu Iraj lahir. Aku akan menyaksikan cicitku menuntut balas kematian Iraj.

Maka Feridun memelihara anak Iraj. Di kemudian hari dia dijodohkan dengan seorang laki-laki keturunan Raja Agung Jemshid. Pada waktunya kemu­dian dia melahirkan seorang putera. Feridun memberi nama cicitnya Minucher.

Feridun mendidik Minucher agar kelak menjadi seorang prajurit sejati. Dia diajari segala macam ketangkasan, ilmu kekuatan dan ilmu memainkan senjata. Kelak Minucher harus bisa menuntut balas kematian kakeknya, dengan membunuh Salm dan Tur. Feridun memperhatikan perkembangan Minucher dengan penuh perhatian. Dia merasa puas melihat cicitnya tumbuh menjadi anak muda yang cakap, gagah berani dan perkasa. Dia hampir-hampir tidak sabar rasanya menunggu datangnya hari pembalasan.

Dari Daerah Barat dan Turan, Salm dan Tur juga memperhatikan perkembangan Minucher melalui para mata-matanya. Mereka melihat Minucher tumbuh menjadi seorang prajurit perkasa. Karena takut didahului, mereka mulai bersiap-siap untuk mengadakan penyerangan. Mereka mengira, dengan berbuat begitu mereka akan memperoleh kemenangan.

Dengan semua bala tentaranya Salm bergerak maju untuk bergabung dengan bala tentara Turan. Feridun tersenyum mendapat berita bahwa kedua anaknya akan menyerang Persia.

“Kami sudah lama menunggu mereka,” kata Feridun.

“Tentu saja kami sudah siap sedia.”

Dia menyerahkan pimpinan bala tentara Persia ke tangan Minucher.

“Nak,” kata Feridun kepada Minucher, cicitnya. “Kini waktu yang sudah lama kita tunggu-tunggu sudah tiba. Saat pembalasan sudah sangat dekat. Mudah-mudahan Dewa Ormuzd menyertaimu. Mudah-mudahan kau bisa menuntut balas kematian anakku yang tercinta, Iraj.”

Panji-panji kerajaan dikibarkan tinggi-tinggi. Bala tentara Raja Agung Persia berbaris ke tapal batas, untuk menyongsong musuh. Bala tentara Tur dan Salm kini sudah menyeberang sungai Oxus, dan menyusun barisan penyerangan. Segera kedua pasukan yang bermusuhan berhadapan di lapangan terbuka.

Minucher bukan hanya dilatih menjadi prajurit yang gagah berani. Dia juga telah mendapat pendidikan yang matang mengenai siasat perang. Dia juga telah diajari tentang penghargaan kepada.para leluhur. Pendeknya, jasmani mau pun rokhani dia sudah siap menghadapi pertempuran seperti apa pun.

Di sayap kiri dia menyerahkan pimpinan kepada seorang jendral yang sudah berpengalaman. Sayap kanan diserahkan kepada pimpinan Sam. Dia adalah seorang Raja Muda dari Zabulestan. Walau pun masih muda, tapi dia seorang pemimpin yang ber­pengalaman. Dia dibantu oleh seorang jendral lain yang lebih tua usianya. Sarv, Raja Arabia Barat Daya menjadi penasihatnya.

Aba-aba penyerangan segera diberikan. Kedua bala tentara maju menyerang. Gegap gempita suara derap kaki pasukan gajah, pasukan berkuda, pasukan berkereta perang dan pasukan jalan kaki memenuhi udara. Segera senjata-senjata tajam beradu membuat suara makin riuh.

Di tengah suara pertempuran yang ramai, Tur berteriak menantang Minucher, “Minucher, di mana kau? Aku tidak takut kepadamu! Kau hanya cucu seorang pelayan istana. Punya hak apa kau atas mahkota dan singgasana kerajaan Persia?”

Minucher hanya tertawa mendengar tantangan Tur.

Dia berkata kepada anak buahnya, “Biarkan saja si tolol mengatakan apa saja sesukanya. Segala puji kita panjatkan kepada Ormuzd. Iraj adalah kakekku. Raja Agung Feridun sendiri yang mengatakannya. Jadi siapa yang menentang kata-kata Feridun, dia jelas seorang gila! Ayo serang terus, hancurkan musuh!”

Dalam pertempuran yang luar biasa hebatnya, Minucher ternyata berhasil membuktikan kemampuannya sebagai seorang pemimpin besar. Dalam taktik perang mau pun keberanian dia tidak ada tandingannya. Latihan-latihannya selama ini tidak terbuang sia-sia.

Di bawah pimpinannya, bala tentara Persia mendapat kemenangan gemilang. Dengan tangannya pula, Minucher berhasil membunuh Tur, dan kemudian Salm dalam pertarungan. Bala tentara mereka mengundurkan diri menyeberangi sungai Oxus. Kini pertempuran berakhir, dan kematian Iraj sudah dibela oleh cucunya.

Tatkala berita kemenangan sampai kepada Fe­ridun, dia bersyukur kepada Ormuzd. Waktu Minucher menghampirinya, Feridun memeluknya. Dia dipuji-pujinya sebagai cucu Iraj yang sejati. Dia memastikan sekali lagi bahwa Minucher pewaris takhta kerajaan Persia.

Feridun tidak lagi menanggung kesedihan. Setelah sampai saatnya, dia menemui ajal dengan tenang, Minucher dinobatkan menjadi penggantinya, sesuai dengan kehendaknya.

No comments:

Post a Comment