Monday, February 24, 2014

Sugianto Tandio, Pelopor Plastik Ramah Lingkungan



Sugianto Tandio, Pelopor Plastik Ramah Lingkungan



Plastik ditengarai menjadi penyebab rusaknya lingkungan. Hal tersebut menjadi bahan renungan bagi Sugianto Tandio yang telah berbisnis kantong plastik sejak dekade 1970-an. Dia memelopori teknologi Oxium dan Ecoplas dalam pembuatan kantong plastik. Dua teknologi tersebut mengubah asumsi bahwa kantong plastik merupakan musuh lingkungan. Sugianto bertekad memproduksi kantong plastik yang ramah lingkungan atau yang disebut degradable plastic.


Sugianto menjelaskan bahwa teknologi Oxium dan Ecoplas tersebut diterapkan pada tahap produksi biji plastik (polyethylene). Alumnus pascasarjana The University of North Dakota itu menceritakan awal mula dirinya menggeluti bisnis kantong plastik ramah lingkungan . Sugianto menuturkan, semula dirinya tidak terlalu menghiraukan dampak masa depan melimpahnya produksi kantong plastik. Diperkirakan, dalam setahun, di negeri ini diproduksi kantong plastik hingga ratusan ribu ton. ”Bayangkan, kantong itu hancur sampai seribu tahun,” tuturnya seperti dikutip dari Padang Ekspres, baru-baru ini.

Berbekal kekhawatiran tersebut, dia lantas mengamati kondisi lingkungan di sekitar. Sekitar sepuluh tahun lalu, dia lalu mengelilingi aliran Sungai Citarum. Mata Sugianto terbelalak saat itu ketika melihat sebagian permukaan sungai tertutup sampah plastik.

Menurut pria 47 tahun tersebut, plastik merupakan turunan dari minyak, sedangkan minyak terbuat dari plankton. ”Jika dirunut, plastik itu kan barang organik,” jelasnya.

Apa pun bentuknya, Sugianto menyebut kantong plastik itu musuh lingkungan. Untuk bisa menghancurkan plastik, mikroba butuh proses oksidasi. Pada kantong plastik konvensional yang sering kita peroleh ketika berbelanja di pasar tradisional, proses oksidasi ideal berjalan sekitar seribu tahun.

Dampak bahaya kantong plastik adalah saluran air di sungai yang tersumbat. Sama dengan di darat, kantong plastik di dalam atau permukaan air tidak mudah hancur. Dari potensi-potensi dampak tersebut, akhirnya Sugianto yang saat itu mencari duit dari usaha membuat kantong plastik, berpikir untuk masa depan lingkungan. Akhirnya, dia menghabiskan waktu sekitar delapan tahun untuk melakukan riset.

Dia menjelaskan, waktu itu di Amerika ada teknologi pembuatan kantong plastik berbahan jagung. Dia menyebutkan, teknologi tersebut memang cukup efektif menciptakan kantong plastik yang mudah hancur. Dia memperkirakan, selisih ongkos membuat kantong plastik berbahan jagung dengan bahan murni bijih plastik mencapai 300 persen. Selisih tersebut, menurut Sugianto, terlalu tinggi. Akhirnya, dia menemukan teknologi Oxium dan Ecoplas untuk mengatasi dampak buruk kantong plastik. Dua teknologi tersebut sudah dipatenkan.

Dia menuturkan, pada dasarnya teknologi Oxium adalah memberikan campuran bahan pembuat biji plastik. Dalam pembuatan biji plastik, Sugianto memberikan campuran bahan aditif. Dengan penambahan bahan tersebut, dia mengklaim proses oksidasi pada kantong plastik bisa dipercepat. Setelah ditambah bahan aditif tersebut, kantong plastik yang semula baru terurai setelah seribu tahun, bisa dipercepat hanya dalam kurun dua tahun.

Pengembangan selanjutnya adalah teknologi Ecoplas. Dalam teknologi itu, Sugianto mencampur bahan pembuat biji plastik dengan tepung ketela pohon. Dalam persentase tertentu, kantong plastik yang berbahan ketela pohon itu bisa hancur hanya dalam waktu sekitar dua bulan. Dia menyatakan, pembuatan kantong plastik dengan bahan tepung ketela itu bisa berdampak sosial. Yaitu, di kawasan pedesaan, geliat orang untuk menanam ketela bisa meningkat. Selain itu, bisa membuka lapangan kerja baru.

Dengan inovasi tersebut, Tirta Marta mendapat penghargaan dari Pemprov DKI Jakarta. Setelah hampir menguasai market perusahaan ritel di Indonesia, Sugianto ingin merambah pasar tradisional. Kapasitas produksi yang mencapai 3.000 ton per bulan untuk Oxium dan 500 ton per bulan untuk Ecoplas siap ditingkatkan untuk memenuhi permintaan di pasar tradisional. PT Tirta Marta juga menggandeng 12 perusahaan pembuat kantong plastik untuk menerapkan dua sistem ramah lingkungan itu.

Sugianto menyebutkan, kantong plastik hitam yang beredar di pasar-pasar tradisional merupakan hasil daur ulang berkali-kali. ”Kondisi plastik sangat jelek. Harus diperbaiki,” tegasnya.

Dengan upaya itu, diharapkan ancaman bencana karena kantong plastik di negeri ini bisa dicegah.Selain itu, Sugianto berharap pemerintah lebih getol dalam mengedukasi masyarakat. Sebagian besar masyarakat yang masih menggunakan kantong plastik konvensional harus diedukasi untuk mengelola sampah supaya tidak menjadi musuh lingkungan.

No comments:

Post a Comment