Monday, December 30, 2013

Peter Si Pendusta



Peter Si Pendusta



Pernah ada seorang pemuda yang suka sekali berdusta. Tiap kali ia mulai bicara, ia berdusta. Ayahnya sangat marah dan sering menghukumnya, tetapi si pendusta itu tidak merubah sikapnya. Ia masih terus sering berdusta.

Pada suatu hari ayahnya berkata kepadanya, "Ini uang, pergilah kau dari sini!"

Peter, si pemuda itu, dengan senang menerima uang itu dan pergi merantau.

Ketika ia melalui dusun di mana ia tinggal, anak-anak yang melihatnya mengejeknya, "Peter, pendusta."

Tetapi ia tidak menghiraukannya.

Dalam perantauan itu sampailah ia di sebuah kota besar dan indah. Di jalan ia berjumpa dengan seorang tuan dan ia menanyakan tempat penginapan. Tuan yang baik hati itu membawanya pulang ke rumahnya.

Di tengah jalan, mereka sampa pada satu menara gereja yang tinggi sekali. Peter si pendusta berhenti dan mengangkat kepalanya memandang menara yang tinggi itu.

Lalu tuan itu berkata, "Tentu kau heran. Mungkin kau belum pernah melihat menara setinggi ini!"

Tetapi Peter hanya mendengus dan menjawab, "Di dusun kami menara gereja jauh lebih tinggi. Ayam jago yang ada di puncaknya dapat sampai ke langit dan ia dapat memakan bintang-bintang di situ."

Mendengar kata-kata Peter, tuan itu langsung menjadi marah,Tidak mungkin ada menara gereja setinggi itu!" ujarnya.

"Apa yang aku bilang tadi itu betul." Peter berkata lagi.

"Pernah kakek saya harus mengecat ayam jago itu dengan cat emas. waktu ia bekerja di atas menara, tiba-tiba martilnya jatuh. Ketika martil itu sampai ke tanah, besinya telah berkarat dan gagang kayunya telah membusuk."

"Huh!" Tuan itu menjawab dan ia makin marah lalu pergi, meninggalkan Peter sendirian.

Hilanglah kesempatan untuk bermalam di tempat yang baik. Lain kalinya lagi Peter si pendusta, menginap di rumah seroang petani. Isteri petani itu baru memanggang kue yang amat besar.

Ia bertanya pada Peter, "Apakah ibumu juga suka memanggang kue sebesar ini?"

"Mengapa tidak," Peter segera menjawab.

"Kalau ibuku memanggang kue, tiga orang pembantu tidak dapat menggesernya, begitu besar kue itu!"

"Omong kosong," ujar isteri petani itu dan ia merasa kesal.

"Tidak mungkin ada kue sebesar itu."

"Sungguh benar perkataanku," Peter menyambung.

"Pernah terjadi, waktu dipanggang, pinggir kuenya hangus. Kami harus memotong bagian yang hangus itu dengan sabit. Dan potongan kue yang hangus itu cukup untuk makanan babi-babi selama 14 hari."

"Kalau begitu, kau tentu tidak suka kue saya yang begini kecil, makan saja roti keras ini dan kemudian pergilah cepat. Tidur saja di lumbung di atas rumput kering!" kata isteri petani itu.

Kemudian isteri petani itu memotong-motong kue yang besar, harum dan lezat, dan membagikannya pada semua orang di rumah. Hanya Peter si pendusta, terpaksa menggigit jari.

Lain hari lagi, Peter menjadi pembantu pada penggiling gandum. Pada suatu pagi, isteri penggiling gandum itu memerlukan kol dan ia menyuruh pembantunya memmetik sebuah kol di kebun sayur. Kol itu sangat besar.

Isteri penggiling gandum itu sangat senang melihatnya dan berkata, "Pernahkah kau melihat kol sebesar ini?"

"Mengapa tidak," Peter langsung menjawab.

"Ibukui mempunyai kebun sayuran yang lebih luas dari kebun di sini. Di kebun itu hanya tumbuh satu buah kol. Kol itu luar biasa besarnya. Daun-daunnya sampai tergantung pada pagar kebun!"

"Ah, omong kosong," teriak isteri penggiling gandum itu dan ia merasa tersinggung.

"Tidak mungkin ada kol sebesar itu."

"Sungguh benar perkataan saya," kata Peter, si pendusta.

"Luar biasa besarnya kol itu! Di bawah daun-daunnya banyak kelana-kelana berteduh. Bayangkan! Dua puluh keluarga berteduh di situ. Mereka tidak usah memasang kemah-kemah. Daun-daun kol itu cukup besar untuk melindungi mereka terhadap hujan."

"Kalau begitu, kau tentu tidak suka makan sop buatanku ini dengan kol yang begini kecil dan sosis dan makaroni di dalamnya," ujar isteri penggiling gandum itu.

Isteri penggiling gandum itu lalu membuka pintu rumahnya dan mengusir Peter pendusta itu. Kebetulan di luar hujan lebat. Tidak ada daun kol raksasa di mana Peter si pendusta dapat berlindung.

Dengan basah kuyup dan lapar ia berjalan keliling-keliling. Ia ingat sop kol yang sedap dan panas di dapur umah penggiling gandum. Dan ia merasa menyesal.

No comments:

Post a Comment