Saturday, November 9, 2013

JANGAN TUNGGU PINTU ITU BICARA



JANGAN TUNGGU PINTU ITU BICARA


Di kegelapan malam, seseorang berdoa dan bermunajat. Bibirnya dipulas rasa manisnya ucapan “Allah, Allah, Allah…” Keadaan ruhani ini sangat mengusik setan, hingga setan mendatangi dan membisiknya, “Hai orang tak tahu malu dan keras kepala. Engkau tahu kalau Allah tidak mengucapkan Labbaika (membalas sapaanmu) dan tidak menjawab permohonan dan rintihanmu. Mengapa kau masih saja memaksakan diri ?”

Bisikan setan ini membuat hatinya hancur dan lirih. Dia pun meninggalkan doa dan tertidur. Setelah lelap, dia bermimpi melihat Nabi Khidir berada di taman hijau yang rindang, Khidir bertanya, “Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak mengucapkan Allah, Allah, Allah…lagi? Apa kau berputus asa dalam berdoa dan bermunajat ?”

“Setiap kali kuucapkan Allah, Allah, Allah,” kata sang pendoa, “Aku tak pernah mendengar jawaban labbaika. Aku takut kalau aku telah terusir dari rumah indah itu; karena itulah aku berputus asa.” Nabi Khidir berkata, “Hai pemunajat yang miskin nan papa! Allah berkata kepadaku, Apakah kau harus mendengar jawaban Allah dari pintu dan dinding ? Allah, Allah, Allah… bermakna bahwa daya tarik Allah menyerumu kearah-Nya. Ini merupakan Labbaik Allah kepadamu…”

“Hai pendoa yang mulia! Allah telah memberi kedudukan kepada Fir’aun dan menjaganya dari segala penyakit supaya dia tak mendengar suara napas kesialan dan rintihannya sendiri. Beristiqamah, sadar, dan mantapkanlah langkahmu di jalan. Ketahuilah bahwa ucapan, rintihan dan ratapanmu di istana Allah ini adalah bukti bahwa engkau telah disambut dan diterima oleh-Nya.”

Suatu Hari Al-Junaid


Suatu hari Junaid Al-Baghdadi sakit mata. Ia diberitahu oleh seorang tabib, jika ingin cepat sembuh jangan sampai matanya terkena air.

Ketika tabib itu pergi, ia nekad berwudhu membasuh mukanya untuk shalat kemudian tidur. Anehnya, sakit matanya malah menjadi sembuh. Saat itu terdengar suara “Junaid menjadi sembuh matanya kerana ia lebih ridha kepada-Ku”. Seandainya ahli neraka minta kepada-Ku dengan semangat Junaid niscaya Aku luluskan permintaannya.” Kata suara itu.

Tabib yang melihat mata Junaid sembuh itu menjadi keheranan, “Apa yang telah engkau lakukan?”

“Aku telah membasuh muka dan mataku kemudian shalat”, ujarnya.”

Tabib itu memang beragama Nasrani, dan setelah melihat peristiwa itu, dia beriman. “Itu obat dari Tuhan yang menciptakan sakit itu. Dia pulalah yang menciptakan obatnya. Aku ini sebenarnya yang sakit mata hatiku, dan Junaidlah tabibnya.”

Membasuh Debu Maksiat


Abu Yazid Al-Bustami adalah seorang sufi terkenal di Irak. Di akhir hayatnya, Abu Yazid maju ke mihrab untuk shalat dengan baju dan kopiahnya yang sengaja dia pakai terbalik. Di mihrab, sebelum shalat, dia bermunajat, “Ya Allah, aku tidak membanggakan zuhud yang telah kuupayakan selama hidupku, shalat yang kulakukan sepanjang malam, puasa yang telah kujalankan selama hidupku, dan aku tidak menonjolkan diriku karena telah beberapa kali aku khatam Al-Quran. Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman ajaib yang telah kulihat, doa yang telah kupanjatkan, dan betapa rapat hubunganku dengan-Mu. Engkau pun mengetahui aku tidak mungkin membanggakan segala sesuatu yang telah kulakukan itu, Semua yang kukatakan ini bukanlah untuk memamerkan diri atau meminta kepercayaan dari-Mu. Semua ini kukatakan kepada-Mu lantaran aku malu atas segala perbuatanku. Engkau telah menumpahkan rahmat-Mu sampai aku dapat mengenal diriku sendiri. Semuanya tidak berarti, anggaplah tidak pernah terjadi. Aku adalah orang Persia yang berusaha selama tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih dalam kejahilan. Dari padang pasir aku datang sambil berseru-seru, ‘Tangri!Tangri!. baru sekarang inilah aku dapat memutuskan ikat pinggang ini. Baru sekarang inilah aku dapat melangkah ke dalam kehidupan Islam. Baru sekarang inilah aku dapat menggerakkan lidah untuk mengucapkan syahadat. Segala yang telah Engkau perbuat tidak bisa dipertanyakan. Engkau tidak menerima seseorang karena kepatuhannya dan Engkau tidak menolaknya hanya karena pembangkangannya. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Atas setiap perbuatanku yang tidak berkenan di sisi-Mu, aku memohon ampunan-Mu. Basuhlah debu maksiat dalam diriku karena aku juga telah membasuh debu prasangka mematuhi-Mu.”

Tubuh yang Menggelembung di Neraka


Syaikh Bahai adalah seorang Ruhaniawan Islam abad ke-15 Masehi yang lahir di Jabal Amil, Lebanon Selatan. Dalam Kasykul, sebuah kitab akhlak, dia mengutip cerita ini, “Suatu saat di pinggiran Kota Basrah Irak, seorang yang tenar dengan keburukannya meninggal dunia. Istrinya lalu berusaha mencari pedesa setempat untuk memandikan, mengafani, dan menguburkan jasad suaminya ini sesuai dengan cara Islam. Tapi tak ada yang mau mengulurkan tangan. Semua orang tahu betapa bejatnya si mayat saat masih hidup. Ini waktunya dendam terbalaskan. Tak tahu harus bagaimana, perempuan ini akhirnya menyewa gerobak untuk mengangkut jenazah itu ke masjid desa. Dia masih punya harapan ada yang sudi membacakan doa atau menshalatkan jenazah suaminya. Tapi lagi-lagi tak ada yang peduli, lalu, dia meminta pemilik gerobak membawa jenazah ke padang pasir. Tekadnya sudah bulat: dia akan tetap menguburkan suaminya meski tak dimandikan, dikafankan, atau dishalati.

Di padang pasir, janda itu terkejut mendapati seorang ulama yang siap membantu. Ulama itu memandikan, mengafani jenazah tersebut. Dia bahkan menyuruh murid-muridnya yang juga hadir di padang pasir itu untuk segera mengabarkan kepada penduduk desa bahwa sang mayit telah dimandikan dan dishalatkan. Banyak yang heran. Sebagian bahkan segera bergegas menemui sang abid yang masih berdiri di samping jenazah. Mereka ingin tahu alasan di balik keputusan memandikan dan mengafani seorang pendosa seperti suami janda itu.

“Semalam”, kata sang ulama, “Aku bermimpi mendapat perintah menguburkan mayat ini. Dalam mimpiku, almarhum disebut sebagai orang yang telah bertobat dan mendapat ampunan Allah.”

Lebih banyak lagi orang yang kaget. Sebagian mulai bertanya-tanya kebaikan apa kiranya yang telah diperbuat almarhum semasa hidupnya.

“Sejauh yang aku tahu,” kata sang janda saat didesak orang banyak, “Suamiku adalah tukang mabuk dan gemar bersenang-senang. Tapi, dia punya tiga kebiasaan baik. Pertama, jika dia terbangun di waktu subuh, dia biasa berwudhu, mandi, mengenakan pakaian suci dan shalat subuh. Kedua, saban hari dia selalu mempunyai waktu untuk berderma kepada yatim piatu. Dia tidak pernah mau makan kecuali ditemani dua atau tiga anak yatim dan dia biasa berbaik hati kepada mereka melebihi kebaikannya kepada anak-anaknya sendiri. Ketiga, jika dia sekali-kali bangun tengah malam, dia biasa berdoa begini, “Tuhanku! Mungkinkah tubuhku ini membesar sedemikian rupa sehingga memenuhi seluruh neraka supaya tiada tersisa lagi tempat bagi makhluk lain di sana. Junjunganku! Aku rasanya masih bisa menahan siksa neraka-Mu, tapi aku pasti tidak sanggup melihat penderitaan makhluk-makhluk lain yang tersiksa dalam neraka-Mu.”

Orang menangis sesegukan mendegar penuturan itu. “Sungguh,” kata sang ulama, “kita beruntung telah bersama-sama mendirikan shalat bagi pengasih anak-anak yatim dan manusia berhati lembut sepertinya.” Pemakaman segera dilakukan setelahnya. Orang berlomba-lomba menurunkan jenazah ke lubang dan menguburkannya dengan khidmat.

No comments:

Post a Comment