Tuesday, December 31, 2013

Pesta Pelanduk



Pesta Pelanduk


Pada suatu hari Pelanduk berkata kepada ke­dua temannya, yaitu Kera dan Kura-kura, “Mari kita berpesta di kebun pisang di tepi Sungai Merah.”

Kedua temannya setuju dan mereka berangkat ke sana bersama-sama.

Sewaktu sampai di kebun pi­sang, Kera berkata, “Hanya aku saja yang dapat memanjat. Aku akan memanjat pohon pisang itu dan melemparkan pisangnya ke bawah. Masing-masing mendapat bagian yang sama.”

Pelanduk pun membagi tiga tumpukan.

Sambil melemparkan pisang, Kera berteriak, “Satu tumpuk pisang ini untuk Pelanduk, satu tumpuk pisang yang itu untuk Kura-kura, sedang tumpukan yang ini untukku sendiri.”

Teriakan Kera terlalu keras, sehingga orang-orang kampung berdatangan untuk melihat siapa yang sedang mencuri pisang di dusun mereka.

Pelanduk dan Kera dapat berlari cepat. Mereka sempat melarikan diri sebelum dapat dilihat orang kampung. Tetapi Kura-kura ketinggalan.

“Lihat!” teriak Pak Ahmad, kepala kampung itu.

“Itulah pencuri yang selalu mencuri di dusun kita. Mari kita bunuh dia.”

“Hore!” orang-orang kampung bersorak.

“Bu­nuh saja pencurinya. Ia pencuri yang jahat. Lihat, betapa banyak pisang kita yang dicurinya. Jika ia tidak kita tangkap, sudah tentu buah-buahan kita akan habis dicurinya.”

Kura-kura sangat sakit hati.

“Kalian semua keliru!” kata kura-kura membantah.

“Kalian mengatakan aku ini pencuri, tetapi apakah kalian tidak melihat tubuhku yang kecil ini? Apalagi kakiku ti­dak dapat untuk memanjat. Jadi, mungkinkah aku memanjat pohon pisang itu lalu memetik buahnya?”

“Kami punya mata untuk melihat kalau desa kami kecurian,” kata Pak Ahmad.

“Mata kami juga dapat melihat kalau ada pisang kami ditumpuk,

siap untuk dibawa pergi. Kalau yang mencuri bu-kan kamu, mengapa kamu ada di situ?”

Kura-kura terdiam. la tidak mau menjelekkan kawan-kawannya, meski pun mereka telah meninggalkannya.

“Jadi kamu tidak punya kata-kata lagi untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah!” kata Pak Ahmad.

“Kamu akan mati.”

Pak Ahmad mengeluarkan parangnya.

“Kamu akan kucincang sampai lumat dan tidak dapat dilihat.”

Pelanduk dan Kera sebetulnya tidak meninggalkan kawan mereka.

“Kita akan menyelamatkan Kura-kura dengan tipu daya,” kata Pelanduk.

Me­reka pun kembali ke kampung dan pura-pura menjadi penonton.

Ketika Pelanduk melihat Pak Ahmad menghunus parang, ia pun segera lari ke tempat Pak Ah­mad dan berteriak dengan suara nyaring, “Berhenti! Kalau tidak, sesuatu yang tidak diinginkan akan menimpa kita semua.”

Pelanduk meneruskan kata-katanya, “Kalau seekor cacing dipotong, cacing itu akan menjadi dua ekor. Begitu pula dengan tiap-tiap bagian tubuh binatang jahat ini. Jika Kura-kura ini dicincang, maka akan terjadi Kura-kura banyak sekali dan tak terhitung jumlahnya.”

Pak Ahmad menjatuhkan parangnya dengan perasaan takut.

“Aku tidak memikirkan hal itu,” kata Pak Ahmad mengakui.

“Kalau begitu, kita bakar saja Kura-kura itu. la tentu tidak akan berkembang biak.”

“Apa, membakar Kura-kura ini?” tanya Pelan­duk dengan cemas.

“Itu akan lebih berbahaya. Baunya akan dibawa angin dan kawan-kawannya akan datang ke sini untuk membalas dendam.”

“Kalau begitu, enaknya diapakan binatang ini?” kata Pak Ahmad.

“Binatang ini harus mati! Kalau tidak, kita tidak akan dapat menyimpan buah-buahan kita. Tetapi bagaimana kita akan membunuhnya dengan tidak mengambil resiko?”

Pada waktu orang-orang kampung sedang asyik membicarakan cara apakah yang paling baik untuk membunuh Kura-kura, Pelanduk memberi isyarat kepada Kera. Kera datang dan Pelanduk rnembisikkan sesuatu ke telinganya.

Kemudian Kera itu pun berpura-pura mencari sesuatu di tanah. Sedikit demi sedikit Kera itu mendekati Kura-kura.

Setelah dekat, Kera itu berbisik, “Peganglah ekorku erat-erat.”

Kemudian Kura-kura memegang ekor Kera de­ngan jalan menggigitnya.

Kera berlari dengan menjerit, “Tolong! Tolong! Kura-kura menggigit ekorku! Ekorku akan putus! Tolong! Tolong!”

Semua orang berlari mengejar kera dan berusaha keras untuk menolongnya, tetapi gagal. Kura-kura pasti akan selamat asalkan ia tidak membuka mulutnya. Tetapi Kura-kura itu malah tertawa dan terlepas dari ekor Kera!

Kera marah sekali karena kebodohan Kura-kura.

Kera itu berkata, “Kura-kura itu bodoh sekali, aku tidak akan menolongnya lagi.”

Ia pun memanjat pohon di dekat tempat itu dan tidak menghiraukan lagi nasib Kura-kura.

“Bedebah,” kata Pak Ahmad dengan napas terengah-engah ketika sampai ke tempat Kura-kura.

“Kamu kira kamu dapat lari?” Pak Ahmad mengangkat kakinya untuk memijak Kura-kura itu, tetapi Pelanduk segera menghalangi

“Jangan! Jangan!” kata Pelanduk melarang.

“Itu berbahaya. Pecahan kulit Kura-kura akan menusuk kakimu dan rasanya sakit sekali. Apakah kamu belum mendengar bahwa Gajah memijak Kura-kura dan sekarang tidak dapat berjalan?”

Pak Ahmad mundur dengan segera. la berterima kasih kepada Pelanduk karena memberi tahu tepat pada waktunya.

“Kamu memang makhluk yang paling bijaksa­na di dunia ini. Kamu telah menyelamatkan kami dari bahaya hari ini,” kata Pak Ahmad dengan penuh rasa terima kasih.

Pelanduk tahu kalau Kura-kura pandai berenang, tetapi para penduduk kampung itu tidak mengetahuinya.

Pelanduk pun berkata, “Buanglah Kura-kura ini ke dalam sungai dan kalian tidak usah mengawatirkan apa-apa lagi.”

Pada saat penduduk kampung mendengar hal ini, mereka bersorak-sorai, “Bagus! Bagus! Pendapat yang bijaksana! Buang saja Kura-kura itu ke dalam sungai dan biarkan ia mati lemas!”

Pak Ahmad mengangkat Kura-kura itu, lalu dibuang ke dalam sungai.

“Kamu binatang jahanam,” teriaknya.

“Kamu tidak akan dapat lagi mencuri di kampung kami ataupun memakan buah-buahan kami.”

Air memercik di tempat jatuhnya Kura-kura. Lalu Kura-kura menyelam ke dalam air, dan lenyap dari pandangan. Dengan se-nang hati Kura-kura itu pulang ke rumahnya.

Kemudian penduduk kampung itu mengisi sebuah bakul penuh dengan pisang yang paling enak. Bakul penuh berisi pisang itu diberikan kepada Pelanduk. Akhirnya Pelanduk, Kura-kura, dan Kera berpesta juga.

No comments:

Post a Comment