Friday, February 28, 2014

Mahasiswa UCEC Tembus Pasar Dunia dengan Furnitur Daur Ulang



Mahasiswa UCEC Tembus Pasar Dunia dengan Furnitur Daur Ulang


Semua berawal dari proyek iseng, tetapi kini  mengantarkan Miela Indarto dan Priscillia Karlinda, dua orang mahasiswi Universitas Ciputra Entrepreneurship Center jurusan Interior and Architecture di Surabaya ini, menjadi pebisnis muda andal.

Awalnya mereka mendapatkan sebuah tawaran untuk mendesain dari teman. Keduanya pun mengobrol santai dan berniat untuk bekerjasama menerima tawaran bisnis yang menjanjikan tersebut.

Tantangan pertama yang mereka harus lalui ialah masalah anggaran. “Waduh, kalau sudah ketemu  masalah budget itu susah,” ujarnya Miela Indarto yang akrab disapa Lala dalam sebuah talkshow Pelatihan Kewirausahaan di Bank Indonesia (3/9/2012).

Ia mengaku klien mau menghendaki barang yang bagus tetapi dengan kualitas maksimal. “Kita ditekan terus untuk bisa menghasilkan produk yang ok tanpa membuat anggaran bengkak,” kata Lala. Ia mencontohkan, jika patokan biaya desain dari Himpunan Desainer Indonesia (HDI) itu minimal Rp 75.000 per meter persegi, ia dan rekannya harus bekerja keras memutar otak menemukan cara bagaimana agar bisa menghasilkan desain yang ongkosnya di bawah harga standar tersebut.
Keduanya bisa saja menolak tawaran pertama itu tetapi memutuskan untuk mengambilnya sebagai tantangan. “Kami ingin ini menjadikan ini sebagai pengisi portofolio kami. Menerima tawaran ini juga membuat kami bisa berlatih bekerja keras sebagai entrepreneur,” terang Lala menjelaskan alasannya menerima tawaran yang sulit tersebut.

Dari menerima tawaran kerja yang menantang itu, Lala mengakui ia bisa belajar banyak tentang cara melobi klien. Semua itu tidak bisa dipelajari di ruang kuliah. “Pertama kali deal sama klien itu kita lega sekali,” kenangnya.

Dari proyek pertama itu, kemudian mereka berdua mendapatkan proyek-proyek berikutnya. Mereka pun merambah menjadi konsultan.
Perfecto, produk furnitur inovatif dari bahan kayu bekas peti kemas adalah hasil kerja keras keduanya yang berawal dari tugas mata kuliah. “Jadi sebenarnya kita tidak ada target untuk bisa sampai pameran di luar negeri. Kami hanya fokus untuk mengerjakan tugas kuliah saja,” tutur wanita dengan gaya bicara yang ceplas ceplos khas Surabaya ini.

Awalnya mereka diajak dosen untuk berkreasi membuat produk yang baru dengan menggunakan bahan bekas. Dan diputuskan untuk memakai material peti kemas.
Untuk sampai pada tampilan dan desain yang seperti sekarang, diperlukan sejumlah upaya penyempurnaan. “Kami tidak langsung bisa menghasilkan produk yang sebagus sekarang,” kata Lala. Mereka harus bersusah payah berpameran, meminta masukan dari berbagai pihak yang bersedia memberikan saran dan kritik. “Berinteraksi langsung dengan klien dan pelanggan itu penting untuk bisa mendapatkan produk yang sesuai selera dan keinginan mereka,” ujarnya panjang lebar.
Keduanya tercatat pernah mengikuti 100% Shanghai Great Expo 2011 yang lalu berkat bantuan dari kepala jurusan Interior and Architecture UCEC. Produk yang mereka pamerkan berupa furnitur dari bahan peti kemas yang menurut Lala dikerjakan dengan maksimal meski itu mulanya cuma tugas kuliah. Mengusung konsep desain hijau alias green design, produk mereka lolos karena desainnya yang relatif lebih ringkas untuk dibawa-bawa dan fleksibel, serta ringan. Tak heran, produk itu terjual laris selama pameran. Bahkan salah satu pembelinya berasal dari kota Da Lian yang berada di ujung utara negeri tirai bambu. Ini mengesankan karena Shanghai berada di pesisir selatan yang amat jauh.

Dari pameran di Cina itulah mereka mendapatkan kesempatan untuk mengecap pengalaman baru dalam dunia bisnis di lingkup internasional. Dari sana mereka mempelajari caranya mengadakan pameran dengan profesional, berunding dengan pihak lain mengenai penentuan harga jual, dan aspek lain yang masih berhubungan dengan sikap dan prilaku yang ideal dalam berbisnis. (*AP)

No comments:

Post a Comment