Tuesday, December 31, 2013

Lautan Bernyanyi Dan Apel Yang Pandai Menari



Lautan Bernyanyi Dan Apel Yang Pandai Menari



Adalah seorang raja yang sedang berdukacita. Beberapa saat yang lalu, permaisuri baginda telah meninggal dunia. Kematian permaisuri membuat baginda selalu melamun. Sebagai raja, tentu saja banyak yang dikerjakan. Tanpa permaisuri, kini ia banyak mendapat kesukaran.

Sebetulnya raja tidak sampai hati untuk menikah lagi. Tetapi para penasihat raja menyarankan agar baginda memiliki permaisuri lagi. Perlunya, raja bisa terurus. Di samping itu juga kurang pantas bila seorang raja tidak mempunyai permaisuri. Akhirnya raja pun berniat mencari permaisuri baru. Baginda menikah dnegan seorang puteri bangsawan. Ia masih muda. Tetapi berbeda dengan permaisuri yang dulu. Permaisuri baru ini wataknya sombong dan angkuh. Makin lama sombongnya makin menjadi-jadi. Ia sangat gila hormat.


Setiap orang harus tunduk kepadanya. Dalam istana, semua harus patuh pada kemauannya. Bila ada orang yang kurang disenanginya, pasti akan diusir dengan galak. Permaisuri baru ini makin lama ingin lebih berkuasa dari raja sendiri. Tabiatnya yang kasar dan galak membuat raja tidak senang hati. Raja semakin tidak tenang hidupnya. Sebaliknya raja semakin makan hati. Jarang sekali baginda tersenyum atau tertawa. Mukanya selalu murung. Raja hanya mau keluar kalau penting saja.

Waktu anak raja berusia dua puluh tahun, raja meninggal dunia. Putra Mahkota kini naik tahta menjadi Raja Muda. Permaisuri sekarang hidup menjanda. Tetapi Raja Muda ini tidak pernah mengerti bahwa permaisuri janda itu adalah ibutiri. Sebab, sejak kecil ia sudah di tinggal mati oleh ibunya sendiri. Raja Muda pun selalu beranggapan bahwa permaisuri janda itu ibunya sendiri. Maka ia pun selalu hormat dan sayang kepadanya.

Pada suatu hari, Raja Muda pergi berburu. Karena ia seorang yang gagah berani, ia pun segan membawa pengawal. Ia selalu berburu seorang diri saja. Setelah beberapa lama berjalan, Raja Muda sampai di sebuah ladang. Ketika ia sedang berjalan, ia mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara. Diam-diam Raja Muda melihat mereka. Semua ada tiga orang. Gadis-gadis cantik anak pemilik ladang.

Gadis yang sulung berkata, “ Semalam saya bermimpi, menjadi istri tukang roti.”

Yang kedua segera menjawab, “Saya juga semalam bermimpi, kak. Saya menjadi istri seorang pemburu.”

Gadis yang bungsu belum berkata. Sekali pun ia juga bermimpi. Tetapi ia malu untuk mengatakannya. Sebab mimpinya lain daripada yang lain. Ia takut akan dicemoohkan oleh kedua saudaranya. Berkali-kali, gadis yang sulung bertanya kepada gadis yang bungsu. Tetapi si Bungsu tetap malu untuk mengatakan mimpinya semalam.

Akhirnya ia dengan tersipu-sipu mengatakan juga, “Semalam aku bermimpi aneh. Aku menikah dengan seorang Raja Muda. Oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, aku dikaruniai doa orang anak kembar. Satu putra, satu putri. Keduanya berwajah indah bagaikan sepasang bunga yang molek.”

Raja Muda mendekati ketiga gadis itu. Lama sekali ia memandangi wajah Putri Bungsu. Ia melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Putri Bungsu memang cantik parasnya. Senyumnya lembut dan masih agak pemalu.

Akhirnya Raja Muda berkata kepada Putri Bungsu, “Mimpimu akan terlaksana,”

Tentu saja ketiga putri bersaudara itu tercengang. Mereka semua kaget dengan munculnya Sang Raja Muda. Namun tak seorang pun menyahut.

Mungkin Raja Muda berkata karena tidak sadar. Mungkin ia sedang lelah, sehingga ia berkata begitu saja. Tanpa pikir dahulu. Atau mungkin karena ia jemu mendengar teriakan ibu tirinya bila memanggil pelayan. Sekarang Raja Muda pulang. Dengan segera ia menaikkan Putri Bungsu ke atas kudanya. Kuda dipacu cepat. Sebentar ia pun sampai di istananya.

Tiba-tiba istana menjadi gempar. Banyak orang kaget. Mereka bertanya-tanya, dengan adanya berita bahwa Raja Muda akan menikah. Calon permaisurinya hanyalah orang biasa. Bukan gadis putri raja atau gadis anak dari kaum bangsawan. Berita itu ternyata benar. Tanpa minta pertimbangan dari siapa pun, Raja Muda menikah dengan Putri Bungsu anak petani.

Permaisuri janda, ibu tiri raja muda sangat marah. Ia tidak setuju Raja Muda menikahi anak rakyat jelata. Tetapi apa daya, ia tidak berani berbuat apa-apa. Ia takut kalau Raja Muda akan marah. Tetapi sekarang permaisuri janda itu menaruh dendam terhadap Putri Bungsu. Namun ia memang berakal licik. Sekali pun hatinya benci, ia berbuat pura-pura sayang kepada Putri Bungsu.

Setelah beberapa tahun kemudian, Putri Bungsu mengandung. Hal ini sangat menyenangkan hati Raja Muda. Ia ingin sekali mempunyai sepasang anak kembar, putra dan putri yang cantik bagaikan bunga. Tetapi pada suatu hari, Raja Muda terpaksa meninggalkan istrinya. Di perbatasan, ada musuh yang menyerang. Maka Raja Muda harus pergi berperang.

Ketika ia pamitan kepada istrinya, Putri Bungsu menjawab, “Bila kakanda pulang nati, aku akan menjadi seorang ibu. Anakku akan lahir kembar. Satu putra dan satu putri. Keduanya tampan dan cantik bagaikan bunga yang indah.”

Berat sekali hati Raja Muda waktu akan pergi. Tetapi apa boleh buat. Kewajiban sangat mendesak.

Sebelum berangkat ia berkata kepada istrinya, “Bila engkau melahirkan, kirimlah berita ke medan peperangan. Suruhlah seorang prajurit membawa berita itu kepadaku.”

Raja Muda berangkatlah. Berminggu-minggu ia berperang. Sebulan kemudian, Putri Bungsu melahirkan. Ternyata mimpinya benar. Ia melahirkan anak kembar, seorang putra dan seorang putri yang indah-indah wajahnya. Anak kembar itu benar-benar seperti sepasang bunga yang indah rupanya.

Kepada permaisuri janda, Putri Bungsu memberitahu, “Dulu suamiku berpesan. Bila aku telah melahirkan, supaya mengirim berita ke sana. Sudilah ibu menolong saya menyampaikan berita itu.”

Permaisuri Janda menjawab dengan perkataan ramah yang dibuat-buat, “Tentu saja, anakku. Akan kukirimkan seorang utusan ke medan perang. Untuk memberitahukan kelahiran cucuku yang manis-manis.”

Dengan segera permaisuri janda memanggil seorang utusan. Sekarang ia mendapat kesempatan untuk memfitnah Putri Bungsu. Dengan segara ia menulis sepucuk surat.

Bunyinya begini, “Anakku, Raja Muda di medan perang, istrimu telah melahirkan. Anaknya kembar. Tetapi bukan bayi manusia. Ia melahirkan seekor anak singa dan seekor anak buaya. Harap segera memberi jawaban,”

Utusan berangkat dengan membawa surat dari Permaisuri Janda. Supaya lekas sampai, utusan pergi naik kuda yang kuat. Jalannya bergegas sekali. Kuda dipacunya secepat mungkin. Sampai di medan perang, surat diserahkan utusan kepada Raja Muda. Raja Muda sangat murung. Selain sedih ia juga heran.

Dalam hatinya bertanya, “Mengapa manusia melahirkan anak binatang?”

Meski pun sedih, ia tetap tenang. Sebab ia sedang menghadapi peperangan yang berbahaya.

Dalam suarat jawaban, ia menulis surat untuk permaisuri janda, “Ibu Suri yang baik, kabar sudah saya terima. Pesan saya, istri saya jangan berbuat apa-apa. Anak-anak binatang itu jangan diganggu dulu. Tunggulah sampai saya pulang dari peperangan.”

Utusan segera melarikan kudanya. Ia membawa surat balasan untuk Ibu Permaisuri Janda. Sampai di istana, utusan menyerahkan surat balasan kepada Permaisuri Janda.

Kepada utusan itu, Permaisuri Janda berkata, “Ini kuberi engkau uang emas. Pulanglah kau dan pergilah dari negara ini.”

Maksud Permaisuri Janda, supaya niat jeleknya dirahasiakan. Jangan sampai tercium orang lain. Utusan itu pun pergi segera. Sekarang Permaisuri Janda menemui Putri Bungsu yang sedang merawat anak-anaknya.

Dengan nada sedih, Permaisuri Janda berkata, “O, Putri Bungsu yang malang. Pesanmu telah diterima oleh suamimu. Tetapi jawabannya sangat kejam. Ia memerintahkan, agar kedua anakmu itu dibuang ke dalam laut. Bagaimana menurut pendapatmu?”

Putri Bungsu sangat sedih. Ia menangis tersedu-sedu. Hatinya sangat bingung. Ia sangat heran, mengapa suaminya bersikap begitu kejam terhadap anaknya sendiri. Tetapi ia tidak bisa berbuat lain, kecuali patuh terhadap perintah suaminya. Putri Bungsu menyerahkan kedua anaknya kepada Permaisuri Janda. Sekarang putri itu hanya tiduran menelungkup. Dari matanya deras mengalir air mata, hingga membasahi bantalnya.

Kedua bayi anak Putri Bungsu diambil oleh Permaisuri Janda. Setelah didandani lengkap dengan perhiasan emas, terus dimasukkan ke dalam sebuah keranjang. Seorang pesuruh ditugaskan membawa keranjang itu ke pantai. Sampai di pantai, pesuruh kebingungan. Ia tidak sampai hati membuang anak-anak itu ke laut. Tetapi pesuruh sangat takut kepada Permaisuri Janda. Dengan mata yang dipejamkan, ia meletakkan keranjang di atas permukaan air laut. Saat gelombang datang, keranjang yang terapung itu dibawa ke tengah laut. Pesuruh segera pulang ke istana.

Sebulan kemudian, Raja Muda kembali dari peperangan. Sekali pun ia membawa kemenangan, tetapi hatinya tidak gembira. Ia ingat berita yang disampaikan padanya di medan perang. Makin lama ia makin sedih, karena malu mempunyai anak binatang. Setelah sampai di istana, ia tidak mau menjumpai istrinya. Yang ditemui adalah Permaisuri Janda.

Dengan segera ia bertanya, “Ibuku, benarkah anakku berupa seekor anak singa dan seekor anak buaya?”

Ibu tirinya segera menjawab, “Tidak benar anakku. Sebetulnya istrimu melahirkan sepasang bayi kembar. Satu putra dan satu putri. Tetapi saya heran. Istrimu sangat kejam. Kedua anaknya yang cantik bagaikan bunga, dibuang ke laut!”

Raja Muda sangat geram menahan marah. Mendadak ia benci kepada Putri Bungsu yang selama ini disayanginya.

“Kalau begitu, usir saja dia. Saya tidak ingin mempunyai istri yang kejam begitu.”

Kemudian Raja Muda memerintahkan agar istrinya di penjara. Putri Bungsu di penjara dalam menara kerajaan yang tinggi sekali. Permaisuri janda sangat gembira. Tipu muslihatnya berhasil.

Tetapi kedua bayi yang dibuang ke laut itu tidak tenggelam. Keranjangnya terus terapung. Ombak laut membawanya, makin lama makin jauh. Pada suatu hari ada seorang nelayan sedang mengail ikan. Sebelum ia memperoleh seekor ikan pun, ia melihat sebuah keranjang terapung-apung. Ia segera mendayung perahunya. Didekatinya keranjang yang terapung itu. Betapa tercengangnya ia waktu dilihatnya keranjang itu berisi dua anak bayi.

Dengan segera ia pulang membawa keranjang itu. Hatinya sangat gembira. Sampai di rumah ia berlari-lari memanggil istrinya.

Setelah bertemu, ia segera berkata, “Lihat istriku. Tuhan belum mengaruniai anak kepada kita. Sekarang kita mendapatkan anak. Alangkah bahagianya kita hari ini. Istrinya pun sangat bahagia. Sebab ia sudah lama sekali ingin punya anak.

Suami istri nelayan itu memelihara kedua anak tersebut dengan baik. Mereka sangat menyayangi kedua anak itu seperti kepada anak kandungnya sendiri. Makin lama kedua anak itu makin besar. Keduanya berparas tampan dan cantik serta sehat. Tetapi nelayan itu sekarang sudah tua. Ia tidak bisa bekerja keras seperti dulu lagi. Makin tua penghasilannya semakin kecil. Sebab ikan yang diperolehnya hanya sedikit.

Perolehannya kini tidak cukup untuk makan mereka berempat. Maka nelayan itu pun sangat bersedih. Ia tidak bisa menghidupi keluarganya dengan cukup. Melihat hal ini, si Kembar itu pun bersedih hati. Mereka belum dewasa, tetapi sudah mengerti kesulitan orang tuanya. Pada suatu hari, si Kembar menghadap ayah dan ibu angkatnya.

“Ayah yang baik, dan ibu yang menyayangi kami, ijinkanlah kami berdua untuk pergi merantau. Kami ingin belajar mencari sesuap nasi. Kami tidak tega melihat ayah yang sudah tua itu bekerja keras, seorang diri.”

Dengan sedih nelayan tua itu menjawab, “Kembar, kalian berdua masih terlalu muda. Aku dan ibumu belum tega melepaskan kalian berdua.”

Namun si Kembar memohon kepada ayah dan ibu angkatnya agar mengijinkan mereka pergi.

“Ayah, bila nanti kami mendapat nasib untung, kami berdua tidak akan melupakan ayah dan ibu.”

Mendengar kata-kata si Kembar, suami istri nelayan tua itu tak dapat menahan air mata. Akhirnya mereka pun mengijinkan kepergian si Kembar.

Sebelum berangkat, nelayan tua itu berkata, “Kembar, sebelum kalian berangkat, dengarlah kata-kataku. Kukira kau perlu tahu. Bahwa sesungguhnya kalian berdua bukan anakku sendiri. Aku menemukan kau berdua dalam sebuah keranjang. Keranjang itu terapung di atas laut. Kalian berdua terbungkus dalam kain sutera. Tubuh kalian penuh dengan perhiasan emas.”

Keesokan harinya si Kembar berjalan berdua menyusuri pantai. Terus menerus mereka berjalan sambil memandangi air laut yang berwarna biru.

Tiba-tiba, si Putri mendengar sesuatu. Kepada si Putra ia pun berkata, “Dengar Kak! Aku mendengar suara!”

Mereka berdua berhenti. Keduanya mendengar suara yang nyaring, “Hai Putra dan Putri. Anak kembar yang indah bagaikan bunga. Teruslah berjalan. Sampai kau bertemu dengan sebuah apel yang bisa menari. Dan kalian akan bertemu dengan burung yang akan menjadi saksi.”

Kata-kata itu dilagukan dengan sangat merdu. Si Kembar tahu bahwa yang bernyanyi adalah air laut di dekatnya. Mereka sangat heran, ada laut yang bisa bernyanyi. Mereka meneruskan perjalanan, mengikuti nasihat laut. Si Kembar berjalan terus. Makin lama makin jauh. Sudah tiga hari tiga malam mereka berjalan. Karena sangat lelah, mereka ingin beristirahat.

Si Kembar mencari pohon yang rimbun. Lalu mereka pun berhenti. Si Kembar duduk bersandar di bawah pohon. Sambil duduk melamun melepaskan lelah, si Putri memandang ke atas. Tiba-tiba ia melihat sebuah apel di puncak pohon.

Iapun berkata kepada si Putra, “Kak! Lihat. Ada apel merah bagaikan darah. Itu, di puncak pohon ini.”

Si Putra melihat ke atas. Benar. Ia melihat sebuah apel yang merah sekali. Hanya satu-satunya. Si Putra sangat lapar dan haus. Melihat buah apel yang ranum itu, terbitlah air liurnya. Ia juga sangat kasihan kepada adiknya yang sudah kelaparan sejak kemarin. Tidak pikir panjang lagi, ia memanjat pohon. Buah apel itu dipetiknya.

Tetapi baru saja ia memetik apel, ia mendengar seekor burung berkata, “Putra, jangan kau makan apel itu. Kelak kau akan bertemu dengan orang yang membuangmu ke laut. Apel itu adalah apel yang pandai menari. Ia akan menunjukkan orang yang telah berbuat kejam padamu berdua. Dan akulah burung yang akan menjadi saksi untuk membelamu.”

Mendengar tutur kata si burung, si Putra pun tercengang. Kemudian ia kembali memandangi si Putri dengan hati iba. Ia tahu bahwa adiknya sudah lapar sekali.

Sesaat kemudian burung itu pun berkata lagi, “Putra dan Putri, teruskan perjalananmu. Masuklah ke dalam istana raja. Di sana nanti, kalian berdua mintalah sedekah.”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada burung yang baik itu, si Kembar meneruskan perjalanannya. Mereka tidak kenal lelah. Sepanjang jalan, kedua anak itu saling bertanya. Kemana jalan yang menuju istana raja. Keduanya memang sama-sama belum tahu. Namun burung yang baik itu selalu menunjukkan jalan, sehingga si Kembar tidak tersesat.

Demikian pun buah apel. Ia selalu mengikuti kemana pun si Kembar pergi. Ia pun bisa terbang sekali pun tanpa sayap. Sepanjang jalan, buah apel yang bisa menari itu selalu ada di atas kepala si Kembar. Setelah lama mereka berjalan, akhirnya sampailah si Kembar di muka gerbang istana raja. Dengan hati berdebar ketakutan, mereka mendekati pintu gerbang.

Tiba-tiba terdengar suara keras bertanya. Suara itu adalah suara seorang prajurit yang menjaga pintu.

“Hai anak kecil! Mau apa kau kemari?”

Karena kagetnya hati si Kembar berdebar-debar. Peluh dingin memenuhi tubuh mereka. Si Putri diam tidak menjawab. Hatinya sangat kecut.

Maka dengan ketakutan, si Putra memberanikan diri menjawab, “Tuan yang baik hati. Hamba berdua adalah anak kembar. Hamba akan memohon sedekah. Barang siapa memberi sedekah anak kembar, akan mendapat nasib untung.”

“Baik. Tetapi aku ini prajurit yang sedang berjaga. Jadi aku tidak mempunyai apa-apa. Kau mengerti bukan?” prajurit itu bertanya.

Si Kembar pun segera menjelaskan lagi, “Kami mengerti tuan yang baik. Tetapi kalau diijingkan, hamba ingin minta sedekah kepada baginda raja.”

“Kalau begitu, tunggulah di sini. Aku akan minta ijin dulu untuk kalian berdua.” Kata si prajurit itu.

Sang prajurit bergegas lari menghadap baginda raja. Setelah bersembah sujud, ia segera melapor, “ Baginda yang mulia, ada sepasang anak kembar ingin menghadap baginda. Kedatangan mereka hanya sekedar mohon sedekah.”

Raja memang berhati baik. Dengan segera baginda memerintahkan, agar prajurit istana itu menjemput si Kembar. Dengan langkah bergegas, prajurit itu menjumpai si Kembar. Mereka berdua menunggu dengan sabar di depan pintu gerbang.

“Hai anak kembar! Baginda raja sudi menerima kedatanganmu.”

Betapa girangnya rasa hati si Kembar. Dalam hati mereka selalu berdoa, agar penderitaannya mereka akan segera berakhir.

Ketika melihat kedua anak itu, raja sangat terpukau. Kedua anak itu mempunyai paras yang gemerlapan. Lagipula masih sangat remaja. Hati baginda merasa tersayat, melihat kedua anak kecil itu meminta sedekah.

“Hai anak kembar, kalian berdua masih terlalu kecil untuk mencari makan sendiri. Di manakah orang tuamu, anak yang baik?”

Pada saat bertanya seperti itu, raja mengusap air matanya. Pipinya basah dan matanya berkedip-kedip.

Si Putra pun segera memberikan jawaban, “Kami adalah anak seorang nelayan. Ia sudah sangat tua dan ia terlalu miskin. Karena itu kami berdua terpaksa mencari makan sendiri. Waktu kami akan pergi, nelayan itu berkata, bahwa kami hanyalah anak angkat. Ia menemukan kami dalam sebuah keranjang yang terapung-apung di pantai. Ia juga menerangkan, bahwa kami waktu itu terselubung dalam kain sutra serta penuh dengan perhiasan emas permata.”

Mendengar penjelasan si Putra, raja semakin terkejut. Ia juga sangat kagum. Anak kecil itu sudah bisa berkata-kata dengan panjang lebar.

Setelah terdiam sejenak, raja segera berkata, “Tujuh tahun yang lalu, istriku melahirkan sepasang anak kembar. Keduanya tampan dan cantik bagaikan bunga-bunga. Tetapi kedua anak itu dibuang ke laut oleh istriku yang kejam. Mereka berdua dibuang ke laut. Dimasukkan ke dalam keranjang dan dibungkus dengan kain sutera. Juga dibekali dengan perhiasan emas permata. Barangkali kau berdua adalah anakku!”

Raja semakin terharu. Tidak habis-habisnya baginda melihat wajah kedua anak itu. Sungguh sangat mirip dengan wajahnya sendiri. Setelah berkata demikian, raja bertanya kepada si Kembar, sambil terus menerus mengusap air matanya.

“Lalu apa yang kau inginkan anak yang malang?”

Mendengar pertanyaan raja, si Kembar menoleh melihat si Putri, tetapi si Putri tetap tidak mau berkata apa pun, maka si Putra pun segera menjawab dengan perlahan-lahan, “Baginda, kami akan menuntut keadilan. Siapa yang salah haruslah dihukum. Kami datang membawa sebuah apel dan seekor burung. Apel ini bisa menari. Ia akan menunjukkan siapa sesungguhnya yang telah berbuat kejam membuang kami ke laut. Ada pun burung yang bijaksana itu akan menjadi saksinya.”

Dengan segera raja mengumpulkan seluruh keluarganya. Permaisuri dan ibu tiri raja, semua ikut dikumpulkan. Dengan segera pula si Putra mengeluarkan apel ajaibnya. Apel dilepaskan dan terbang dengan sendirinya. Sekarang apel itu menari-nari sambil berkeliling di atas kepala mereka. Selama itu semua mata menatap buah apel terus menerus. Apel yang berwarna merah seperti darah itu menari dengan lincahnya. Seluruh keluarga berdebar-debar, menunggu apa yang akan terjadi.

Raja yang tidak sabar itu segera bertanya kepada si Putra, “Bagaimana cara apel menunjukkan siapa yang telah bersalah?”

Dengan sopan dan hormat, si Putra menjawab, “Apel itu akan hinggap di atas kepala orang yang telah berdosa, baginda. Setelah itu ia akan segera menghilang untuk selama-lamanya.”

Benarlah apa yang dikatakan oleh si Putra. Sekarang apel merah itu tidak berkeliling lagi. Ia hanya menari-nari di atas kepala permaisuri janda, ibu tiri sang raja. Kemudian buah apel itu pun hinggap di atas kepala permaisuri janda.

Dengan segera, perempuan itu berteriak ketakutan, “Tidak, saya tidak berdosa. Bukan saya yang membuang kedua anak itu. Bukan saya. Saya tidak berdosa!!!”

Mendengar teriakan ibu tiri raja, seekor burung segera masuk mendekati permaisuri sang raja. Ia hinggap persis di atas kepala permaisuri janda itu, sambil berkata keras, “Perempuan inilah yang telah berbuat kejam. Dialah yang memerintahkan agar kedua anak raja ini dibuang ke laut.”

Selanjutnya, burung itu menceritakan riwayat hidup si Kembar dari awal sampai akhir. Setelah selesai, apel dan burung itu pun terbang. Keduanya menghilang untuk selama-lamanya. Kini tinggallah Raja Muda memeluk kedua anaknya. Sekarang dalam istana hujan tangis kebahagiaan.

Raja Muda segera meminta maaf kepada permaisurinya, yang telah dihukum kurung selama ini.

“Maafkan aku permaisuriku. Aku tidak mengerti, bahwa kau tidak bersalah. Sebab ibu tiriku itu pandai sekali berbohong.”

Permaisuri pun mengerti, bahwa semua penderitaan itu adalah hasil dari perbuatan permaisuri janda.

Sekarang, ibu tiri raja sedang menangis-nangis, merintih-rintih. Ia mohon agar dimaafkan oleh sang raja.

“Aku telah berbuat dosa. Akulah yang bersalah. Anakda raja, maafkanlah kesalahanku. Bukankah baginda raja, maafkanlah kesalahanku. Bukankah baginda raja bisa memaafkan kesalah orang yang berdosa?” Ia bertanya sambil merengek-rengek.

Tetapi kemarahan raja tidak bisa reda. Kekejaman ibu tirinya itu sungguh luar biasa.

“Wahai ibu tiri yang jahat, bagaimana aku bisa memaafkan kesalahanmu? Kau terlalu kejam. Bayi yang kecil-kecil itu tidak berdosa. Tidak berdaya. Mengapa kau sampai hati membuang mereka ke laut?”

Ibu tiri raja itu tidak bisa menjawab. Ia hanya menangis terus menerus. Karena terlalu lama ia menangis, matanya sekarang menjadi bengkak-bengkak.

Tetapi tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Raja segera memanggil tabib istana. Tabib datang sebanyak tiga orang. Mereka ditugaskan untuk mengobati si Putra, si Putri dan permaisuri raja.

Segala macam obat disediakan oleh tabib. Setelah dirawat oleh tabib, permaisuri segera diantar ke tempat peristirahatannya. Sedangkan si Kembar kembali menghadap baginda. Raja akan bertanya di mana alamat nelayan tua yang telah memelihara anaknya dengan baik. Si Putra memberikan penjelasan, di mana kakek nelayan itu tinggal.

Pada saat itu juga, raja memanggil sejumlah pasukan berkuda untuk menjemput nelayan tua. Berhari-hari pasukan utusan raja mencari tempat nelayan dengan istrinya itu. Tetapi sudah sekian lama belum juga ketemu.

Pemimpin pasukan hampir-hampir putus asa. Tetapi mereka takut pulang, sebelum tugasnya berhasil. Rombongan tentara itu menyusuri pantai terus menerus. Setelah nampak ada pohon-pohon, mereka pun menuju ke sana. Setelah keluar masuk kampung, komandan pasukan melihat sebuah gubuk kecil.

Ternyata dalam gubuk itulah nelayan tua itu tinggal dengan istrinya. Melihat kedatangan tentara kerajaan itu, mereka berdua sangat ketakutan. Kakek nelayan itu menggigil, sedangkan istrinya menangis dengan bibir yang bergetar-getar.

Tetapi dengan segera komandan pasukan itu menerangkan, “Kakek nelayan, jangan takut. Kami bukan orang jahat. Kedatangan kami atas perintah raja, untuk menjemput kakek dan nenek. Raja sangat berterima kasih, atas pertolongan kakek kepada si Kembar, anak baginda raja.”

Setelah mendapat penjelasan, barulah hati kakek nelayan itu menjadi tenang kembali. Nenek nelayan itu pun sudah tidak menangis lagi. Dengan segera kakek dan istrinya dibawa ke istana raja. Bukan main gembiranya raja, atas kedatangan kakek nelayan dan istrinya. Perjamuan besar diselenggarakan. Makanan yang lezat-lezat, minuman yang enak dikeluarkan untuk menjamu nelayan tua itu.

Raja memerintahkan, agar nelayan tua itu diberi tempat sebuah gedung dalam lingkungan istana. Mulai saat itu juga, nelayan dan istrinya termasuk keluarga raja dan tidak perlu bekerja lagi. Seluruh keperluan hidup mereka ditanggung oleh baginda. Sejak itulah kehidupan nelayan dan istrinya lepas dari penderitaan.

Sekarang betapa bahagia hati sang raja. Kedua anaknya yang dikira telah meninggal ternyata masih hidup segar bugar. Kini kedua anak itu ada di dekatnya. Apalagi kini permaisurinya pun telah pula berada disisinya. Sekali pun lama ia mengurung istrinya dalam penjara, tetapi istrinya yang tak berdosa itu tetap sehat wal afiat. Hanya tubuhnya sedikit kurus, karena pikirannya selama ini selalu tersiksa.

Dengan pulangnya anak dan istrinya, raja berniat mengadakan pesta. Sebagai tanda bahwa ia ingin mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Perayaan diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam. Di seluruh negara itu diadakan berbagai pertunjukan untuk menghibur seluruh rakyat.

Raja bersama permaisuri, mengantar si Putra dan si Putri turun dari panggung. Di lapangan luas, raja sekeluarga menerima ucapan selamat dari seluruh warga negara yang hadir. Demikianlah seluruh negara menjadi meriah, selama tujuh hari tujuh malam.

Pada hari yang ketujuh, raja mengerahkan sejumlah pasukan istana. Mereka diberi tugas, agar membagikan uang, bahan makanan, bahan pakaian kepada para penduduk yang miskin. Terutama sekali kepada orang yang fakir, miskin dan yatim piatu.

Maka sekarang, bertambahlah kebahagiaan sang raja sekeluarga. Selain seluruh keluarganya selamat dari mara bahaya, rakyat pun semakin cinta kepadanya. Sedangkan ibu tiri raja kini meringkuk dalam penjara, untuk selamanya.

No comments:

Post a Comment