Tuesday, December 31, 2013

Hikayat Burung Undan



Hikayat Burung Undan



Jauh, jauh sekali dari sini, ada seorang raja, la mempunyai sebelas orang putera. Puterinya hanya seorang. Namanya Eliza.

Sebelas putera raja itu benar-benar membanggakan. Tiap pagi mereka pergi ke sekolah. Di dadanya selalu ada bintang. Di pinggangnya ada pedang. Mereka menulis dengan pinsil intan. Bukunya dari emas. Mereka memang pandai sekali. Apa yang dipelajari. segera hafal di luar kepala. Mereka benar-benar putera raja sejati.

Eliza masih kecil. Setiap hari ia duduk di atas sebuah bangku. Bangku itu amat jernih, karena terbuat dari kaca. la suka sekali melihat-lihat buku gambar. Tentu saja buku-buku itu amat mahal. Hanya raja yang dapat membelinya!

Anak-anak itu hidup penuh bahagia. Tetapi kebahagiaan itu tidak lama. Permaisuri raja itu sakit lalu meninggal. Raja itu lalu memilih lagi seorang permaisuri. Permaisuri yang baru itu ternyata amat jahat. la sama sekali tak menyukai anak-anak itu. Pada hari pertama, anak-anak itupun telah merasa.

Pada suatu hari, di istana ada pesta besar. Anak-anak pun bermain tamu-tamuan. Tetapi tidak seperti yang dulu-dulu. Sekarang mereka tidak diberi teh manis serta kue-kue. Kini cangkir mereka hanya berisi pasir. Mereka harus berpura-pura, seolah-olah mereka minum teh manis. Padahal hanya cangkir berisi pasir.

Seminggu kemudian ada perubahan yang amat besar. Eliza dititipkan pada sebuah pertanian. Tak lama kemudian, kakak-kakaknya diadukan kepada raja. Mereka diadukan oleh permaisuri. Dikatakan, bahwa mereka telah berbuat yang buruk-buruk. Raja menjadi murka. la tak mau menghiraukan mereka lagi.

“Pergilah kalian dari sini!” kata permaisuri jahat itu.

“Terbanglah ke dunia yang lebar. Uruslah dirimu sendiri. Kalian akan menjadi burung-burung yang besar. Tetapi tak dapat bersuara.”

Tetapi bagaimana pun jeleknya permaisuri itu menyihir, anak-anak raja itu tidak menjadi seburuk itu. Mereka menjadi sebelas ekor burung undan yang indah. Dengan teriakan yang ganjil mereka melompat terbang. Mereka melesat ke udara melalui jendela istana. Mereka terbang tinggi. Melewati kota, parit dan hutan-hutan.

Pagi-pagi buta, mereka sampai di pertanian, tempat Eliza di­titipkan. Mereka terbang berputar-putar di atasnya. Tetapi tak seorang pun melihatnya. Terpaksalah mereka meneruskan perjalanan. Terbang jauh tinggi di awan.

Eliza yang malang tinggal di pertanian. Kamarnya sangat sederhana. la bermain hanya dengan daun-daunan. Mainan lain, ia tidak punya, la membuat lubang kecil pada sehelai daun. Sambil memicingkan mata yang sebelah, diterawangkannya lubang daun itu ke matahari. Dengan demikian, seolah-olah ia melihat mata kakak-kakaknya. la teringat, dulu pipinya selalu dibelai-belai oleh kakak-kakaknya. Kini hanya matahari yang membelainya.

Hari berganti hari. Waktu lewat berlalu. Angin yang lewat di antara pohon mawar berbisik.

“Siapakah yang lebih cantik daripada bunga-bunga mawarmu?”

Maka bunga-bunga mawar itu tentu menjawab, “Tentu saja Eliza!”

Tiap Minggu pagi bibi petani selalu duduk membaca kitab sembahyangan di pintu depan.

Maka angin selalu bertanya kepada kitab itu, “Siapakah yang lebih suci daripadamu?

Kitab sembahyangan itu selalu menjawab, “Tentu saja Eliza!”

Lima belas tahun telah lewat. Eliza boleh pulang ke istana Permaisuri melihat, bagaimana cantiknya Eliza sekarang, la menjadi lebih benci lagi. la ingin sekali menyihir Eliza menjadi burung undan. Seperti kakak-kakaknya. Tetapi ia tidak berani. Karena raja ingin sekali berjumpa dengan puterinya.

Pagi-pagi permaisuri masuk ke kamar mandi. Kamar mandi itu amat indah. Terbuat dari batu marmer. Permaisuri itu menangkap tiga ekor katak buduk.

Kepada katak yang pertama ia berkata, “Jika Eliza datang untuk mandi, lompatlah ke atas kepalanya. Buatlah ia lamban seperti engkau.”

Kepada katak kedua ia berkata, “Lompatlah ke wajahnya, agar ia menjadi buruk seperti engkau.”

Kepada katak ketiga ia berkata, “Lompatiah ke dadanya, agar ia menjadi buruk tabiatnya.”

Ketiga katak itu dimasukkan ke dalam bak mandi. Seketika itu pula, airnya berubah menjadi kehijauan. Permaisuri lalu memanggil Eliza, ia disuruh membuka pakaiannya. Kemudian disuruh masuk ke dalam bak mandi. Katak yang pertama segera melompat. la duduk di atas kepala Eliza. Katak yang kedua duduk di atas dahi. Katak yang ketiga duduk di dada. Tetapi Eliza tidak menghiraukannya. Seolah-olah ia tak merasa apa-apa.

Tetapi, tiba-tiba, di atas air terapung tiga helai daun jelatang. Seandainya katak itu tidak beracun, tentu mereka akan berubah menjadi daun mawar. Apalagi jika mereka tidak disuruh oleh permaisuri!

Eliza memang suci murni. Oleh karena itu, pengaruh sihir yang paling jahatpun tak termakan olehnya!

Permaisuri yang jahat melihat kejadian itu. la menjadi amat jengkel. Eliza lalu dilumuri dengan air rendaman mahoni. Seluruh wajah dan kulitnya menjadi berwarna cokelat. Wajah Eliza diberi bedak hitam. Rambutnya disasak awut-awutan. Eliza berganti rupa. Tak seorang pun dapat mengenalnya. Ketika ayahnya, sang raja, melihat rupa Eliza, ia amat terkejut. Buruk amat rupa puterinya.

“Bukan, itu tentu bukan puteriku!” katanya.

Seluruh isi istana pun tidak mengenalnya. Hanya anjing penjaga istana yang tetap mengenalinya. Begitu juga burung-burung walet. Tetapi binatang-binatang tidak masuk hitungan! Mereka tak punya suara untuk ikut menentukan!

Eliza menangis terisak-isak. Hatinya amat sedih. la teringat akan kakak-kakaknya. Mereka telah pergi mengembara. Dengan sedih, Eliza meninggalkan istana. la mengembara tanpa tujuan. la terus berjalan, berjalan. Melalui sawah-ladang. Akhinya ia sampai ke hutan belantara. la tak tahu lagi ke mana harus pergi. Hatinya amat rindu kepada kakak-kakaknya. Mereka pun tentu telah diusir dari istana. Moga-moga saja mereka dapat saling bertemu.

Belum lama Eliza ada di dalam hutan, hari pun menjadi malam. Di sekelilingnya sunyi dan sepi sekali. Untungnya udara tidak dingin.

Eliza menengok ke kanan ke kiri. Terlihat banyak sekali kunang-kunang. Mereka berkelip-kelip kehijauan, seperti bintang-bintang kecil saja. Dengan hati-hati, Eliza menjentik sebatang dahan kecil. Sekelompok kunang-kunang lalu terbang turun, seperti bintang-bintang berpindah. Mereka turun menghampiri Eliza.

Sepanjang malam, Eliza memimpikan kakak-kakaknya. Seolah-olah mereka sedang bermain-main di istana. Kakak-ka­kaknya sedang menulis dengan sibuknya. Mereka menulis dengan pinsil intannya. Tetapi mereka bukan lagi menulis angka-angka nol dan garis-garis bengkok. Bukan! Mereka sedang sibuk menuliskan pengalaman-pengalamannya.

Buku gambar yang biasa dilihat-lihat Eliza kini menjadi hidup. Burung-burungnya terbang ke luar dari halaman buku! Me­reka benyanyi-nyanyi dan melompat-lompat. Orang-orang-nya pun mengajak berbicara! Berceritera dan bercakap-cakap kepada Eliza dan kakak-kakaknya. Tetapi ketika Eliza membalikkan halaman, semua burung dan orang melompat kembali ke dalam buku. Semuanya teratur, semuanya berurutan. Tak ada yang saling berbenturan.

Ketika Eliza bangun, hari sudah siang. la tak dapat melihat matahari. Daun-daun yang sangat lebat menutupinya. Tetapi sinar matahari dapat menerobos di sela-sela daun. Sinarnya amat terang, Eliza harus memicingkan matanya. Di sekelilingnya, yang tampak hanya warna hijau. Burung-burung berlompatan rendah di dahan-dahan. Kadang-kadang hampir menyentuh pundak Eliza.

Tidak seberapa jauh ada sumber air. Sumber air itu berupa sebuah danau kecil. Banyak anak sungai bersumber pada danau itu. Gemericik airnya terdengar nyata oleh Eliza. Tepi danau kecil itu pasirnya amat putih bersih. Beberapa langkah dari tepi, semak-semaknya amat lebat. Pada suatu tempat, seekor rusa menyelusup menguak semak-semak. Eliza berjalan mengikutinya, menuju ke tepi danau. Air danau itu ternyata amat jernih bagaikan kaca. Daun dan semak-semak terbayang nyata. Seperti gambar yang terhampar di atas tanah.

Tiba-tiba Eliza melihat bayangan wajahnya sendiri. la amat terkejut. Wajahnya amat buruk kecokelat-cokelatan! la mencuci tangannya. Tanpa sadar, tangan yang basah itu diusapkan ke wajahnya. Dengan segera warna cokelat itu luntur! Eliza lalu membuka pakaiannya. la masuk ke dalam air untuk mandi. Segera Eliza mengenali dirinya kembali.

Ia telah menjadi bersih dan cantik lagi seperti semula. la lalu minum dari salah satu sumber air. Setelah itu, ia berpakaian lagi. Eliza mulai berjalan lagi. la tak tahu arah tujuan. Wajah kakak-kakaknya terbayang lagi. la yakin, bahwa Tuhan tetap melindunginya. Baik dirinya, maupun kakak-kakaknya.

Belum jauh ia berjalan, ia menemukan sebatang pohon apel hutan. Buahnya lebat, sangat sarat pohon itu. Tuhan rupanya tidak melupakannya. Eliza tidak perlu kelaparan. Sebagai makan siang, ia makan buah apel. Dahan-dahan pohon apel melengkung sarat keberatan buah. Eliza lalu menopangnya agar jangan patah.

Kemudian ia lalu melanjutkan perjalanannya. Sekarang ia sampai pada bagian hutan yang amat lebat. Suasananya sunyi sekali. Tak ada burung seekor pun yang berbunyi. Sinar matahari pun takdapat menembus lebat-nya daun-daun. Eliza merasa, seolah-olah ia di kurung dalam pagar yang sangat rapat. Batang-batang pohonnya pun besar-besar, tinggi-tinggi. Kesepiannya mencekam. Belum pernah ia mengalaminya.

Malam pun tiba. Sepi dan gelap sekali. Kunang-kunang seekor pun tak tampak. Hati Eliza menjadi sedih lagi. la merebahkan diri dengan hati yang berat. Tiba-tiba ia merasa, bahwa pohon-pohon besar itu menguak. Membukakan rimbunan dahan-dahannya. Maka tampaklah langit. Eliza merasa melihat wajah Tuhan. Wajah ramah dan murah hati memandanginya. Malaikat-malaikat kecil terlihat juga. Mereka memandang Eliza dari balik pundak Tuhan.

Ketika ia bangun pagi-pagi, ia tak mengerti. Apakah ia telah mimpi? Ataukah benar-benar terjadi? la lalu melanjutkan perjalanannya. Tak lama kemudian, ia berjumpa dengan seorang nenek-nenek. Nenek-nenek itu membawa sebuah bakul. Penuh berisi buah buni-bunian. la amat baik hati. Eliza diberinya makan buah-buahan itu. Eliza bertanya, apakah nenek pernah melihat sebelas orang putera raja yang lewat di hutan ini.

“Tidak,” jawab nenek itu.

“Aku belum pernah bertemu dengan mereka. Hanya kemarin aku melihat sebelas ekor burung undan. Mereka berenang di sungai. Tak begitu jauh dari sini. Semuanya memakai mahkota emas!”

Nenek itu menunjukkan sebuah jalan. Jalan itu ternyata menuju ke sebuah lereng. Di bawah lereng itu mengalir sebuah sungai. Pada kedua tepinya tumbuh pohon-pohon besar. Dahan-dahannya menjulur rendah di atas air. Beberapa pohon. di antaranya, akar-akarnya timbul dari dalam tanah menjalar-jalar ke tepi sungai.

Eliza mengucapkan selamat berpisah kepada nenek. Ia berjalan sepanjang tepi sungai. Kemudian ia sampai ke suatu pantai. Tempat sungai itu bermuara ke laut.

Eliza berdiri tertegun di pantai. la melihat lautan yang luas. Tetapi, kapal sebuah pun tak tampak olehnya. Bagaimanakah ia kini harus melanjutkan perjalanannya? Ia melihat batu-batu di dekat kakinya. Batu-batu kecil di atas pasir itu halus-halus semuanya. Kebanyakan bulat dan licin. la berpikir, batu-batu itu tentu kasar dan lancip dulunya. Tetapi air laut yang tak kenal lelah itu, dengan tekun mengasahnya. Berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun air itu menggosoknya menjadi licin.

Eliza menjadi sadar. Kalau begitu, ia pun harus berbuat tak kenal lelah.

“Terima kasih atas petunjukmu!” katanya kepada ombak-ombak itu.

la menjadi bertambah yakin. Kelak, pada suatu hari, ia pun tentu akan bertemu dengan kakak-kakaknya. la tak perlu berputus asa. Ia menemukan seberkas ganggang yang terdampar. Pada ganggang itu didapatinya sebelas helai bulu burung undan. Bulu-bulu itu lalu dirangkainya menjadi sebuah buket. Pada bulu-bulu itu terdapat beberapa tetes air. la tak tahu, apakah tetes-tetes itu air mata ataukah embun. Pantai itu sepi. Tetapi Eliza tak menyadarinya. Karena laut itu selalu bergerak berubah-ubah.

Jika ada mega yang pekat sedang lewat, laut itu seolah-olah berkata, “Aku pun dapat berubah menjadi kelam.”

Jika ada angin yang menghembus, ombak-ombak lalu memercikkan buih putih ke atas. Air laut itu selalu berubah. Kadang-kadang hijau kemilau rata. Kadang-kadang putih membuih, melajur berderet-deret. Jika angin sedang reda, sewaktu matahari senja memerah, permukaan laut itu bagaikan daun mawar muda yang lembut.

Senja mendatang. Eliza melihat sebelas ekor burung datang dari laut. Sebelas ekor burung undan, terbang rendah menuju ke pantai. Mereka melayang berurut-urutan. Bagaikan sehelai selendang panjang yang putih melayang di udara. Sebelas ekor burung undan itu memakai mahkota emas semuanya. Eliza menaiki sebuah bukit. la lalu bersembunyi di balik semak-semak. Burung-burung itu melayang turun dekat sekali.

Suara kepakan sayapnya terdengar nyata oleh Eliza. Desiran anginnya pun terasa pula. Tepat ketika matahari bersembunyi di balik laut, bulu-bulu burung undan itu rontok semuanya. Tampaklah sebelas orang anak-anak muda. Sebelas putera raja yang cakap-cakap. Itulah kakak-kakak Eliza!

Eliza menjerit dan lari menghampiri. Dipeluknya kakak-kakaknya. Satu demi satu disebutkan nama kakaknya. Kakak-kakaknya pun amat berbahagia mengenali kembali adiknya yang tersayang. Mereka kini telah menjadi besar-besar dan cakap-cakap. Mereka tertawa dan menangis berganti-ganti! Hatinya teramat gembira dan terharu. Mereka sependapat, bahwa perlakuan ibu tirinya sangat sewenang-wenang.

Kakak yang tertua berceritera, “Kami kakak-beradik, menjadi burung undan pada siang hari. Sepanjang hari itu, kami melayang-layang di udara. Menjelang senja, kami harus turun ke darat. Sebab, begitu matahari terbenam, kami berubah lagi menjadi manusia. Jika kami kemalaman di udara, amatlah berbahayanya! Kami tentu terhempas jatuh mati ke tanah. Jika kami telah berubah menjadi manusia, tentu saja kami tidak dapat terbang lagi! Jadi kami harus selalu menjaga, agar kami berubah menjadi manusia lagi di atas tanah.”

“Kita tidak tinggal di sini. Di seberang laut itu ada sebuah negeri yang bagus. Tetapi letaknya amat jauh. Di antara pantai ini dan negeri itu tak ada pulau sebuah pun. Hanya ada sebuah batu karang di tengah laut. Besarnya tak seberapa. Hanya cukup untuk kita duduk berdesak-desakan. Di batu karang itu­lah kami harus menginap.”

“Jika ombaknya besar, kami menjadi basah semua. Tetapi bagaimana pun, kami berterima kasih kepada Tuhan. la telah bermurah hati memberikan kami batu karang itu. Kami selalu menginap di batu karang itu. Jika tidak ada batu karang itu, apakah jadinya kami ini?”

“Di waktu malam, kami menjadi manusia lagi. Tentu saja tak dapat terbang. Dalam setahun, kami hanya dapat ke mari satu kali saja. Itu pun hanya selama sebelas hari. Lebih lama lagi kami tak berani. Di waktu sebelas hari itu, kami terbang tinggi melalui hutan itu.”

“Dari atas, kami dapat melihat istana. Tanah tumpah darah kita. Kami tetap menyukai segala pohon dan sawah-ladang di sini. Kami selalu bergembira melihat kuda berlari-lari di padang penggembalaan. Tepat seperti pada waktu kami masih kecil. Kami pun selalu teringat nyanyian si tukang arang. Inilah tanah tumpah darah kita. Kita pun telah menemukan engkau!”

“Kami hanya dapat tinggal dua hari lagi di sini. Lusa kami harus berangkat lagi. Terbang kembali ke negeri yang bukan tanah air kami. Tetapi, bagaimanakah kami dapat membawa engkau? Bagaimanakah caranya engkau dapat ikut ke sana? Kami tak mempunyai kapal maupun perahu!”

“Apakah yang dapat aku perbuat untuk membebaskan kalian?” tanya Eliza.

Mereka berunding hampir semalaman. Mereka hanya dapat tidur sebentar-sebentar. Eliza terbangun ketika ia mendengar suara sayap berkepak. Kakak-kakaknya telah berubah menjadi burung undan kembali. Mereka terbang berputar-putar di atas Eliza. Kemudian pergi entah ke mana. Hanya satu yang tinggal menemani Eliza. Kakaknya yang termuda. Mereka berdua tinggal bersama, selama ditinggalkan oleh kakak-kakaknya.

Ketika senja tiba, mereka datang kembali. Matahari segera terbenam. Mereka berubah lagi menjadi manusia.

“Besok kami harus berangkat lagi,” kata kakaknya yang tertua.

“Selama setahun yang mendatang, kami tak berani datang ke mari. Tetapi kami tak dapat meninggalkan Eliza. Beranikah engkau ikut kami, Eliza? Sayap-sayap kami bersama, tentu kuat mengangkat Eliza mengarungi laut.”

“Tentu saja,” jawab Eliza.

“Aku harus ikut.”

Malam itu mereka sibuk membuat semacam keranjang. Mereka menganyamnya dari rotan dan dahan-dahan yang liat. Keranjang itu cukup untuk Eliza. Tempat duduknya selama perjalanan. Menjelang pagi, keranjang itu telah selesai. Eliza lalu tidur di dalamnya. Ketika matahari terbit, mereka berubah menjadi burung undan kembali.

Bersama-sama mereka mengangkat keranjang itu. Masing-masing menggigit seutas tali dengan paruhnya. Tali itu diikatkan pada keranjang itu. Eliza terbangun, ketika mereka sedang melintas di atas laut. Matahari menyinari wajahnya. Salah seorang kakaknya lalu terbang memayunginya. Eliza merasa seperti mimpi saja. Duduk di keranjang, tinggi di antara awan, melintas lautan!

Eliza membetulkan letak duduknya. la merasa sesuatu di dasar keran­jang. Ternyata beberapa buah apel serta seikat ubi manis. Pemberian kakaknya yang termuda. Kakaknya yang paling sayang kepadanya. la tersenyum kepadanya. Menyampaikan rasa terima kasihnya.

Mereka terbang sangat tinggi. Sebuah kapal yang lewat di bawahnya, tampak sebagai seekor burung camar. Burung yang kecapaian. duduk mengaso di atas air. Di belakang mereka ada sebuah awan. Besar bagaikan sebuah gunung. Bayangan mereka jatuh pada awan itu. Nyata dan jelas. Suatu pemandangan yang amat indahnya. Belum pernah Eliza melihatnya. Matahari mulai merangkak tinggi di atasnya. Sekarang bayangan itu tak tampak lagi.

Sepanjang hari, mereka terbang bagaikan anak panah di udara. Tentu saja tidak secepat biasanya. Sebab, sekarang mereka harus membawa adiknya. Lambat laun udara menjadi gelap. Rupa-rupanya akan datang hujan dan angin. Senja pun sudah mendekat. Eliza mulai khawatir. la mengamati matahari mulai merendah di barat. Batu karang itu belum tampak juga! Eliza merasa, kakak-kakaknya menambah tenaga. Kepakan sayapnya terasa makin keras.

“Ya, Tuhan,” pikir Eliza.

“Semuanya adalah kesalahanku! Kakak-kakak tak dapat terbang cepat karena aku.”

Andaikata malam tiba, kakak-kakaknya berubah menjadi manusia. Tentulah mereka akan jatuh ke laut! Eliza segera berdoa. la mohon bantuan dari Tuhan. Ah! Batu karang itu belum tampak juga. Awan dan mendung mulai mendekat. Angin kencang pun mulai terasa meramalkan datangnya angina rebut. Sewaktu-waktu, kilat dan petir mulai menyambar-nyambar.

Ketika matahari telah tinggi, Eliza melihat sebuah gunung. Terbentang bagaikan melayang di awan. Pada batu-batu gunung itu, tampak bercahaya tumpukan-tumpukan es. Di antara batu dan es tampak berdiri sebuah puri. Besar dan luas, dikelilingi oleh pohon-pohon palem.

Di sana-sini pun terlihat bunga-bunga yang indah. Eliza menanyakan, apakah puri itulah yang menjadi tujuan mereka. Tetapi kakak-kakaknya menggelengkan kepala. Mereka berkata, itulah puri kediaman Peri Fatamorgana. Puri itu selalu berubah-ubah, bahkan kadang-kadang menghilang. Tak ada seorang pun berani datang mengunjungi.

Eliza terpesona. la tak henti-hentinya memandangi puri itu. Tiba-tiba saja puri itu lenyap. Runtuh hilang bersama kebun dan bunganya. Sebagai gantinya, kini muncul dua puluh buah menara gereja. Semuanya persis sama bentuknya. Tak ada yang berbeda satu pun. Eliza merasa, seolah-olah ia mendengar suara organ. Lambat dan sayup-sayup.

Sebenarnya itu adalah suara ombak laut. Kini gereja-gereja itu berubah lagi. Mereka berganti rupa menjadi suatu armada kapal layer. Tenang dan anggun berlayar di bawah mereka. Tiba-tiba saja kapal-kapal itu berubah rupa menjadi awan! Melayang-layang bagaikan kabut di bawah mereka. Itulah puri Peri Fatamorgana! la selalu menyesatkan orang.

Kini matahari tepat ada pada cakrawala. Eliza gemetar seluruh tubuhnya. Tepat pada waktu itu, kakak-kakaknya menukik ke bawah. Cepat sekali mereka menukik. Eliza menjadi takut, khawatir jatuh ke laut. Tetapi segera ia merasa bahwa mereka mulai melayang. Matahari sudah setengahnya masuk ke laut. Eliza merasa lega tiba-tiba. Tepat di bawahnya terlihatlah batu karang itu. Kecil amat tampaknya batu itu. Hanya sebesar punggung kerbau.

Matahari tak terlihat lagi. Tepat pada waktu itu mereka mendarat. Eliza baru tersadar, ketika ia telah berdiri di atas karang. Kakak-kakaknya berdiri mengelilinginya. Mereka berjaga, agar Eliza jangan jatuh ke dalam laut. Betapa tidak! Ombak telah mulai membesar. Memukul-mukul batu karang memecah, airnya muncrat membasahi mereka semua. Kadang-kadang langit menjadi terang benderang. Petir dan kilat nyambar sabung-menyabung. Mereka harus saling berpegangan dengan erat. Jika tidak demikian, mereka tentu jatuh ke dalam laut.

Ketika matahari terbit, mereka berangkat lagi. Kembali mereka terbang mengarungi angkasa. Laut masih penuh dengan ombak-ombak. Dilihat dari udara, buih ombak itu indah sekali. Seperti berjuta-juta angsa liar menari berderet di atas air.

Akhirnya tujuan mereka tampak di kejauhan. Gunung-gunung yang biru amat indah kelihatannya. Demikian juga hutan-hutan cemara dan kota-kotanya. Menjelang senja, ketika matahari telah rendah, mereka tiba di kaki sebuah bukit. Mereka menuju ke sebuah gua. Mulut gua itu rapat ditumbuhi tanaman menjalar. Gua itu amat dalam. Dinding-dindingnya penuh lumut. Amat indah, seperti permadani dinding yang hijau.

Kakaknya yang termuda berkata, “Nah, aku ingin tahu. Nanti malam engkau akan bermimpi apa!”

Eliza menjawab, “Ah, moga-moga saja! Moga-moga aku bermimpi, bagaimana menemukan cara untuk membebaskan Kakak-kakak dari pengaruh sihir. Aku selalu berpikir tentang hal itu.”

Dengan segera, ia pun mulai berdoa. Bahkan ketika ia telah tertidur, ia masih berdoa juga. la bermimpi, seolah-olah ia ter­bang. Tinggi, menuju ke puri Peri Fatamorgana. Peri itu datang menjemput sendiri, cantik dan cemerlang. Tetapi di dalam hati, Eliza merasa heran juga. Sepintas melihat, wajahnya seperti wajah nenek di hutan dulu. Nenek yang memberinya buah-buahan. Ya, yang berceritera tentang burung undan.

Peri itu berkata, “Kakak-kakakmu dapat kaubebaskan. Tetapi apakah engkau berani melakukan? Apakah engkau bisa bersabar? Ingat, air laut itu cair dan lunak. Lebih lunak dari kedua tanganmu. Tetapi air laut itu amat sabar. la sanggup mengasah batu menjadi licin dan halus. Laut memang amat sabar. Tetapi ia tidak dapat merasakan sakit dan pedih seperti tanganmu. Laut itu tidak mempunyai hati. la tidak merasakan suka dan duka seperti engkau.”

“Lihatlah daun-daun jelatang yang kupegang ini. Di sekitar sini ia banyak sekali. la juga tumbuh di kuburan. Hanya batang-batang jelatang ini yang dapat menolongmu. Cabutilah batang-batang jelatang. Tetapi ingat tanganmu akan melepuh gatal terbakar. Injak-injaklah jelatang itu. Engkau akan mendapatkan serat-seratnya. Tentu saja kakimu juga akan melepuh.”

“Buatlah serat jelatang sebanya-banyaknya. Tenunlah menjadi baju untuk kakak-kakakmu. Mereka segera menjelma menjadi manusia. Bebas dari pengaruh sihir.”

Sejenak kemudian Peri itu berkata lagi, “Tetapi engkau harus selalu ingat. Mulai sejak engkau mencabut batang jelatang, hingga selesai pekerjaan itu, engkau harus membisu. Engkau tidak boleh bercakap sepatah kata pun. Biarpun itu berlangsung bertahun-tahun. Sepatah kata saja keluar dari mulutmu, kakak-kakakmu akan mati tertusuk badik. Mati hidup kakak-kakakmu, tergantung dari engkau seorang!”

Peri itu lalu mengusap tangan Eliza dengan sebatang jelatang. Tangan itu segera terasa sakit dan melepuh. Eliza tersentak bangun. Ternyata hari telah menjadi pagi. Di dekat ia tidur, tumbuh sebatang pohon jelatang. Persis sama dengan yang dipegang Peri Fatamorgana. Eliza segera berlutut. la memanjatkan doa syukur kepada Tuhan.

la lalu keluar dari dalam gua. la segera akan memulai tugasnya! Membebaskan kakak-kakaknya. Kebetulan kakak-kakaknya telah terbang. Entah ke mana. Dengan tangannya, ia mencabuti pohon-pohon jelatang. Tangannya terasa sakit dan gatal. Melepuh-lepuh seperti terbakar. Tetapi ia menahan segala rasa sakit. Demi untuk membebaskan kakak-kakaknya, ia harus sanggup memikul segala derita. Batang-batang jelatang itu diinjak-injaknya, sehingga keluar serat-seratnya. Serat-serat itu dianyamnya untuk membuat baju.

Sore hari, kakak-kakaknya datang, Mereka terkejut sekali, karena Eliza telah menjadi bisu! Mereka mengira, adiknya tentu terkena sihir ibu tirinya yang jahat! Ketika mereka melihat kaki dan tangan Eliza, mereka tersentak sadar. Mereka sekarang mengerti semuanya.

Mereka sangat terharu akan kesetiaan adiknya. Demi untuk kebebasan diri mereka, adiknya mau menderita. Mereka menangis sambil mengusap-usap tangan dan kaki Eliza. Tetapi, air mata yang menetes ke luka Eliza, menghilangkan rasa sakitnya. Luka-luka itu hilang lenyap tersapu air mata!

Semalam suntuk Eliza terus bekerja. la belum mau berhenti, sebelum kakak-kakaknya terbebas dari pengaruh sihir. Siang berikutnya, kakak-kakaknya terbang sebagai burung undan. Tetapi Eliza terus bekerja seorang diri. Waktu dirasanya sangat cepat berlalu. la telah menyelesaikan sebuah baju. Segera ia memulai baju berikutnya.

Tiba-tiba terdengar suara sangkala perburuan. Eliza segera pula mendengar salak anjing. Dengan penuh ketakutan, E!za lari masuk ke dalam gua. Batang-batang jelatang itu diikatnya menjadi satu. la lalu duduk di atas tumpukan itu.

Sekonyong-konyong datang seekor anjing pemburu. Anjing itu keluar dengan melompat dari semak-semak. Besar dan galak. Segera pula menyusul anjing-anjing lainnya. Mereka menyalak-nyalak. Suaranya memekakkan. Mereka hanya menyalak-nyalak sebentar, lalu membalik pergi. Tetapi tak lama kemudian mereka datang lagi. Diikuti para pemburu. Di antara para pemburu itu terdapat baginda raja. Cakap dan masih muda. Melihat Eliza, raja itu turun dari kudanya. la lalu datang mendekat. la belum pernah melihat seorang puteri secantik itu.

la bertanya, “Bagaimana engkau sampai dapat datang di sini?”

Tetapi Eliza hanya menggeleng-gelengkan kepala. la masih tetap berpantang untuk bercakap-cakap. Tangannya pun disembunyikan di balik punggungnya. la tidak mau, bahwa raja itu tahu akan segala penderitaannya.

“Ikutlah aku,” kata raja itu.

“Jika budimu sebaik wajahmu engkau akan kuberi pakaian. Terbuat dari sutera dan beledu. Mungkin juga sebuah mahkota untuk kepalamu!”

Kemudian Eliza dinaikkan ke atas kudanya. Eliza menangis dan meronta-ronta.

Tetapi raja itu berkata, “Sudah, diamlah. Aku hanya mau menolongmu. Aku hanya ingin membuat engkau berbahagia. Nanti pada suatu ketika engkau tentu akan berterima kasih kepadaku.”

Raja itu lalu memacu kudanya. Kuda itu segera berlari cepat menerobos semak-semak. Semua pemburu mengiringinya dari belakang. Ketika matahari akan terbenam, mereka hampir sampai ke kota. Kota itu indah, besar, penuh dengan kubah-kubah. Raja itu lalu membawa Eliza masuk ke dalam istananya. Istana itu amat indah, bertiang marmar tinggi-tinggi. Halamannya luas, dihiasi dengan banyak air mancur. Dinding-dinding kamarnya berhiaskan lukisan-lukisan.

Tetapi Eliza tidak ingin melihat segala keindahan itu. Hatinya amat sedih. la pun menangis. Para dayang dan inang pengasuh datang untuk membantunya. la menerima saja dibantu memakai baju. la tak membantah sepatah kata pun. Segala pakaian itu indah-indah belaka. Penuh dengan hiasan ratna mutu manikam. Tangannya yang terbakar jelatang, dipakaikan sarung tangan yang lunak dan indah.

Ketika Eliza telah lengkap berpakaian, ia tegak berdiri di tengah ruangan. Semua isi istana serentak berlutut menghormat. Mereka semua kagum dan terpesona akan kecantikan Eliza. Raja yang masih muda itu, memilih Eliza untuk permaisurinya. Tetapi perdana menteri tidak sependapat. la mengira, bahwa Eliza adalah seorang tukang sihir. la tentu telah menyihir raja dengan kecantikannya!

Tetapi raja itu tak mau mendengarkan pendapat menteri itu. la segera memerintahkan musik istana memainkan lagu-lagunya. Jamuan pun segera dihidangkan. Gadis-gadis yang cantik menari-nari di sekelilingnya. Setelah itu, Eliza lalu dituntun berkeliling. Melihat-lihat taman yang indah-indah, ke luar masuk ruangan-ruangan yang bagus-bagus. Tetapi Eliza hanya diam saja. Mulutnya tetap bungkam. Matanya tak pernah memancarkan sinar kegirangan!

Kemudian raja itu menuntun Eliza masuk ke dalam kamar yang kecil. Tepat di sebelah kamar tidur Eliza. Kamar yang kecil itu amat mungil. Dihiasi dengan permadani yang serba hijau. Tampaknya hampir menyerupai benar dengan gua tempat tinggal bersama kakak-kakaknya. Di lantai terletak seikat serat jelatang. Seorang pemburu yang baik hati tak lupa membawakannya dari dalam gua. Di dinding tergantung baju dari serat jelatang. Itulah satu-satunya baju untuk kakak-kakaknya yang telah selesai dibuatnya.

Raja berkata, “Di sini engkau tentu akan kerasan. Berbuatlah sesuka hatimu. Engkau tentu teringat akan gua tempat tinggalmu. Di kamar ini engkau akan bebas meneruskan kebiasaanmu. Buatlah baju serat jelatang seperti dulu-dulu.”

Ketika Eliza melihat perlengkapan kamar itu, ia tersenyum. Tetapi juga hanya tersenyum! Sepatah pun tak keluar dari mu­lutnya! Pipinya yang pucat mulai menjadi merah lagi. Kini ia dapat meneruskan pekerjaannya. Untuk membebaskan kakak-kakaknya. Dengan penuh rasa terima kasih, diciumnya tangan raja.

Raja pun menjadi sangat bergirang hati. la segera memerintahkan membunyikan semua lonceng gereja. Sebagai tanda, bahwa segera akan dimulai pesta perkawinan. Anak perempuan yang bisu dari dalam gua, akan dinobatkan menjadi permaisuri!

Sekali lagi, perdana menteri membisikkan kata-kata tidak setuju. Tetapi baginda tak mau mendengarkannya. Bahkan baginda lalu memerintahkan, agar perdana menteri sendiri yang meletakkan mahkota ke atas kepala permaisuri! Perdana menteri menjadi sangat kesal. la menekankan mahkota itu keras sekali ke kepala permaisuri. Tentu saja Eliza merasa sakit. Tetapi ia tetap membungkam tidak mengaduh. la tetap ingat akan pantangannya. Sepatah kata saja, akan membawa kematian bagi kakak-kakaknya.

Hanya matanya yang bersinar-sinar. Memancarkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada raja. Hatinya ingin benar menyampaikan isi hatinya. la ingin menceriterakan, mengapa ia harus membisu. Tetapi ia tetap harus membisu. la harus dapat menyelesaikan tugasnya. Membuat baju serat jelatang untuk kakak-kakaknya.

Setiap malam, ia menyelinap masuk ke kamar kerjanya. Dengan tekun ia menenun. Menyelesaikan baju-baju itu. Sebuah demi sebuah. Ketika ia memulai baju yang ketujuh, persediaan seratnya telah habis.

Pohon jelatang banyak tumbuh di kuburan. Di dekat istana ada kuburan. Di sana pun banyak pohon jelatang. la tahu benar akan hal itu. Tetapi ia harus mencabutnya sendiri! Bagaimana caranya ia dapat melakukan itu?

la berpikir, “Mencabut jelatang itu bukan apa-apa. Rasa sakit aku sudah terbiasa. Demi kakak-kakakku, aku harus memberanikan diri. Tuhan tentu akan melindungiku, agar tidak ketahuan orang-orang istana.”

Malam itu bulan purnama. Dengan hati-hati ia menyelinap ke luar dari istana. Hatinya takut. Seolah-olah ia melakukan perbuatan terlarang. Dengan cepat ia menyusuri tembok istana.

la ke luar melalui jalan-jalan yang sepi. Akhirnya ia sampai juga ke kuburan. Pada salah satu batu nisan, dilihatnya se­kumpulan nenek-nenek. Mereka tentulah sekumpulan tukang sihir. Eliza harus lewat di dekatnya. Tukang-tukang sihir itu mengikuti dengan matanya. Mereka penuh dengan kecurigaan. Eliza memanjatkan doa di dalam hati. la segera mencabuti batang-batang jeiatang. Setelah dirasa cukup, cepat-cepat ia pulang ke istana.

Tetapi, bagaimana pun ia berhati-hatinya, seseorang telah melihatnya. Orang itu ialah perdana menteri sendiri. la memang sangat benci kepada Eliza. Setiap malam ia selalu berjaga-jaga. Sekarahg ia yakin, bahwa Eliza memang seorang tukang sihir. ia telah melihatnya sendiri. la merasa benar. Eliza, si tukang sihir, tentu telah menyihir raja dan seisi istana.

Pagi harinya, perdana menteri datang kepada raja, la menceriterakan apa yang dilihatnya semalam. Katanya, ia takut akan apa yang terjadi kelak. Bersemangat benar perdana menteri itu berceritera, hingga, potret-potret nenek moyang raja yang tergantung di dinding, semuanya menggelengkan kepala.

Seolah-olah mereka berkata, “Bohong! Jangan percaya! Eliza tidak salah!”

Perdana menteri juga melihat potret-potret menggelengkan kepaka. Tetapi ia mengira, bahwa mereka sedang menyesali segala dosanya. Raja itu mulai ragu-ragu. Pada kedua pipinya menetes dua butir air mata. Mulai malam itu, raja selalu berpura-pura tidur. Beberapa malam raja itu melihat Eliza selalu bangun meninggalkan kamar tidur. la lalu mengikutinya.

Makin hari wajah raja makin muram. Eliza pun menyadari. Tetapi ia tidak mengerti apa sebabnya. la memang mulai merasa khawatir. Tetapi kesetiaannya kepada kakak-kakaknya tidak boleh dikorbankan! la menjadi amat bersedih hati. Air matanya bercucuran. Jatuh berbutir-butir ke atas permadani. Bersinar-sinar bagaikan intan berlian.

Sementara itu, Eliza telah hampir selesai. Hanya tinggal sebuah baju lagi untuk kakaknya yang termuda. Tetapi persediaan serat jelatang telah habis lagi. Sekali lagi ia harus pergi ke kuburan. Sekali saja, cukup untuk menyelesaikan baju kakaknya. la harus mencabut jelatang itu. Tetapi ia amat takut. Perjalanan malam itu amat mengerikan. la amat takut kepada sekumpulan tukang sihir, yang duduk-duduk di atas batu nisan.

Eliza pergi juga! Perdana menteri bersama raja, diam-diam mengikutinya. Mereka melihat Eliza memasuki pintu kuburan. Mereka pun melihat rombongan tukang sihir. Dengan seketika raja memalingkan kepalanya. la tak mau melihat lebih lanjut. Kini ia tahu semua itu. la menjadi yakin akan perkataan perdana menteri. la yakin, bahwa Eliza adalah anggota rombongan tukang sihir di kuburan itu! la segera bergegas pulang ke istana.

Paginya ia mengeluarkan titah, “Biarlah rakyat yang mengadili.”

Rakyat lalu mengadakan sidang pengadilan.

Keputusannya ialah, “Permaisuri harus dihukum mati di atas api!”

Eliza harus segera meninggalkan kamar-kamarnya yang indah. Sekarang ia harus berdiam di dalam kamar tahanan. Dingin dan gelap. Kasur dan bantal ia tidak mendapat. Sebagai gantinya, ia harus tidur di atas tumpukan jelatangnya.

Tetapi itulah harapan satu-satunya. Itulah hiburan satu-satunya! Baju-baju serat jelatang itulah yang dibelanya mati-matian. Sambil menunggu pelaksanaan hukumannya, ia tekun meneruskan pekerjaannya. la pun selalu berdoa kepada Tuhan. Memohon pertolonganNya.

Di luar tembok penjara, ia mendengar rakyat mengejeknya. Mereka menyanyikan lagu-lagu sindiran. Tak seorang pun yang mau menegurnya dengan ramah. Menjelang suatu sore, Eliza mendengar kepakan sayap burung undan. Kakaknya yang termuda telah menemukan tempat tahanannya. Eliza tersedu-sedu karena girangnya. Mungkin ini adalah malam terakhir ia dapat bertemu dengan kakaknya. Tetapi bagaimana pun pekerjaannya hampir selesai. Kakak-kakaknya pun telah menemukannya!

Di kamar tahanan itu, Eliza kadang-kadang mendapat tamu. Tamu-tamu itu adalah tikus-tikus kecil. Mereka suka membantu Eliza. Mereka menyeret-nyeret serat jelatang ke dekat Eliza. Pada malam itu, seekor burung bulbul bernyanyi untuknya. Sepanjang malam ia bernyanyi di dekat jendela. Burung itu ingin mengatakan, agar Eliza jangan berputus asa.

Malam telah berlalu. Fajar segera menyingsing. Kesebelas kakak-kakaknya datang ke gerbang istana. Mereka memohon untuk menghadap raja. Tetapi para perwira melarangnya. Raja masih tidur. Tak seorang pun boleh membangunkannya. Kakak-kakak Eliza memohon dan meratap. Bahkan mengancam. Tetapi sia-sia.

Karena ribut-ribut itu, para penjaga datang mendekat. Bahkan raja sendiri datang juga. la bertanya, mengapa pagi-pagi buta ada ribut-ribut. Pada waktu itu juga matahari tersembul di atas cakrawala. Kesebelas kakak-kakak Eliza lenyap dari pandangan. Sebaliknya, kini tampak sebelas ekor burung undan. Indah bermahkota terbang melintas di atas istana. Seluruh rakyat negeri berduyun-duyun ke lapangan di luar kota. Mereka ingin menyaksikan pembakaran seorang tukang sihir.

Permaisuri dinaikkan ke atas sebuah kereta reot. Penariknya seekor kuda tua yang pincang. Permaisuri memakai baju dari karung. Rambutnya yang bagus terurai sampai ke pundaknya. Kedua belah pipinya pucat sebagai kertas. Bibirnya komat-kamit, tidak bersuara. Tetapi kedua tangannya sibuk menganyam serabut jelatang! Pada lantai kereta, di dekat kakinya, bertumpuk sepuluh buah baju serat jelatang.

Rakyat negeri itu berteriak-teriak, “Lihat tukang sihir itu! la berkomat-kamit seperti berdoa. Tetapi di tangannya bukan kitab doa-doa yang dipegangnya! Yang dipegang itu tentu alat-alat sihir. Rebut saja serat-serat itu. Cabik-cabik saja baju itu!”

Mereka berdesakan datang mendekat. Mereka hendak merebut baju serat jelatang. Itulah baju serat jelatang yang terakhir. Mereka berdesak-desak mengerumuni kereta. Tiba-tiba datanglah sebelas ekor burung undan dari udara. Mereka hinggap di sekeliling kereta. Mereka melindungi adiknya. Siapa yang berani mendekat, tentu dilabrak dengan sayap-sayap besar dan kuat itu. Orang-orang terkejut semua. Mereka mundur ketakutan.

Beberapa orang bahkan berbisik, “Ini tentu suatu pertanda dari surga! Permaisuri itu tentu tidak bersalah!”

Tetapi mereka hanya berbisik-bisik, tidak berani mengatakan keras-keras. Tiba-tiba kereta dihentikan. Seorang hakim datang. la mau menangkap permaisuri. Pada waktu itu juga, Eliza mengerudungkan baju-baju serat jelatang kepada kakak-kakaknya. Lenyaplah burung-burung undan itu. Kini berdiri sebelas orang putera raja di sekeliling kereta. Mereka masih muda dan tampan-tampan. Hanya yang termuda masih mempunyai sebuah sayap seperti malaikat! Hal itu terjadi, karena lengan bajunya memang masih kurang satu. Eliza tak sempat lagi menyelesaikannya.

“Kini sudah tiba saatnya aku boleh berbicara. Aku tidak ber­salah!”

Kakaknya yang tertua menyambung, “Benar! Ia tidak ber­salah!”

Kemudian ia berceritera panjang lebar. Apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan mereka. Sementara ia berbicara, udara menjadi semerbak wangi. Tumpukan kayu, yang sedianya untuk membakar permaisuri, ternyata banyak yang mulai bersemi! Kayu-kayu itu tumbuh berakar dan bercabang. Dari.setiap cabang, mekarlah bunga-bunga mawar yang harum baunya. Tumpukan kayu itu telah berubah menjadi serumpun pohon mawar.

Di tengah-tengah, tumbuh sebatang yang menjulang paling tinggi. Pada puncaknya ada sekuntum mawar yang besar dan indah. Seperti sebuah bintang pada pohon natal! Raja lalu memetik bunga yang paling indah itu. Disematkannya bunga itu pada dada Eliza. Rasa damai dan bahagia segera menyelinap ke sanubari Eliza.

Tanpa ada yang membunyikan, lonceng-lonceng gereja mulai berdentang. Udara penuh dengan burung-burung beraneka warna. Mereka bernyanyi semerdu-merdunya. Iring-iringan pesakitan itu, kini berubah menjadi iring-iringan pengantin. Iring-iringan yang paling indah di seluruh dunia. Iring-iringan itu segera dibelokkan ke istana.

No comments:

Post a Comment