Tuesday, December 31, 2013

Pelanduk Mengalahkan Raja Buaya



Pelanduk Mengalahkan Raja Buaya 





Pelanduk melompat-lompat di tebing sungai sambil membuat suara gaduh sekali. la sedang memperhatikan lumpur di pantai yang menandakan air akan surut.

“Mengapa kau terlalu gembira?” tegur Raja Buaya yang sedang berendam dan dengan pandainya menyembunyikan tubuhnya dalam lumpur. Hanya mata dan moncongnya saja yang kelihatan.

“Apakah kau tidak takut kepadaku lagi?”

“Sahabatku, Buaya,” kata Pelanduk dengan riang.

“Apa yang hendak kutakutkan? Walaupun kau besar dan gagah, kau seperti katak di bawah tempurung jika dibandingkan dengan rakyatku yang sebanyak pasir di pantai.”

Raja Buaya keluar dari kubangnya.

“Apa katamu?” katanya dengan garang.

“Rakyatmu hanya sebanyak ayam yang mencari makan di kaki harimau!”

“Janganlah marah,” bujuk Pelanduk.

“Mari kita adakan pertandingan untuk menyelesaikan perkara ini. Sehingga semua orang akan tahu siapa kuat dan siapa yang lemah.”

“Itu usul yang baik,” jawab Raja Buaya menyetujui.

la gembira sekali membayangkan hidangan yang mungkin dinikmatinya.

“Besok aku akan datang dengan rakyatku untuk bertanding dengan rakyatmu.”

Raja Buaya pun pergi mengumpulkan rakyatnya untuk pertandingan itu. Tetapi Pelanduk lari ke sana ke mari di tebing sungai tidak henti-hentinya hingga matahari terbenam. Pada waktu subuh ia mulai lari ke sana ke mari di tebing itu lagi.

Ketika matahari tinggi di atas kepala, Raja Buaya pun datang dengan seluruh rakyatnya. Sejauh mata memandang hanya tampak buaya yang berjajar di sepanjang sungai.

“Kenapa kau sangat lambat, Buaya?” tanya Pelanduk dari tebing sungai.

“Apakah pahlawanmu berjalan pelan-pelan karena takut? Rakyatku datang pagi-pagi sekali untuk menunggu rakyatmu supaya mereka dapat mengoyak-ngoyak rakyat­mu, lalu menimbunnya di atas kotoran.”

“Karena sudah lama menunggu dan rakyatmu belum datang juga, mereka berkata kepadaku.

“Mungkin mereka bersembunyi karena takut! lalu rakyatku pulang ke rumahnya masing-masing.”

“Akan kurobek lidahmu yang lancang dan pembohong itu,” teriak Buaya karena terlalu marah.

“Rakyatmu takut kepada rakyatku, seperti ayam yang takut kepada elang, oleh karena itu, mereka tidak datang!”

“Sabarlah Buaya, jangan cepat marah,” Pelanduk membujuk.

“Lihatlah tebing ini. Banyak sekali tapak kaki mereka, bukan? Apakah rakyatku tidak sebanyak pasir di pantai?”

Raja Buaya naik ke tebing yang berlumpur itu. la melihat banyak sekali tapak kaki kancil di tebing itu. Keberaniannya surut seperti air di dalam tempayan yang berlubang.

“Rakyatmu memang datang ke sini,” Raja Buaya mengakui dengan suara lemah. “Kami tidak akan mengganggu mereka lagi.”

“Aku belum puas, Buaya,” kata Pelanduk tidak setuju.

“Sebaiknya perkara ini diselesaikan dengan suatu pertandingan. Setujukah kau kalau kita adakan pertandingan tarik tambang, satu lawan satu?”

Raja Buaya gembira sekali mendapat kesempatan untuk membalas kekalahannya dengan mudah.

“Kau memang binatang yang bijaksana,” katanya.

Pertandingan akan dimulai.

“Tunggu sebentar,” kata Pelanduk.

“Aku akan mencari tali rotan yang kuat, supaya tidak putus kalau ditarik.”

Pelanduk pergi mencari Raja Beruk, sahabatnya.

Setelah bertemu, Pelanduk berkata, “Semua orang sudah tahu kalau rakyatmu bermusuhan dengan Raja Buaya beserta seluruh rakyatnya. Tolonglah aku, supaya aku dapat memalukannya.”

Mendengar kata-kata itu, Raja Beruk senang sekali. Lalu ia mendengarkan rencana Pelanduk dengan perasaan gembira.

Pelanduk kembali ke sungai dengan membawa tali rotan yang panjang.

“Sahabatku,” serunya.

Aku membawa tali rotan yang kuat sekali, seperti urat gajah. Peganglah ujung tali rotan ini, sedang aku memegang ujung yang satunya. Tetapi aku harus berdiri jauh dari sini, supaya aku tidak terpeleset lumpur di atas tebing ini.”

Mereka membuat persetujuan. Seandainya Raja Buaya berhasil menarik Pelanduk masuk ke dalam sungai, Raja Buaya yang menang.

“Dengan ditarik sekali saja, kau akan terjerumus,” kata Raja Buaya dengan congkak. “Tapi jangan khawatir. Aku akan menyuruh rakyatku supaya menolongmu, sehingga kau tidak akan cedera.”

“Kalau hanya berkata memang mudah,” Pelanduk mengejek.

“Ingat, harimau yang mengaum selalu kehilangan mangsanya.”

Pertandingan dimulai.

Pelanduk berada di tanah kering, sementara Raja Buaya siap menarik talinya.

Ketika Pelanduk berteriak, “Tarik!”

Raja Buaya menarik tali rotan itu dengan sekuat tenaganya. Raja Buaya mengira dengan ditarik sekali saja, Pelanduk akan terjerumus ke dalam sungai. la terkejut sekali sewaktu talinya menjadi tegang.

Pertandingan tarik tambang itu terus berlangsung, sementara Pelanduk terus berteriak, “Tarik! Sahabatku Buaya. Tarik! Tarik! Kau itu tidur atau sudah letih?”

“Binatang jahanam itu tenaganya seperti kerbau,” Raja Buaya mengeluh sambil menarik tali rotan itu dengan sekuat-kuatnya.

Akhirnya Raja Buaya tidak kuat lagi menarik tali rotan itu. Napasnya sesak dan tenaganya hilang.

Pelanduk kembali ke tebing. “Mengapa tidak di­tarik?” tanyanya dengan suara terkejut.

Raja Buaya terengah-engah.

“Apakah kau mau istirahat dulu sebelum per­tandingan kita teruskan?” tanya Pelanduk.

Raja Buaya tetap membisu.

“Mengapa kau diam saja? Apakah kau sudah tuli?” Pelanduk bertanya dengan tidak sabar.

“Atau kau menyerah dan mengakui kalau rakyatku yang lebih banyak dan lebih kuat? Kalau begitu, tenggelamlah, supaya kau tidak merasa malu.”

Perlahan-lahan Raja Buaya menenggelamkan dirinya ke dalam air, lalu lenyap dari pandangan.
Karena sudah berhasil mengalahkan Raja Buaya, Pelanduk menemui Raja Beruk. Raja Beruk melompat-lompat kegirangan karena musuhnya kalah, sambil melepas ujung tali rotan yang diikatkan di batang pohon kelapa.

No comments:

Post a Comment