Monday, December 30, 2013

Matahari Masih Mengejar Bulan



Matahari Masih Mengejar Bulan



Surya, Raja Matahari, memandang ke bawah. la melihat Permaisuri Bulan yang dikelilingi oleh puteri-puteri bintangnya.

la pun berkata, Permaisuri Bulan, aku telah bosan hidup sendirian. Aku juga bermaksud untuk berkeluarga.”

Surya pergi menemui Raja Segala Ciptaan. Raja Segala Ciptaan memberinya enam orang putera. Surya senang sekali.

“Lihatlah mereka, Permaisuri Bulan,” kata Surya dengan gembira. “Lihatlah mereka. Meskipun Anakku hanya enam, namun mereka lebih bercahaya daripada anakmu yang banyak itu.”

Permaisuri Bulan melihat anak-anak Surya. la Mengakui bahwa mereka lebih bercahaya daripada anak-anaknya sendiri. Tetapi semua makhluk di angkasa dan di bumi merasa kecewa sekali.

“Kami tidak tahan dengan hawa yang panas seperti ini,” kata mereka. “Surya, Raja Matahari, ka­sihanilah kami. Tolong, antarkan anak-anakmu ke tempat lain sebelum kami mati.”

Tetapi Surya sangat membanggakan anak-anaknya yang tidak bersalah itu. la tidak menghiraukan permintaan dari semua makhluk itu.

Anak-anak Surya semakin membesar. Hawa makin

bertambah panas. Ini menyebabkan di mana-

mana terjadi kebakaran dan menimbulkan kemungkinan seluruh bumi akan binasa.

Kini semua penduduk bumi tinggal di dalam gua, untuk menghindari hawa panas itu. Mereka sedang mengadakan suatu rapat. “Marilah kita mengundang salah seorang anak Surya ke sebuah pesta. Mungkin ia akan kasihan kepada kita, lalu menyelamatkan kita.”

Dengan perantaraan Raja Angin Topan, mereka menyampaikan undangan kepada salah seorang anak Surya. Anak Surya itu diundang ke sebuah pesta yang akan diadakan secara besar-besaran.

Anak-anak Surya gembira sekali. “Mari kita pergi ke sana bersama-sama. Kita akan menyaksikan hiburan apakah yang disuguhkan kepada kita,” kata mereka.

Tetapi Surya tidak mengijinkan. Ia pun memanggil anak-anaknya. “Kalian jangan pergi se­mua ke bumi tempat tinggal manusia,” katanya. “Kalau kalian semua ke sana, bumi akan binasa.”

Anak-anaknya malah menertawakannya. “Bohong,” kata mereka. “Kami tidak peduli.”

Raja Hujan mendengar apa yang diperbincangkan. Ia pun segera memberi tahu makhluk yang tinggal di bumi.

“Kalian semua berkumpullah di gua kapur,” ka­ta Raja Hujan menasihati. “Demikian juga bu­rung-burung di angkasa dan binatang-binatang di lanah lapang. Kalian akan saya lindungi dengan se­buah tirai hujan. Sehingga kalian tidak akan dapat dilihat oleh anak-anak matahari.”

Mereka pun bersembunyi di dalam gua. Hujan lebat membentuk seperti tirai. Tirai hujan itu akan melindungi mereka dari penglihatan anak-anak Surya, kalau anak-anak Surya datang ke bumi. Anak-anak Surya datang ke bumi untuk mencari manusia. Mereka mencari manusia di segala penjuru. Setiap tempat yang dilalui oleh anak-anak matahari, berubah menjadi abu.

“Kita telah diperdayakan oleh manusia,” kata anak-anak Surya itu dengan marah. Mereka terus berusaha untuk mencari manusia, tetapi tidak berhasil.

Akhirnya anak-anak Surya itu meraung dengan suara yang dapat memecahkan batu, “Hai manusia-manusia, keluarlah! Cepat! Kalau tidak, kalian akan kami binasakan.”

Di dalam gua kapur, manusia mendengar kata-kata anak-anak Surya. Mereka pun gemetar ketakutan.

“Anak-anak Surya tentu akan menemukan ki­ta,” keluh mereka.

Tetapi hujan turun dengan derasnya dan awan tebal melindungi mereka.

Setelah kelelahan mencari manusia di permukaan bumi, dengan kecewa anak-anak Surya itu berkata, “Mungkin manusia-manusia bersembunyi di bawah tanah.”

Anak-anak Surya lalu mengamuk di perut bumi. Setiap tempat yang mereka lalui menjadi terbakar dan apinya berkobar-kobar. Perut bumi menjadi neraka panas.

Karena mereka tidak menemukan manusia di perut bumi, mereka berkata, “Mungkin mereka bersembunyi di dalam laut. Mari kita cari di sana.”

Mereka pun pergi ke dasar laut. Di sana mereka mencari ke segala penjuru. Laut mulai mendidih karena terkena panas badan mereka. Laut pun mu­lai membanjiri negeri-negeri hingga negeri-negeri itu terpisah satu sama lain.

Permaisuri Bulan sangat sedih atas kemalangan yang menimpa penduduk bumi.

“Surya, Raja Matahari,” seru Permaisuri Bulan. “Sekarang kamu tidak lagi agung, karena anak-anakmu telah membuatmu menjadi malu. Tengoklah ke bawah dan lihat bencana yang me­nimpa bumi karena kelakuan anak-anakmu.”

Ketika Surya melihat apa yang terjadi, ia sangat marah.

“Kata-katamu memang benar, Permaisuri Bulan. Mereka telah mepermalukan aku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan,” katanya. “Tolong, jelaskan apa yang harus kuperbuat, sehingga anak-anakku dapat dibanggakan seperti anakmu.”

Sejurus lamanya Permaisuri Bulan berpikir, kemudian ia berkata, “Surya, anakmu tidak se­perti anakku. Anak-anakmu mempunyai hati yang kejam. Oleh karena itu, mereka tentu akan membinasakan bumi dan semua makhluknya. Lebih baik kamu makan saja anak-anakmu, daripada membiarkan mereka memusnahkan bumi.”

Tetapi Surya tidak mau menelan anak-anaknya. Hal ini disebabkan karena ia melihat anak-anak Permaisuri Bulan, yang membuat ibunya menjadi bangga.

“Aku akan membuat perjanjian denganmu,” katanya kepada Permaisuri Bulan. “Aku akan menelan anak-anakku, asal kamu juga menelan anak-anakmu.”

Permaisuri Bulan sangat terkejut. “Mengapa aku harus memakan anak-anakku? Anak-anakku ti­dak mendatangkan keburukan, tetapi sebaliknya malah mendatangkan kebaikan kepada bumi,” ka­tanya.

“Kalau begitu, anak-anakku dapat berbuat sesuka hati mereka di bumi,” kata Surya memutuskan.

Permaisuri Bulan tidak dapat mengubah keputusan Surya. Akhirnya ia pun mau memakan anaknya, demi keselamatan bumi.

Yang mendapat giliran pertama memakan anaknya adalah Surya. Surya memanggil anak-anaknya pulang. Ketika mereka datang, satu demi satu Sur­ya menelan anak-anaknya. Akhirnya anak-anak Surya habis.

Kini tiba giliran Permaisuri Bulan untuk mema­kan anak-anaknya. Tetapi ketika melihat anak-anaknya, Permaisuri Bulan merasa sedih sekali. Sedih, karena terpaksa harus memakan anak-anak­nya.

“Aku tidak dapat melakukannya,” tangis Per­maisuri Bulan. “Anak-anakku cantik-cantik dan baik hati.”

la pun mengumpulkan anak-anaknya, lalu melarikan diri ke Negeri Di Balik Matahari.

“Raja Malam,” kata Permaisuri Bulan merengek. “Lindungilah kami agar aku dan puteri-puteriku tidak dibunuh oleh Surya.”

Raja Malam mau melindungi mereka semua. Permaisuri Bulan menjadi Ratu malam.

Tetapi Surya, Raja Matahari, marah sekali. Sampai hari ini ia masih terus mengejar Permaisuri Bu­lan mengelilingi langit. Permaisuri Bulan dan puteri-puteri bintangnya pun juga senantiasa beredar untuk melarikan diri dari Surya. Raja Malam juga masih melindungi mereka supaya tidak ditangkap dan dibunuh oleh Surya.

No comments:

Post a Comment