Monday, December 30, 2013

Rambut Emas Kakek Bijaksana



Rambut Emas Kakek Bijaksana



Pada jaman dahulu, ada seorang raja yang gemar berburu. Raja ini memang kaya raya, tetapi wataknya agak sombong. Ternyata ia suka menghina sesama manusia yang miskin. Otaknya juga cerdas, namun kepandaiannya seringkali disalah gunakan olehnya.

Pada suatu hari, Raja pergi menyusuri rimba belantara. Ia akan berburu kijang. Karena wataknya yang angkuh, ia berburu sendirian saja. Tidak mau membawa pengawal seorang pun. Ketika ia sedang asyik mengejar seekor kijang, tiba-tiba ia tersesat.

Sudah dijelajahinya semua arah. Hampir semua jalan telah dicobanya. Tetapi ia hanya berputar-putar dalam satu tempat saja dalam hutan itu. Kini ia lelah sekali. Akhirnya ia menjumpai sebuah gubuk yang beratap ilalang. Gubuk ini adalah rumah tempat tinggal seorang Tukang Arang.

Pekerjaan Tukang Arang setiap hari hanya menebang dan membakar kayu menjadi arang. Lalu dijual ke kota, untuk keperluan hidupnya.

“Maukah kau menunjukkan jalan keluar dari hutan ini?” tanya Raja kepada Tukang Arang.

Dengan ramah Tukang Arang yang baik hati menjawab, “Dengan senang hati, saya mau menunjukkan jalan, baginda. Tetapi maafkan saya. Saya tidak bisa pergi sekarang. Saya tidak berani meninggalkan istri saya yang sedang hamil tua. Maukah baginda tinggal di sini barang semalam? Besok pagi saya antar baginda pergi.”

Raja setuju. Ia pun bermalam di rumah Tukang Arang. Oleh Tukang Arang ia diberi tempat tidur yang baik di loteng gubuk. Tempat tidurnya adalah setumpuk rumput dan jerami kering. Tetapi semalam suntuk Raja tidak bisa tidur. Ia ingin hari segera pagi, dan ia akan segera keluar dari hutan rimba.

Pada waktu malam hari, istri Tukang Arang melahirkan. Anaknya lelaki. Dari atas loteng, raja mengintip ke bawah. Nampak Tukang Arang sedang tidur bersama istrinya. Raja melihat dengan keheranan. Dekat bayi nampak berdiri tiga orang perempuan tua. Raja tahu bahwa tiga orang perempuan tua itu adalah Juru Nasib. Juru nasib adalah manusia gaib yang bisa menentukan nasib bayi yang baru dilahirkan.

Perempuan Juru Nasib yang pertama berkata, “Kepada bayi ini, aku memberikan percobaan berupa bahaya yang besar.”

Juru Nasib yang kedua berkata lain, “Kepada bayi ini aku memberi kekuatan yang luar biasa untuk mengalahkan semua bahaya.”

Kemudian Juru Nasib yang ketiga berkata, “Saya memberi jodoh bayi ini kelak, seorang puteri anak dari Raja yang sekarang sedang tidur di loteng rumah ini.”

Sesudah mengatakan semuanya, semua perempuan itu pun lenyap. Mereka bertiga mematikan lilin yang menyala di tangan mereka.

Maka malam pun menjadi sepi kembali. Mendengar kata-kata perempuan tua yang terakhir, raja seperti tertusuk pedang pada dadanya. Hatinya menjadi risau dan gelisah. Ia ingin menggagalkan kata Juru Nasib, agar jangan sampai terjadi. Ia tidak mau punya menantu anak Tukang Arang!

“Bukankah aku Raja Besar? Kaya dan terhormat? Anak Tukang Arang? Anak manusia paling miskin!” katanya dalam hatinya terus menerus.

Raja melihat Tukang Arang seperti melihat babi hutan. Jijik dan muak. Rumahnya pun persis rumah babi hutan! Pikirnya lagi.

Waktu malam, bayi Tukang Arang menangis keras. Kesunyian malam pecah oleh tangis bayi. Tukang Arang terbangun. Betapa kagetnya ia, setelah tahu bahwa istrinya telah meninggal waktu melahirkan. Hanya anaknya yang hidup. Tukang Arang pun menangis berkesedihan. Ia menangisi nasib anaknya, yang baru lahir sudah ditinggal mati ibunya.

“Kasihan anakku. Bagaimana nasibmu anakku. Kau tidak punya ibu lagi”, katanya sambil mengangkat anaknya.

Raja pun segera mendapat akal. Ia ingin membunuh anak itu, agar jangan sampai menjadi menantunya kelak.

Dengan segera ia berkata, “Berikan saja anakmu kepadaku. Aku akan memeliharanya seperti aku memelihara anakku sendiri. Lalu aku akan memberi uang padamu sebanyak mungkin. Jadi kau tidak usah menjual arang lagi untuk hidupmu.”

Tukang Arang sangat gembira mendengar kata-kata Raja. Ia tidak mengira sama sekali bahwa Raja mempunyai tujuan yang busuk dan jahat untuk membunuh anaknya.

Ketika Raja kembali ke istana, ia mendengar kabar bahwa permaisurinya telah melahirkan seorang anak perempuan. Tetapi Raja semakin takut dan gelisahl. Ia ingat kata-kata Juru Nasib. Anak perempuannya itu lahir tengah malam, seperti anak Tukan Arang di hutan. Jam lahirnya juga sama. Hatinya berdesir-desir.

Raja segera memanggil seorang pesuruhnya untuk diutus.

“Pergilah menjumpai Tukang Arang di hutan. Bawa uang ini, berikan kepadanya. Nanti Tukang Arang akan memberikan anaknya. Bawalah bayi itu. Bila kau sampai di sungai yang dalam, lemparkan bayi itu ke tengah sungai yang dalam airnya. Kalau kau tidak mau, kau akan kuhukum mati. Mengerti?”

Pesuruh itu segera berangkat. Ia pun segera bertemu dengan Tukang Arang. Setelah ia menyerahkan uang, ia menerima bayi dalam keranjang. Dengan kasihan, pesuruh itu membawa bayi yang tak berdosa.

“Apa salahnya bayi yang baru lahir itu, maka harus dibunuh?” tanya pesuruh itu dalam hati.

Tetapi ia juga takut kepada ancaman rajanya. Pada waktu ia sampai di tepi sungai yang paling dalam, ia melemparkan keranjang yang berisi bayi itu sambil menutup mata. Pesuruh tidak tahan melihat bayi itu terlempar ke dalam kali.

Sampai di istana, pesuruh melapor kepada Raja, bahwa bayi Tukang Arang sudah dibunuhnya. Raja merasa puas.

“Syukurlah kalau bayi itu sudah meninggal. Ia adalah calon menantu yang tidak kuterima.” Katanya sambil tertawa lega.

Demikianlah, raja mengira bayi itu telah mati. Tapi bayi itu tidak mati. Keranjang itu ternyata terapung di atas air. Oleh air sungai keranjang itu terbawa ke pinggir. Kebetulan ada seorang tukang pencari ikan yang melihat keranjang itu. Hatinya tertarik untuk mengethaui apa isi di dalam keranjang. Maka ditariknya sebuah sampannya. Pencari Ikan segera mengangkat keranjang. Waktu ia membukanya, hampir ia menjerit.

“Bayi hidup!” katanya dengan keras.

Ia segera membawa bayi yang tampan itu kepada istrinya. Jalannya tergesa-gesa.

“Istriku, bertahun-tahun kau ingin mempunyai anak. Sekarang kau dapat anak. Sungai telah memberi kita seorang bayi yang mulus.”

Anak itu dipelihara baik-baik oleh Pencari Ikan. Sebab ia tidak punya anak sama sekali. Bayi itu diberi nama “Plavacek”. Plavacek artinya “terapung”. Sebab ia terapung-apung dibawa air.

Plavacek selalu sehat. Ia cepat besar dan menjadi seorang pemuda yang sangat gagah dan tampan. Plavacek terkenal baik hati. Peramah dan suka menolong. Ia tidak suka berkelahi dengan sahabat-sahabatnya. Setiap hari ia hanya bekerja membantu orang tuanya. Jarang sekali ia bercakap-cakap dengan temannya.

Pada suatu hari, Raja lewat lagi di depan rumah Pencari Ikan. Dari atas kudanya ia melihat Plavacek sedang berdiri. Pada waktu Raja minta air untuk minum, Plavacek segera memberinya. Raja tertegun di atas kudanya.

“Tampan sekali pemuda ini”, katanya dalam hati.

Maka Raja pun bertanya kepada Pencari Ikan, “Saya melihat pemuda gagah tadi. Tampan sekali. Dia anakmu?”

Raja masih juga duduk di atas pelana kudanya.

“Ya, dia anak saya. Tapi juga bukan anak saya. Jadi hanya anak pungut. Dua puluh tahun yang lalu, saya menemukannya dalam keranjang. Keranjang itu terapung di atas sungai.”

Raja jadi ingat, bahwa itu tentu bayi yang harus dibunuh. Segera ia meloncat turun dari kudanya. Ia berniat membunuh pemuda itu.

“Saya memerlukan pesuruh untuk mengantar surat ke istana. Adakah orang yang bisa disuruh? Anakmu bisa?” tanya Raja.

“Suruh saja. Ia akan segera berangkat”, Tukang Ikan menjawab.

Raja segera menulis surat untuk permaisurinya di istana.

Isinya begini, “Tusuklah pemuda ini dengan pedang sampai mati. Dia adalah musuhku yang paling berbahaya. Lakukan dengan segera, sebelum aku pulang.”

Raja melipat surat, terus dimasukkan ke dalam amplop dan diberi cap kerajaan. Plavacek segera berangkat. Dalam perjalanan Plavacek tersesat. Hari juga sudah gelap.

Dalam kebingungan, Plavacek bertemu dengan seorang perempuan tua. Ia adalah salah satu Juru Nasibnya.

Perempuan tua itu cepat-cepat bertanya, “Plavacek, kau mau kemana? Kau mau kemana Plavacek/”

Dengan tegas, Plavacek menjawab, “Saya akan mengantar surat ke istana raja, ibu!”

Plavacek minta ditunjukkan jalan yang benar.

“Tetapi hari sudah malam. Kau tidak akan sampai malam ini. Bermalamlah di rumahku. Jangan lupa, aku ini ibu angkatmu,” kata perempuan tua itu.

Plavacek menurut. Pada waktu Plavacek sedang tidur, surat itu diambil oleh perempuan tua Juru Nasib itu.

Dengan segera surat itu diganti dengan surat lain yang berbunyi, “Terimalah pemuda yang membawa surat ini sebagai calon menantu. Ia adalah pilihan saya. Cepat nikahkan dia dengan putri kita, sebelum saya pulang. Ini adalah perintah saya.”

Surat dimasukkan ke dalam sampul yang semula.

Waktu membaca surat itu, Permaisuri Raja kaget dan heran. Tetapi ia segera memerintahkan persiapan pesta perkawinan. Pesta diselenggarakan dengan besar-besaran. Ramai dan mewah. Puteri anak Raja sangat sayang kepada Plavacek. Sebab Plavacek berparas tampan, ramah dan pendiam. Juga rajin sekali bekerja.

Ketika Raja datang dan mendengar berita pernikahan anaknya dengan Plavacek, ia sangat murka. Dengan marahnya dipanggilnya Permaisurinya dan menanyakan bagaimana pernikahan itu bisa terjadi.

Permaisuri hanya berkata, “Baginda sendiri, yang memberi perintah. Ini adalah surat baginda sendiri, tulisan baginda sendiri. Coba baca lagi. Juga ada cap istana yang sah.”

Raja hanya menggelengkan kepalanya saja. Secepatnya Raja memanggil Plavacek, untuk ditanyai. Plavacek dengan jujur mengatakan pengalamannya waktu bertemu dengan perempuan tua. Perempuan tua yang mengajaknya menginap. Raja mengerti, bahwa perempuan tua itu pasti Juru Nasib.

“Semuanya telah terlanjur. Tapi tidak mudah untuk menjadi menantuku, Plavacek.” Kata Raja dengan masgul hatinya.

“Kau akan kuterima sebagai menantu, bila kau dapat memberika ntiga helai rambut emas Kakek Bijaksana,” kata Raja.

Plavacek jadi bingung. Ia tidak tahu ke mana harus mencari. Nama “Kakek Bijaksana” pun ia baru mendengarnya sekarang. Tetapi dengan tabah ia pergi untuk mengerjakan tugasnya. Waktu ia pergi, istrinya sedih dan menangis sampai air matanya kering.

Plavacek meninggalkan istana. Mendaki gunung-gunung. Menuruni lembah-lembah yang curam. Mengarungi sungai-sungai yang dalam dan deras arus airnya.

Kini Plavacek sampai di pantai Laut Hitam. Dipandanginya lautan luas. Plavacek tidak kenal lelah, meski pun perjalanan sangat jauh. Ia dengan tenang akan meneruskan perjalanannya. Tetapi ia harus menyeberangi air Laut Hitam.

“Selamat siang Tukang Sampan yang baik, semoga Tuhan memberimu nasib yang baik,” kata Plavacek menegur Tukang Sampan.

“Terimakasih, Pengembara yang tampan, mudah-mudahan Tuhan juga selalu menolongmu. Kau mau ke mana?” tanya Tukang Sampan.

“Saya mau menyeberang. Pergi ke istana Kakek Bijaksana. Aku mau minta rambut emasnya.”

“O, kau mau ke sana? Bisakah kau menanyakan kepadanya, bagaimana caranya supaya aku dapat pekerjaan lain? Sudah 20 tahun aku jadi tukang sampan. Sudah lelah sekali. Kalau kau dapat jawabannya besok, aku mau menyeberangkan kau ke sana.”

Plavacek mau menanyakan hal itu kepada Kakek Bijaksana.

Waktu Plavacek meneruskan perjalanan, ia melihat iringan jenasah. Di belakang peti mati, berjalan ayah jenasah yang mau dikubur. Ayah itu berjalan sambil mengalirkan air matanya. Pipinya basah.

“Semoga Tuhan menguatkan imanmu, bapak,” kata Plavacek.

“Terimakasih, pengembara muda. Kau mau ke mana?” ayah itu bertanya.

“Saya akan minta rambut emas Kakek Bijaksana.”

“Oh! Maukah kau kuhadapkan kepada raja negara ini?”

Plavacek dibawa menghadap raja.

Setelah bertemu, raja segera bertanya, “Benarkah kau mau bertemu dengan Kakek Bijaksana? Saya ada pertanyaan. Saya mempunyai pohon Apel Awet Muda. Kalau orang makan buahnya, ia akan menjadi muda lagi. Sekali pun umurnya sudah tua. Tetapi sudah 20 tahun tidak berbuah lagi. Bagaimana caranya supaya apel saya itu bisa berbuah lagi? Kalau kau bisa mendapatkan jawabannya, kau akan kuberi hadiah besar sekali.”

Plavacek menyanggupinya.

Plavacek meneruskan perjalanannya. Ia sampai pada suatu negara yang indah dan luas. Tapi sangat sepi. Di sana Plavacek bertemu dengan seorang lelaki tua, dekat pintu gerbang. Lelaki tua itu ingin membawa Plavacek menghadap rajanya.

Di istana, raja itu berkata, “Plavacek, saya punya sebuah sumur. Sumur saya mengeluarkan Air Hidup. Bila orang mau meninggal, minum Air Hidup akan segera sembuh. Bahkan orang mati, bila diperciki Air Hidup, juga akan segera hidup kembali. Tapi sudah 20 tahun tidak keluar airnya. Bagaimana supaya Air Hidup bisa keluar lagi? Kalau bisa mendapat jawaban Kakek Bijaksana, kau kuberi hadiah yang sangat besar jumlahnya.

Plavacek menyanggupinya. Ia terus berjalan lagi. Masuk hutan keluar hutan. Akhirnya ia sampai pada sebuah padang rumput hijau. Di atas padang tumbuh bunga-bunga yang indah beraneka warna. Di tengah-tengah taman bunga itu berdiri sebuah istana. Dindingnya berkilat-kilat, seperti emas terkena sinar matahari.

Plavacek segera masuk ke istana. Sepi, tidak ada orang. Plavacek hanya bertemu dengan seorang perempuan tua, di pojok. Ia sedang menenun.

“Selamat datang Plavacek. Aku senang kau datang” kata perempuan tua itu.

Ia adalah ibu angkat Plavacek.

“Ibu, raja tidak mau menerima aku sebagai menantu. Aku disuruh mencari rambut Kakek Bijaksana sebanyak tiga helai.”

“Jangan khawatir, Kakek Bijaksana itu anakku sendiri. Waktu pagi ia menjadi anak-anak. Siang hari menjadi orang dewasa. Pada malam hari ia berubah menjadi kakek-kakek. Aku akan menolongmu minta tiga helai rambut emasnya.”

Oleh ibu angkatnya, yaitu Juru Nasib, Plavace di sembunyikan dalam tong. Plavacek disembunyikan dengan baik. Kalau tidak, dia bisa dimakan oleh Kakek Bijaksana. Tiba-tiba terdengar angin bertiup kencang, lalu ada orang masuk lewat sinar matahari. Dia adalah Kakek Bijaksana.

Ia segera bertanya, “Ibu ada bau manusia. Ada manusia kau bawa kemari?”

“Tidak, anakku” sahut ibunya.

Kakek Bijaksana segera tidur. Waktu tidur, perempuan tua itu mencabut rambut emas Kakek Bijaksana.

Ia kaget, lalu bertanya, “Ada apa ibu?”

Ibunya menjawab, “Tidak apa-apa. Saya hanya bermimpi, melihat sebuah sumur. Sumur itu berisi Air Hidup. Air itu bisa mengobati orang sakit dan menghidupkan kembali orang mati. Tapi sudah 20 tahun tidak keluar lagi. Apakah sebabnya anakku?”

Kakek Bijaksana menjawab, “Itu mudah. Bunuh kodok besar yang menutupi mata airnya. Nanti segera mengalir lagi.”

Kakek Bijaksana sudah tidur lagi. Perempuan Tua itu mencabut rambut emas sehelai lagi.

“Ada apa ibu? Aku mau tidur.” ia bertanya.

Ibunya berkata, “Tidak apa-apa. Aku bermimpi lagi. Aku melihat ada pohon Apel Awet Muda. Buahnya menjadikan orang tua menjadi muda kembali kalau dimakan. Tapi sudah 20 tahun tidak berbuah lagi. Apa sebabnya?”

Kakek Bijaksana menjawab, “Itu tidak sulit. Gali akarnya. Bunuh ular yang hidup disela akarnya. Tanam di tempat lain. Pasti akan segera berbuah.”

Kakek Bijaksana tidur lagi. Rambutnya dicabut lagi, untuk yang ketiga kalinya.

“Oh, ibu, kau selalu mengganggu. Ada apa?”

“Aneh, aku mimpi lagi, anakku. Aku bertemu dengan Tukang Sampan. Sudah 20 tahun ia belum dapat ganti. Ia ingin gati pekerjaan. Bagaimana caranya supaya dapat pengganti?”

“Tukang Sampan itu tolol sekali. Berikan alat dayungnya, kepada orang yang pertama kali menyeberang. Ia akan menjadi penggantinya.”

TAMAT

Perempuan tua itu sudah tidak mengganggu lagi. Ia memberi tiga helai rambut emas kepada Plavacek. Plavacek segera pulang. Sambil berjalan ia menyampaikan jawaban-jawaban itu kepada orang-orang yang menanyakan. Plavacek mendapat hadiah yang besar sekali. Emas, intan, berlian diangkut dengan puluhan ekor kuda yang gagah-gagah.

Waktu Plavacek menyerahkan tiga helai rambut emas Kakek Bijaksana, Raja mertuanya hampir-hampir tidak percaya. Baginda semakin heran melihat harta benda Plavacek yang berlimpah-limpah.

“Darimana kau dapat semuanya itu?” Raja bertanya.

Plavacek menceriterakan pengalamannya dengan jujur dan jelas.

“Aku juga akan mencari Apel Awet Muda, Air Hidup, supaya aku hidup selama-lamanya. Juga aku akan mendapat harta benda!”

Raja berangkat hari itu juga. Sejak itu Raja tidak pernah pulang. Pada waktu mau menyeberang, ia memegang dayung Tukang Sampan. Maka ia pun menjadi Tukang Sampan untuk selama-lamanya. Plavacek, anak Tukang Arang naik takhta. Ia hidup dengan istrinya dengan bahagia, untuk selama-lamanya.

No comments:

Post a Comment