Monday, December 30, 2013

Kisah Jerami, Arang Dan Kacang Merah



Kisah Jerami, Arang Dan Kacang Merah




Dahulu kala, ada seorang nenek yang sudah tua, la tinggal di sebuah dusun. Untuk makannya, tiap hari ia memasak kacang merah. Pada suatu hari ia ingin memasak makanannya. la menyalakan api di tungku. Untuk mempercepat besarnya api, ia mengambil segenggam jerami. Jerami itu dimasukkan ke dalam bara, lalu ditiupnya.


la lalu mengaduk kacang yang ada di dalam belanga. Kebetulan sebutir kacang merah terjatuh dekat sebatang jerami. Tak lama kemudian, sebuah bara arang terlempar keluar dari tungku.
Si batang jerami lalu membuka percakapan.
“Teman-teman, dari mana saja kalian datang?”
Si arang menjawab, “Aku beruntung sekali! Aku lolos dari api. Jika aku kurang waspada, tentu habislah aku terbakar.”
Si kacang merah menyambung, “Nasibku juga begitu! Aku masih utuh keluar dari belanga. Jika na­sibku tak mujur, aku segera hancur menjadi bubur!”
Si jerami berkata lagi, “Apakah kaukira aku lebih mujur? Lihat saja sanak-sanakku! Enam puluh batang telah terbakar bersama-sama. Hilang lenyap menjadi asap dan abu. Untung saja aku terlepas dari tangan si nenek. Lalu jatuh di sini dekat kalian.”
“Sekarang lalu bagaimana baiknya?” tanya si arang.
“Begini saja,” jawab si kacang merah.
“Kita telah terlepas dari bahaya. Kita harus tetap berteman, menghindar dari segala bahaya. Marilah kita ber­sama-sama, pergi ke tanah seberang!”
“Usul yang baik,” kata teman-temannya.
Mereka segera berangkat memulai perjalanan. Tak lama kemudian, mereka sampai di tepi se­lokan. Selokan itu kecil saja, tetapi tak ada jembatannya. Bagaimanakah akal mereka untuk menyeberang?
Si jerami berpikir-pikir.

Akhirnya ia berkata, “Biarlah aku menjadi jembatan. Aku berbaring melintang selokan. Kalian berdua berjalan di atas tu-buhku ke seberang. Tetapi hati-hati! Satu demi satu berganti-ganti!”
Si jerami lalu merentangkan badannya. Setelah itu ia berbaring melintang selokan. Jadilah ia sebuah jembatan!
Si arang yang masih membara amat girang hatinya. la segera berjalan di atas tubuh jerami. Karena girangnya ia melompat menari-nari. Tetapi sampai di tengah ia menjadi takut. Hatinya ngeri mendengar desiran air. la terpaku berdiri di satu tempat.
Itulah pangkal kemalangan! Si jerami mulai terbakar. la putus menjadi dua. Dengan suara mendesis si arang jatuh ke dalam air.
Kacang merah memang berhati-hati. la masih tinggal di tepian. Melihat nasib si arang, ia tak tahan untuk tertawa. la tak kuat menahan gelaknya. la tertawa terbahak-bahak tak henti-hentinya. Begitu keras ia tertawa, hingga pecah perutnya! Pecah terbelah menjadi dua. Hampir saja punah riwayat si kacang merah.
Untung saja ada seorang tukang jahit yang lewat. Tukang jahit itu amat baik hatinya. Melihat nasib si ka­cang merah, ia menjadi iba hatinya. la lalu mengambil jarum dan benangnya. Perut si kacang dijahit menjadi rapat kembali.
Sayang sekali penjahit itu tak punya benang me­rah! la mempergunakan benang hitam. Tetapi, bagaimana pun, si kacang berterima kasih kepadanya.
Itulah riwayatnya, mengapa kacang merah bergaris hitam pada perutnya. Sampai sekarangpun, semua keturunannya, bergaris hitam pada perutnya.

No comments:

Post a Comment